Demit bercepol is calling...
Ini sudah panggilannya yang ketiga kali dan masih belum ada keinginanku untuk menjawabnya.
"Dijawab kenapa sih Kak getar-getar terus itu hapenya. Kasian juga yang telepon dikacangin. Nanti kena karma lo, Kak. Giliran telepon orang nggak dijawab-jawab."
Aku melempar bantal kecil ke arah Kyiv yang sedang asyik nonton televisi. Papa sedang mengurus berkas kepulanganku sedangkan Mama menunggu di rumah.
Demit bercepol is calling...
Lagi. Aku menghela nafas sambil menggulirkan jariku untuk menjawab panggilannya.
"Assalamualaikum, Za."
"Wa'alaikumussalam."
"Kamu jadi pulang hari ini?"
"Hmm."
"Jam berapa?"
"Entah."
"Aku beres pemotretan sebentar lagi. Sampai sana mungkin sekitar dua jam lagi. Aku jemput ya?"
"Nggak usah. Ada Papa sama Kyiv kok."
"Yaudah aku sekadar dateng aja nungguin kamu pulang."
"Lo nggak ada kerjaan lain apa?"
"Memang sengaja biar bisa lebih banyak waktu buat kamu."
Aku menghembuskan nafasku dengan sepelan mungkin tapi sepertinya masih tetap terdengar orang lain. Buktinya Kyiv langsung menengok ke arahku.
"Udah ya pokoknya kelar dari sini, aku langsung ke sana. Nungguin sampai kamu pulang. Pasti pulangnya masih nunggu administrasi, obat-obat, dan lepas infus kan? Biasanya cukup lama."
"Nggak usah, Jamaikaa."
Kyiv kembali menengok ke arahku. Kali ini dia menyunggingkan senyum jahilnya.
"Memangnya kenapa sih?"
"Gue nggak mau viral lagi. Yang kemarin aja bikin gue nanti kalau keluar rumah harus pakai masker."
"Siapa yang mengharuskan kayak gitu? Kan nggak ada."
Aku menghela nafasku lagi.
"Udahlah pokoknya lo nggak usah ke sini. Titik!"
Aku langsung memutuskan panggilan itu begitu saja. Bikin tensi darahku naik aja sih dia ini.
"Jadi kayak gini tho bentukannya cewe jual mahal. Sok sok nggak mau, sok sok nggak usah, padahal mah dalam hatinya pasti mau tuuuh."
"Biar aja kualat saking ngeledekin Kakaknya terus."
Kyiv langsung terbahak.
"Ngeri banget bawa-bawa kualat. Lagian kan memang bener sih. Aku liat yaa gimana ekspresi Kakak pas kemarin Kak Jame keluar dari kamar mandi. Sampe nganga kayak begitu." ucapnya lalu kembali tertawa.
Bantal tidurku akhirnya berhasil mendarat dengan sempurna di atas muka adik kesayanganku itu. Strike!
---//---
Rumahku sudah ramai dengan kehadiran keluarga lengkap Bude Gendis begitu aku sampai di rumah. Mereka memelukku bergantian termasuk Mama.
"Akhirnyaa keponakan Bude yang cantik ini pulang juga dari hotel." ucap Bude Gendis.
"Iya nih staycationnya lama banget sih, Yas." sambung Pakde Adam.
"Ditemenin terus sama gebetan soalnya, Pakde." sahut Kyiv sambil terkikik.
