Part 42 | Kebersamaan

156 8 3
                                        

Assalamualaikum, yeorobun
Kembali lagi nih sama aku 👋🏻😊

Jangan lupa vote dan komen sebelum membaca ya, sengkuh 🫶🏻☺️

Happy reading!

****

Rumah Zaid sore itu tampak lebih ramai dari biasanya. Aroma gorengan hangat dan teh manis memenuhi udara, bercampur tawa kecil yang bersahutan dari ruang tengah dan taman. Sejak pagi, Hafidzah sudah menyiapkan camilan khas untuk acara kumpul-kumpul sederhana ini. Tak ada yang spesial, hanya silaturahmi antar sahabat.

Namun tentu saja, meski semua dekat dan seperti keluarga, pembagian tempat tetap diberlakukan. Teman-teman pria Zaid berkumpul di area taman samping yang pas sekali berhadapan dengan ruang tengah yang terdapat para akhwat mengobrol hangat.

Hafidzah tersenyum senang melihat Zahira tertawa kecil bersama Atika dan Tsamara. Tak lama kemudian, pintu depan diketuk pelan.

"Assalamualaikum," suara lembut menyapa.

"Waalaikumsalam," Hafidzah langsung membuka pintu dan tersenyum lebar. "Kak Dara! Masya Allah, akhirnya dateng juga!"

Dara, dengan balutan gamis pastel dan kerudung senada, tersenyum malu-malu. Di gendongannya, seorang balita laki-laki dengan mata bulat dan rambut ikal menguap pelan, seolah baru bangun tidur.

"Hai, Reda apa kabar?" tanya Hafidzah. Respon balita itu tersenyum kecil.

"Masuk, yuk Kak," ujar Hafidzah dengan semangat.

Di taman samping, Emir sedang duduk bersila sambil berebut gorengan dengan Fajar dan Fijar.

"Bro, tahu isi itu punyaku!" protes Fajar.

"Yaelah, siapa suruh lo lambat," timpal Emir, lalu menggigit dengan penuh kemenangan.

Adzriel yang duduk tak jauh, hanya menghela napas panjang. Matanya sempat melirik ke arah pintu kaca tempat ruang keluarga yang dimana para perempuan ngobrol. Ia tahu siapa saja yang ada di ruangan sebelah, dan ia melihat keberadaan Azila disana.

"Kenapa lo, Zriel?" tanya Aidan.

"Enggak, cuma sebel aja," gumam Adzriel.

Aidan mengangkat alis. "Sama siapa?"

Adzriel menatap lantai sejenak. "Azila."

"Oalah. Ini karena dijodohin itu ya?" Fijar langsung menyambar, lalu tertawa puas melihat wajah Adzriel mengeras.

"Lo nggak ngerti rasanya. Dia tuh cewek paling nyolot tapi paling bikin mikir. Satu sisi pengen gue tinggalin, satu sisi malah bikin gue pengen tahu lebih dalam."

Emir tertawa paling keras. "Bro, itu namanya udah kena racun cinta!"

"Bukan cinta! Jengkel, tau nggak!"

Mereka tertawa lagi, tak sadar bahwa dari balik pintu, Azila juga sedang menggerutu pada Zahira.

"Dia tuh nyebelin banget! Kalau nggak suka, ya udah bilang aja. Ngapain pasif-agresif?"

Zahira terkekeh. "Kamu juga nyolot banget kalo ngomong, Zil. Mungkin Kak Adzriel itu sebenernya suka, cuma gengsi."

"Hah! Gengsi apaan? Palingan dia juga kepaksa karena perjodohan ini. Gue juga ogah kali dijodohin sama dia!"

Tsamara menimpali, "Tapi wajah kamu tiap denger nama dia langsung merah. Gitu katanya ogah?"

Azila langsung membenamkan wajahnya ke bantal kursi. "Aku benci kalian," gumamnya.

Tawa kecil kembali terdengar.

Beberapa menit kemudian, Hafidzah mengajak semuanya ke halaman samping untuk menyantap makanan berat yang sudah siap.

Z A I D (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang