9

100 23 4
                                        

"Mas Gama."

"Hmmm."

Aku melihat ke sekeliling ruangan. Aman. Cuma ada aku dan Mas Gama yang sibuk menatap layar iMacnya.

"Mas, gosip-gosip yang aku denger itu cuma gosip doang kan nggak beneran?" tanyaku dengan suara pelan.

"Gosip yang mana, Ayas?"

"Katanya Mas Gama diem-diem udah punya pacar."

Mas Gama tertawa lalu mengalihkan tatapan dari layar ke arahku. Oh that God damn lesung pipit!

"Kalau benar memangnya kenapaa?"

"Ya aku patah hati dong kalo Mas Gama udah punya pacar."

Tawa Mas Gama semakin kencang. Tangannya lalu terulur dan mengacak rambutku.

"Lucu banget sih, Yas."

Aku mencebikkan bibirku. Ini aku serius padahal bukan lagi ngelucu. Kalau Mas Gama sudah punya pacar, ini menjadi hari patah hatiku.

"Belum belum aku belum punya pacar. Yang dimaksud anak-anak itu kakak sepupuku. Dia telepon minta tolong jemput karena mobilnya mogok di jalan. Karena posisinya dekat dari sini, jadi yaudah aku jemput. Biasalah anak-anak mah kan suka liar isi otaknya."

Mataku langsung berbinar seketika, membuat Mas Gama kembali tertawa.

"Sumpah Yas kamu lucu banget. Kamu tuh tipe-tipe orang yang bisa menjaga lisan tapi tidak bisa bohong dengan ekspresi muka ya." ucapnya setelah tawanya mereda.

Aku cuma nyengir lebar karena apa yang dia ucapkan memang benar. Yaa walaupun kadang-kadang aku juga sering ngegas apalagi kalo ngobrol sama si demit bercepol itu. Ih apa-apaan ini kok tiba-tiba jadi keinget si demit itu.

"Mas Gama, suka sama yang seumuran atau sama yang lebih muda atau malah lebih tua?" tanyaku.

"Nggak pernah lihat-lihat umur sih, Yas. Kalau suka ya suka aja."

"Yes! Aku juga nggak pernah mandang umur. Kalau suka ya suka aja. Kayak aku ke Mas Gama gini." ucapku diakhiri dengan cengiran lebarku.

Mas Gama cuma geleng-geleng kepala. Dia pasti ngiranya aku bercanda, padahal aku beneran suka sama dia loh ini. Kalau ada fans club Gama Ahessa, kupastikan aku yang jadi ketuanya.

---//---

Siang ini, aku dan Kak Sara sedang makan siang di daerah Blok M.

"Yas, lo kan udah lulus nih. Anak broadcasting juga. Mau nggak kalau lo kerja di Bigsmall? Kan masih satu bos yang sama nih yaa."

"Memang bisa, Kak? Yang gue tau kan kalau di production house gitu mah susah masuknya." jawabku lalu meminum es jerukku.

"Ya kalau lo mah pasti bisa lah. Lo kan udah lama di iDea. Mas Askha sama Mas Adry juga udah tau kinerja lo kayak gimana."

"Jujur gue sih memang pengen banget Kak kerja di PH gitu. Cuma di iDea juga kan salah satu cita-cita gue selain kerja di PH. Kalau gue di Bigsmall, gue masih bisa nyambi di iDea juga nggak sih, Kak??" tanyaku dengan nada sedih. Karena walau Bigsmall adalah cita-cita terbesarku, tapi aku sudah tumbuh bersama iDea beberapa tahun ini. Jadi berat rasanya kalau harus meninggalkan iDea sepenuhnya. Apalagi kalau berpisah dengan Mas Gama. Eh.

"Ya jelas bisa lah, Yaas. Lo tau sendiri kan gue juga sana-sini antara iDea sama Bigsmall."

Aku langsung sumringah.

"Kalo gitu gue mau, Kak! Lo jadi ordal gue kan ya buat ke Bigsmall." ucapku dengan penuh semangat, membuat Kak Sara tertawa.

"Semangat anak muda yang masih freshgraduate gini memang masih menggebu-gebu yaa." ucapnya sambil tertawa.

Gama Ahessa is calling..

Ponsel Kak Sara yang ada di atas meja berbunyi dan menampilkan nama pujaanku.

"Aksara's here."

"Gue lagi makan sama Ayas di Blok M. Mampir sini dulu aja makan."

"Di tempat biasa. Lo mau gue pesenin apa biar nanti tinggal makan."

"Ok nanti gue pesenin. Take care, Gam."

Kak Sara lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

"Mas Gama pesan apa, Kak? Biar gue aja yang pesanin."

"Ayam dada ekstra sambal ya, Yas. Sama es podeng dan air mineral dingin. Thank you, Ayas."

Aku langsung beranjak memesankan pesanan Mas Gama ke salah satu pelayan.

"Mas Gama dari mana atau mau ke mana emang, Kak?" tanyaku setelah kembali ke meja kami.

"Mau pitching tender katanya sama Mas Adry. Cuma Mas Adry langsung dari Bigsmall."

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Tak lama berselang, makanan dan minuman untuk Mas Gama sudah tersedia di meja. Tapi si empunya masih belum sampai juga.

"Lama amat si Gama nggak nyampe-nyampe. Perasaan dari iDea ke sini nggak jauh-jauh amat."

"Macet di kamar kantor kali, Kak."

Kak Sara lalu tertawa, "iya bener juga ya. Jangan-jangan ketiduran nih anak."

Di iDea memang disediakan beberapa kamar yang bebas dipakai anak-anak sebagai fasilitas penunjang bagi kami yang jam kerjanya tak menentu ini. Baru Kak Sara memegang ponselnya untuk menelepon Mas Gama, orangnya sudah muncul dan langsung duduk di sampingku. Duuuh bikin jantungku ajag-ijig aja deh nih Mas Gama.

"Lama banget lo, Gam."

"Biasa pake bedak sama gincu dulu biar menang tendernya nanti." canda Mas Gama sambil memasukan tangannya ke mangkok berisi air kobokan yang sering disebut infused water sama Mas Gama.

"Kalian tuh nanti sama Ekky juga ya?" tanya Kak Sara sambil fokus menatap layar ponselnya.

"Maybe. Why?" tanya Mas Gama sambil mengunyah makanannya.

"Nih dia WA. Yas nanti kita ke Bigsmall dulu ya jemput Kyza. Bapak moyangnya mau ikut pitching ternyata."

"Okay, Madam! Lama juga gue nggak ketemu Kyza."

"Abis ditinggal Ekky ke Praha kan yang shooting film baru itu. Jadi dia sama Neneknya di Bogor."

"Belum sekolah sih ya Kak jadi masih aman dibawa ke sana tanpa mikirin sekolah."

Kak Sara mengangguk.

"Biasanya dia bakal tantrum kalau lama nggak ketemu sama lo, Ra." ucap Mas Gama.

"Lo nggak tau aja gue video call sama dia udah ngelebihin dosis minum obat tiga kali sehari. Pas libur juga gue melipir bentar ke sana."

"Jadian aja sih lo sama Ekky. Keluarga udah pada kenal, anaknya juga lengket banget sama lo sampe tingkah lakunya plek ketiplek sama lo. Jaman sekarang tuh duda lagi jadi incaran loh, Ra. Apalagi yang modelan Ekky gini. Mateng, mapan, rupawan. Duda idaman itu ibaratnya."

"Lo duluan aja deh, Gam. Kan lo lebih tua dari gue."

Mas Gama berdecih, "cuma selisih setahun macam selisih bertahun-tahun aja lo, Ra. Nggak usah bawa-bawa umur kalo urusan hati mah. Ya kan, Yas?" Mas Gama menoleh dan mengedipkan sebelah matanya padaku.

Duh jantungkuuu..

"Saingan lo berat, Gam." ucap Kak Sara yang tak kumengerti maksudnya.

"Oh ya? Emang siapa?"

"Bisa sih lo bersaing sama dia. Cuma ini berat deh beneran."

"Kalo belum ada kata sah dari penghulu dan saksi mah masih gampang."

Bahas apa sih mereka ini?

"Saingan lo penyanyi terkenal gitu." ucap Kak Sara lagi.

Mas Gama kembali menoleh menghadapku, "memang iya, Yas?"

Hah? Bahas siapa sih ini?



---//---

Alohaaa!
Ide & moodku sedang meluap seputar office romance gini. Jadi aku lagi mau banyak UP cerita ringan tapi kinyis-kinyis ala Ayas ini yaa💕

Semesta AyasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang