Part 38 | Ayah Siaga

408 16 4
                                        

Assalamualaikum, yeorobun
Kembali lagi nih sama aku 👋🏻😊

Jangan lupa vote dan komen sebelum membaca ya, sengkuh 🫶🏻☺️

Happy reading!

****

Ujian sudah selesai sejak sebelum kecelakaan itu terjadi. Kini tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Segalanya terasa seperti babak baru dalam hidup Zaid dan Hafidzah. Kehadiran Eliza, putri kecil mereka, telah memberikan warna dan tanggung jawab baru yang sama sekali berbeda.

Pagi itu, Zaid tengah duduk di atas kasur, menyaksikan putrinya yang tertidur pulas di sampingnya. Wajah bayi itu begitu tenang, dengan sesekali tampak mengulum jarinya sendiri. Melihat tingkah lucu itu, Zaid terkekeh kecil sambil perlahan mengambil tangan mungil Eliza dari mulutnya.

"Jangan di taruh sini jarinya, nggak boleh," ucapnya pelan, seolah berbicara langsung kepada bayinya.

Pintu kamar terbuka perlahan. Hafidzah masuk dengan senyum yang merekah, membawa secangkir teh hangat. Ia mendekati tempat tidur dan duduk di sisi Zaid, menatap anak mereka dengan tatapan lembut penuh cinta.

"Eliza masih tidur, Kak?" tanya Hafidzah pelan. 

"Iya, masih. Tidurnya nyenyak banget," jawab Zaid sambil terus mengelus pipi lembut Eliza. Ia tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya.

Hafidzah membenarkan selimut Eliza dengan hati-hati, memastikan tubuh kecil itu tetap hangat. Sementara Zaid masih saja memperhatikan setiap gerakan kecil bayinya.

"Aku masih nggak percaya, lho. Sekarang aku udah jadi ayah," ucap Zaid dengan nada yang penuh haru.

Hafidzah tersenyum kecil. "Aku akan terus belajar jadi ibu yang baik untuk Eliza. Aku nggak akan menyerah, apapun itu."

Hafidzah membelai lembut pipi bayinya, lalu menatap Zaid dengan tatapan penuh keyakinan. "Aku tahu ini nggak mudah, tapi kita berjuang bersama, kan?"

Zaid mengangguk sambil menggenggam tangan Hafidzah. "Iya, kita pasti bisa."

Tak lama kemudian, Zaid mengambil tablet yang tergeletak di atas nakas. Ia membuka grup sekolah yang telah ramai dengan notifikasi pengumuman kelulusan. Setelah beberapa kali menggulir layar, matanya berbinar. Nama Zaid terpampang di daftar lulusan terbaik.

"Sayang, aku lulus! Aku masuk daftar lulusan terbaik!" seru Zaid penuh semangat.

Hafidzah tersenyum lebar, matanya berbinar bangga. "Alhamdulillah, Kak. Aku tahu kamu pasti bisa."

Zaid mendekat dan memeluk Hafidzah erat. Hafidzah mengusap punggung Zaid. Eliza, yang sebelumnya tidur nyenyak, mulai bergerak dan mengeluarkan suara kecil. Tangisan pelan segera menyusul, membuat Zaid dan Hafidzah terdiam sejenak lalu melepaskan pelukannya

"Aku yang gendong," ujar Zaid cepat, mengambil bayi mereka sebelum Hafidzah sempat bergerak.

"Kak, pelan-pelan, ya," ujar Hafidzah sambil tersenyum kecil.

Zaid mengangkat Eliza dengan hati-hati dan mulai menimang-nimangnya. "Hei, Sayang. Kamu tahu nggak? Ayah lulus hari ini," ucapnya lembut.

Bayi itu masih menangis kecil, tetapi gerakan Zaid yang menimang membuatnya mulai tenang. Hafidzah hanya memandang mereka dengan tatapan penuh cinta.

"Sekarang jadwal Eliza check up ya sayang?" tanya Zaid menoleh kepada Hafidzah.

"Iya, Kak."

"Yaudah habis ini siap-siap ke rumah sakit," ucap Zaid yang di angguki Hafidzah.

Z A I D (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang