35

2K 134 27
                                        

Saat ini, waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, makan malam telah berlalu dan sudah saatnya semua penghuni rumah untuk kembali beristirahat. tapi berbeda dengan yang lainnya, pria paruh baya itu malah berdiri diambang pintu pembatas ruangan belakang dan halaman belakang.

berjalan sedikit dengan sebelah tangan memegang segelas kopi yang baru saja di buatnya.

"kenapa belum tidur?" ellion mendongak lalu tersenyum "lagi memikirkan sesuatu?"

ellion hanya bisa menyandarkan badannya pada kursi taman yang dihadapannya ada kolam ikan.

"sheva membatalkan pertunangan kami" tuan arnanda terdiam yang membuat ellion menatap kedepan  "saya tidak tau kenapa, tapi itu menyakiti saya, om"

tuan arnanda mengambil duduk disamping pria berdarah italia itu "jadi kamu akan menyerah?" tanyanya penasaran? entah tapi satu pertanyaan itu sudah seharusnya dia tanyakan sebagai seorang orang tua dari sang gadis yang berbuat ulah.

"mungkin saya sekarang sedang bingung dengan keputusan yang diambil sepihak oleh sheva, tapi itu bukan alasan saya untuk menyerah pada hubungan kami" pria paruh baya itu tersenyum lalu kembali menyesap rasa kopi panas yang dibuatnya sendiri "saya hanya butuh waktu untuk bisa menggerti sheva"

"ada kalanya takdir tidak berjalan sesuai yang kita inginkan, vadellion! saya senang kamu masih memperjuangkan anak saya, saya harap kamu tetap mendukung apapun keputusan anak saya" ellion menoleh terdiam menatap tuan arnanda yang tersenyum kearah kolam ikan.

"terimakasih" tuan arnanda menoleh menatap ellion yang kini tersenyum "anda benar, saya tidak bisa memaksakan takdir, mungkin saya terlalu terburu-buru! atau mungkin ada hari lain untuk kami bisa melangsungkan pertunangan kami"

dengan tepukan di punggung, pria paruh baya itu tersenyum bangga kepada ellion yang juga kini tersenyum. 

"jam berapa penerbangan kalian?"

"jam 10, saya akan kembali setelah menyelesaikan sedikit urusan saya disini" pria paruh baya itu menatap bingung tapi hanya di balas senyuman oleh ellion.

Ting

Ellion menatap kearah ponsel genggamnya, menatap tuan Arnanda yang terlihat mengangguk setelahnya ellion berpamitan untuk pergi dari sana.

"Halo git?" Ujarnya lalu berjalan masuk kedalam rumah besar yang menurut tuan Arnanda sederhana itu.

sangat merendah, karena rumah itu begitu besar walaupun tidak sebesar mansion abister, tapi tetap saja rumah itu terlihat besar dan juga sangat nyaman.

"Yah" ucapnya saat mendengar penjelasan dari sosok di seberang sana.

Tapi, belum sempat pria itu sampai di kamarnya, langkahnya sudah terhenti saat melihat sheva sudah berdiri di hadapannya.

"El" mata mereka bertemu, mata sheva yang sayu karena sudah lelah menangis bertemu dengan mata tajam vadellion.

"yeah, send them all to my email!"  Ujarnya lalu kembali berjalan menaiki tangga.

Mengabaikan sheva yang kini terdiam di tempatnya setelah melihat tingkah ellion yang mengabaikannya.

"Sakit yah?" Sheva menatap kearah sumber suara yang ternyata adalah ko hendrik.

Pria berkulit putih itu menatapnya dengan tangan yang di masukkan kedalam kantung celananya, tidak ada senyuman dan hanya ada wajah datar disana.

"Koko sudah tau apa yang terjadi antara kamu dan ellion"

"Ellion yang beritahu?" Ko hendrik menggeleng lalu menatap kearah lantai dua yang memperlihatkan sosok ellion sudah menghilang dari balik pintu kamar tamu.

POSESIF (DELSHAN) [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang