11

84 22 4
                                        

Aku mengerjapkan mataku perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang baru saja masuk ke mataku. Tembok polos berwarna putih gading terpampang lebar di depanku.

"Ah."

Kurasakan sakit disekujur tubuhku dan kulihat ada jarum infus yang sudah terpasang di tangan kiriku.

"Za, kamu sudah sadar?"

Suara itu. Aku lantas menoleh ke samping kananku dan kulihat Jamaikaa yang tampak cukup berantakan.

"Kata dokter kamu kena tipes, Za. Harus dirawat beberapa hari biar kamu bedrest dan benar-benar istirahat. Aku tadi juga sudah telepon Delta dan minta dia buat ngabarin Papa Mama kamu." jelasnya panjang lebar.

"Kok lo di sini? Shootingnya gimana?" tanyaku dengan suara parau.

"Bodo amat sama shooting, Ariza. Kamu pingsan di depan mataku bikin jantungku rasanya mencelos sampai ke kaki. Boro-boro mikirin sekitar apalagi shooting, yang ada di otakku gimana caranya kamu bisa cepat sampai ke rumah sakit." Dia lalu menyugar rambut panjangnya yang kini masih belum dicepol, "For the God's sake, you drive me crazy, Arizaparas."

Baru aku mau membuka mulut, pintu kamarku terbuka. Mama yang muncul pertama kali diikuti Papa di belakangnya.

"Tuh kan Mama bilang juga apa, Ayaaas. Istirahat dulu jangan langsung ke lokasi shooting." omel Mama yang kini sudah berdiri di samping kiriku.

Tangan Papa terulur untuk menyentuh dahiku, "masih demam." ucapnya pelan.

"Kamu juga sih Pa malah ngizinin Ayas kerja udah tau masih sakit. Malah dianterin kerja segala bukannya dilarang." sambung Mama masih dengan nada mengomelnya.

"Anak gadis Papa kan kuat yaa, Yas."

Aku mengangguk cepat.

"Kuat apanya?! Udah jelas-jelas tumbang kayak gini kok kuat?!" suara Mama semakin meninggi.

"Maaaaa." rengekku sambil melirik-lirik ke arah Jamaikaa. Maksudku ngasih kode ke Mama kalau di sini lagi ada orang lain, jadi stop dulu gitu marah-marahnya.

Untungnya Mamaku peka, jadi dia langsung menyadari kode yang kuberikan. Mama langsung berdeham dan memasang wajah ramahnya.

"Ini Jamaikaa ya? Temannya Delta?"

Tangannya langsung terulur di depanku, "Iya, Tante. Perkenalkan saya Jamaikaa." Dia mencium tangan Mama, "bisa panggil Jame juga, Tan." sambungnya.

Dia lalu melakukan hal yang sama pada Papa.

"Kan waktu itu sudah sempat kenalan juga walau cuma sebentar." jawab Papa setelah si demit ini mencium tangannya.

"Oh iya benar saya malah lupa, Om." ujarnya sambil menggaruk belakang kepalanya. Kulihat ada sebuah ikat rambut warna hitam di pergelangan tangan kanannya itu.

"Beneran gondrong ya ternyata rambut kamu. Saya kira nggak sepanjang ini pas waktu itu ketemu. Pas lagi dicepol nggak digerai gini." ucap Papa lagi.

Yaiyalah Pa namanya juga demit bercepol. Jadi pasti keseringan dicepol terus rambutnya. Jame lantas menguncir rambutnya seperti biasa. Dicepol setengah.

"Terima kasih yaa Jamaikaa sudah bawa Ayas ke rumah sakit. Mohon maaf jadi merepotkan dan mengganggu shootingnya yaa."

"It's okay, Tante. Kalaupun tadi Ayas pingsannya nggak di depan saya, saya pun pasti tetap akan lari lebih dulu dan buru-buru bawa Ayas ke rumah sakit. Sama sekali nggak ngerepotin kok, Tante." jawabnya diakhiri dengan senyuman.

"Tapi shootingnya jadi berhenti deh kan." ucap Mama lagi.

"Nggak apa-apa, Tante. Shooting mah bisa fleksibel."

"Kapan-kapan main lagi lah ke rumah. Mampir gitu jangan cuma antar Ayas aja." kali ini Papa yang bersuara, cinta pertamaku itu sudah duduk di sofa yang tak jauh dari brankarku.

Ih apa sih Papa ini. Ngapain juga ngundang si demit ini ke rumah? Macam udah kenal deket aja.

"Siap, Om. Nanti main ke sana kalau Ayas ngizinin."

"Nanti Tante yang bukain pintunya kalau Ayas nggak mau bukain. Tenang aja." Mama ikut bersuara. Membuat si demit bercepol ini tertawa pelan karena jawaban Mama barusan.

Pintu kamarku tiba-tiba kembali terbuka.

"Eh ada Gama jugaaa." seru Mama begitu melihat Mas Gama yang muncul dengan lembaran kertas di tangannya.

Mas Gama langsung menyalami tangan Papa dan Mama.

"Administrasi sudah saya urus ya, Om. Jadi sudah aman." ucap Mas Gama sambil menyerahkan lembaran kertas yang tadi di bawanya ke Papa.

"Info nomer rekening kamu ya, Gam. Nanti Om transfer gantinya."

"Nggak usah, Om. Ada jaminan dari kantor kok. Pokoknya aman."

"Keren juga ya Yas kantor kamu. Jaminan kesehatan rawat inapnya di VIP gini." bisik Mama padaku dengan nada sedikit meledekku. Pasti maksudnya ini yang bayarin Gama, bukan kantor.

"Ih Mama nih."

"Mas Gama, shootingnya bisa ditunda dulu kah sampai lusa? Kalau ada charge denda lokasi, nanti saya yang tanggung nggak apa-apa." ucap laki-laki bercepol yang masih setia berdiri di sebelah kananku.

"Loh kenapa sampai ditunda? Anak-anak masih nunggu di lokasi kok, Mas Jame."

"Saya masih mau di sini nemenin Ariza. Bisa kan kalau shootingnya ditunda dulu sampai lusa, Mas Gama?"

Mas Gama melirikku dari tempat duduknya, seakan meminta penjelasan akan sikap Jame ini. Aku hanya mengedikkan kedua bahuku.

"Coba saya telepon ke tim dulu ya, Mas Jame. Permisi sebentar, Om dan Tante."

Mas Gama langsung keluar ruangan sambil memainkan ponselnya. Sedangkan aku melirik-lirik ke arah Jame yang kini sedang menarik kursi kemudian duduk di sampingku. Tak lama berselang, Mas Gama kembali masuk.

"Aman ya, Mas Jame. Saya sudah info ke tim di lokasi kalau shooting ditunda sampai lusa."

"Thank you, Mas Gama. Info ke saya aja kalau kena dendanya berapa. Saya akan ganti rugi untuk semuanya."

"Santai aja, Mas Jamaikaa."

"Sorry yaa Mas Gama gara-gara aku pingsan, jadi berenti shootingnya. Sampein permintaan maafku juga ke anak-anak yaa, Mas Gama."

Mas Gama berdecak, "No need, Ayas. Siapa sih yang mau sakit dan pingsan di lokasi kerja? Ini kan diluar kuasa kamu. Soo, it's okay." ucapnya sambil mengusap tanganku yang terbebas dari tusukan infus.

"Thank you so much yaa Mas Gama and also Jamaikaa." ucapku tulus sepenuh hati karena mereka berdua sudah sigap membawaku ke rumah sakit ini.

"Anytime, Ayas." jawab Mas Gama sambil menggenggam jari-jariku dan tersenyum dengan manisnya.

Duh kadar gula darahku melonjak tinggi deh nih dikasih suguhan semanis ini.

Mas Gama lantas kembali duduk berdekatan dengan Papa. Sedangkan Jamaikaa yang masih duduk di sebelahku tampak sibuk mengutak-atik ponselnya. Mama lalu mendekatkan wajahnya ke samping wajahku.

"Kamu pilih ditungguin yang mana, Yas? Gama atau Jame?" bisik Mama dengan amat sangat pelan tepat di depan telingaku.

Aku refleks memukul pelan badan Mama yang kini lagi cekikian sambil menutup mulutnya. Resenya nggak berubah dari dulu sampai sekarang. Kalian paham kan sekarang resenya Kyiv itu menurun dari siapa?



---//---

Yaah besok udah Senin lagi aja.
Weekend ke Senin kenapa rasanya cuma sekejap sih?
Selamat menghadapi hari weekdays kembali!
Semangat menjalani hari-hari walau sambil misuh-misuh.

With love,
Aku yang lagi berharap lapak ini ramai juga kayak lapak Papa Mamanya😁💕

Semesta AyasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang