13

76 20 2
                                        

Sudah empat hari aku menjadi penghuni kamar rumah sakit ini. Kondisiku sudah mulai membaik walau setiap sore sampai malam masih suka demam dan sakit kepala. Yang terpenting adalah mulutku sudah mulai bisa merasakan rasa makanan dengan benar. Yaa walau masih sensitif dan berujung mual sih.

"Papa nanti ke sini kan, Ma?"

"Iya nanti setelah jemput Aero. Kamu mau titip apa?"

"Sudah boleh makan mecin belum sih, Maa? Ayas mau makan ciki."

"Nggak usah aneh-aneh dulu deh, Kak. Pencernaan kamu belum normal lagi."

Aku menghela nafasku.

"Besok cek darah lagi ya, Kak."

"Hmm."

Perhatian kami yang tadinya fokus menonton televisi, beralih ke pintu ruanganku yang terbuka perlahan. Seseorang dengan topi dan masker melangkah masuk ke dalam ruangan. Dari postur dan matanya aja aku sudah tau siapa orang ini.

"Sore menjelang malam, Tante." ucapnya sambil membuka masker.

"Eeh Jamaikaa. Tante kira siapa abisnya ketutup masker terus cepolannya ketutup topi."

Dia membuka topinya lalu mencium tangan Mama. Kemudian meletakkan tas spunbond bertuliskan nama salah satu restoran ternama.

"Ini aku bawa sedikit makanan buat makan malam, Tan."

"Makasih yaa, Jamaikaa. Repot-repot segala kamu tuh."

"Nggak repot kok Tan tadi sekalian lewat. Kok sendirian, Tan? Om Arga nggak ikut kah?" tanya si demit sambil berjalan mendekat ke arahku.

"Nanti ke sini. Lagi jemput Aero dulu."

Tangannya terulur dan menyentuh dahiku.

"Sudah makan dan minum obat, Za?"

Aku cuma mengangguk. Aneh banget si demit ini tiba-tiba muncul terus melakukan hal yang barusan dia lakukan. But wait, kok aku deg-degkan ya? Macam lagi ditengokin pacar. Ih aku jadi bergidik ngeri.

Pintu ruanganku kembali terbuka. Deva yang muncul pertama kali sambil membawa parsel berisi buah-buahan diikuti Gara di belakangnya.

"Eh halo, Tante. Salam kenal saya Deva managernya Jamaikaa."

"Halo, Deva. Salam kenal yaa."

Setelah Deva dan Mama bersalaman, gantian Gara yang menjabat tangan Mama.

"Saya Gara, Tante. Partnernya Jame di atas panggung."

"Hai, Gara. Makasih yaa sudah jenguk Ayas ke sini. Bawa parsel segala lho."

"Sama-sama, Tante."

"Yas, Mama ke luar dulu ya. Papa sama Aero sudah mau sampai nih katanya. Mama mau ajak makan sekalian di kantin yaa. Jamaikaa ini makanannya Tante bawa yaa."

"Silahkan silahkan, Tante."

"Titip Ayas sebentar yaa."

"Siap, Tante!" jawab tiga laki-laki ini dengan kompak.

Setelah Mama keluar dan menutup pintu, si demit langsung duduk di kursi yang ada di sebelah kiriku. Sedangkan Gara dan Deva duduk di sofa yang ada di sebelah kananku.

"Gimana keadaan lo, Yas?" tanya Gara.

"Alhamdulillah feeling much better nih, Gar."

"Mau makan buah, Yas? Biar gue bukain nih yang dari dalem parsel." kata Deva sambil menunjuk parsel yang ada di depannya.

"Nanti aja, Dev. By the way makasih yaa kalian udah dateng jengukin gue. Soo sorry shootingnya jadi kepending gara-gara gue."

"Bukan gara-gara lo lagi Yas shootingnya kepending. Tapi gara-gara cowo di samping kiri lo tuh." jawab Gara.

Semesta AyasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang