Papa dan Mama akhirnya pulang setelah Jamaikaa Syailendra berhasil meyakinkan mereka jika dia bisa menemaniku di sini. Jadilah aku terjebak bersama si demit bercepol ini. Mas Gama? Dia sudah pamit sejak sore.
"Jame!" suara Mas Delta terdengar seiring dengan sosoknya yang muncul dari pintu ruanganku yang terbuka.
Perasaan yang sakit aku, kenapa malah nama dia yang pertama disebut sih?
"Thank you for your help, Bro!" seru Mas Delta lalu sepasang sahabat sejak SMA ini saling berpelukan singkat.
Si demit ini nggak menjawab, cuma ngangguk sambil senyum doang. Mas Delta langsung memelukku. Kebetulan posisiku sedang duduk bersandar di kasurku.
"How do you feel, adek kesayanganku?"
Mas Delta duduk di kursi yang tadinya diduduki sahabatnya.
"Mual nih, Mas. Kepalaku juga sakit rasanya." jawabku manja.
Kulirik si demit yang masih berdiri di samping Mas Delta duduk.
"Mual beneran mual karena sakitnya atau mual karena ada Jame nih maksudnya?"
Si demit berdecak kencang sedangkan aku berusaha menahan tawaku sekuat tenaga.
"Kali ini mual beneran kok, Maas. Mulutnya rasanya nggak enak. Makan apa aja jadi nggak enak."
"Terus tadi udah makan sama minum obatnya belum?"
Kali ini aku mengangguk.
"Oh iya salam dari Bude, Pakde, sama Mas Cakra. Besok mereka baru nengok ke sini katanya. Mas Cakra masih di Bandung, besok baru pulang terus mau langsung ke sini katanya."
"Mau bilang nggak usah repot-repot, tapi aku malah mau repotin Mas Cakra lagi nih."
"Apa? Brownies dan cheese roll kesukaan kamu?"
Aku langsung mengangguk semangat.
"Tambah batagor gi---"
"Nggak boleh." si demit memotong ucapanku. "Nggak boleh makan yang pedes atau berbumbu pekat dulu kan, Za." sambungnya.
"Nah berarti nggak boleh yang batagor. Udah dua kesukaan kamu ini aja dulu. Nanti Mas Delta bilangin ke Mas Cakra beliin yang banyak."
Aku cuma bisa mencebikkan bibirku sambil melirik malas ke si demit. Padahal kayaknya enak banget makan batagor asli dari Bandung.
"Lagian mulut kamu kan katanya masih nggak enak. Makan apapun nggak ada rasanya. Yang ada nanti malah mual, Za." si demit kembali bersuara.
Dia bisa baca pikiran orang kah?
"Mas Delta temenin aku di sini ya malam ini." ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Lah kan udah ada si Jame nih. Tenang aja di sini ada CCTV jadi aman kamu nggak akan diapa-apain sama dia. Lagipula nggak berani juga dia mau aneh-aneh sama kamu. Takut dia sama Mas Delta."
"Berani nekat sih gue kalau berkaitan sama Ariza. Anjrit sakit, Ta!"
Sikut Mas Delta mendarat sempurna di aset berharga si demit. Membuatku kembali berusaha menahan tawaku. Ponselnya lalu berbunyi. Dia langsung berjalan keluar ruangan setelah melihat layar ponselnya. Setelah pintu ruangan kembali tertutup, Mas Delta merapat ke arahku.
"Kamu nggak tau sih Yas gimana si Jame pas telepon ke Mas Delta." ucapnya dengan suara pelan.
"Emang gimana, Mas?"
"Panik banget. Ngomongnya 200km/jam nggak pake rem. Mas Delta sampe nyuruh dia berenti ngomong dan ulang omongannya dia pelan-pelan dari awal. Beneran suka sama kamu deh dia tuh."
Entah apa yang kini kurasakan. Antara males banget dengernya tapi tak kupungkiri jika ada debaran lain juga di dalam dadaku.
"Gimana ceritanya sih kalian ketemu dan Mas Delta sampai nggak tau??"
"Entah aku juga lupa-lupa inget. Pokoknya udah lama banget lah, Mas."
"Sempat deket?? Dari gimana dia bersikap sama kamu, kayaknya sih dulu kalian beneran deket ya?"
Aku mengangkat kedua bahuku. Baru Mas Delta membuka mulutnya, si demit sudah kembali masuk ke ruanganku.
"Fix gue harus tetep di sini dulu seenggaknya sampai besok entah jam berapa." ucapnya sambil berjalan mendekat ke arahku dan Mas Delta.
"Kok gitu?!"
Mas Delta dan si demit ini kompak menatapku dengan tatapan yang ah entahlah.
"What's wrong, Me?" tanya Mas Delta.
Si demit langsung duduk di atas brankarku, membuatku harus sedikit menggeser posisi kakiku. Dia lantas memberikan ponselnya ke Mas Delta. Ih kan aku jadi kepo.
"Kamu viral, Yas." ucap Mas Delta dengan mata yang masih fokus menatap layar ponsel di tangannya.
"Hah? Viral kenapa? Gara-gara aku tadi jatoh pingsan??"
Mas Delta cuma menggeleng lalu menunjukkan layar ponsel ke arahku.
"Kamu nyium si Jame."
"WHAT?!?"
Tanganku langsung merampas ponsel si demit. Astaghfirullohaladzim yang iya-iya aja sih. Gimana bisa ada foto dan videoku saat tadi bikin kissmark?? Aku lantas membuka kolom komentar dan membaca komentar-komentarnya. Sialan. Kepalaku jadi tambah sakit.
"Nggak mungkin anak-anak Bigsmall sih ini." ucapku sambil mengembalikan ponsel itu ke si empunya.
"Kenapa gitu?"
"Kami ada pakta integritas. Harus jaga kerahasiaan project yang lagi kita kerjain sampai nanti project itu launching."
"Masuk akal juga sih tuh, Me."
"Ada satu lagi." ucap Jame.
Dia lalu memberikan ponselnya ke Mas Delta tetapi langsung aku rebut sebelum benda itu diterima Mas Delta.
"Shit."
Foto Jame dengan rambut berantakan dan muka panik sedang berdiri di depan pintu mobil yang terbuka dan beberapa foto candid lainnya saat dia di rumah sakit. Pasti ini saat tadi dia nganter aku ke sini.
"Untungnya nggak ada keliatan muka kamu sih Za yang di rumah sakit."
"Ya tetep aja yang tadi gue nyium lo keliatan guenya. Ralat. Bukan nyium, tapi cuma bikin cap bibir doang." ucapku dengan kesal.
Kulirik Mas Delta yang lagi terkikik geli. Tanganku jadi refleks mencubit lengannya.
"Ciyee jadi viral." ucap Mas Delta dengan entengnya kemudian menyemburkan tawanya.
Aku ingin mencubitnya lagi tapi kali ini dia berhasil menghindar.
"Mas Delta berisik ih."
Mas Delta langsung menghentikan tawanya tapi masih tetap terkikik geli. Ngeselin.
"Kata Deva mau didiemin aja. Karena percuma mau ditake down, sudah nyebar ke mana-mana."
"Ya nggak bisa gitu dong." sahutku masih dengan nada kesal.
"Kalem Ayas kaleem. Lagi sakit tipes nggak bolek ngegas-ngegas gitu dulu. Coba liat dari perspektif lain. Ini malah bisa jadi ajang promosi lho. Netizen jadi pada penasaran sama adegan itu."
"Mas Delta baca dong komen-komennya. Jari-jari dan mulut netizen tuh mengerikan tau."
"Yang udah terlanjur dibaca ya nggak usah dipikirin. Yang belum dibaca ya nggak usah dibaca-baca. Abaikan aja."
Aku refleks menggerakkan kakiku saking sebalnya. Si demit langsung menatapku tajam karena kakiku jadi nggak sengaja kena dia.
"Kamu lagi tipes aja tetep bisa bar-bar ya, Za."
"Bodo amat, Jamaikaa Syailendra!"
