Tiga Bulan Kemudian
Waktu berlalu. Dengan segala kehati-hatian, Hafidzah mulai menjalani program kehamilan. Zaid selalu mengantar setiap kali kontrol. Ia lebih rajin membaca jurnal-jurnal medis dari sebelumnya. Bahkan pernah sekali Hafidzah memergokinya tengah mencatat daftar makanan sehat dari Pinterest sambil menahan kantuk.
Kini, di pagi yang sejuk dengan cahaya matahari yang menari di sela tirai jendela, Hafidzah duduk di kursi rotan dekat taman kecil samping rumah setelah dari kamar mandi. Tangannya menggenggam test pack, tubuhnya gemetar, bibirnya menggigit pelan.
Positif.
Dua garis itu tegas, tanpa keraguan. Hafidzah mengembuskan napas panjang. Bahagia, takut, haru, semuanya bercampur. Ia menunduk, menatap test pack itu lagi, lalu tersenyum sambil mengusap perutnya pelan.
"Assalamualaikum, Nak. Kamu beneran hadir ya?"
Langkah kaki pelan memasuki halaman samping. Zaid baru selesai mengantar Eliza sekolah. Saat matanya menangkap wajah istrinya, ia langsung tahu ada yang berbeda. Pandangan Hafidzah berair, tapi bibirnya tersenyum begitu manis.
Zaid mendekat, 'Sayang? Kamu kenapa?"
Tanpa bicara, Hafidzah menyodorkan test pack itu. Zaid menerimanya dengan alis mengernyit. Detik berikutnya, matanya membesar.
"Ini?"
Hafidzah mengangguk. "Iya, Kak."
Zaid tak mampu bicara sejenak. Ia hanya menatap dua garis itu. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut tapi karena bahagia yang datang begitu tulus.
"Sayang beneran?" suaranya nyaris tak terdengar.
Hafidzah mengangguk lagi. "Aku udah ngerasa dua hari terakhir. Tapi tadi baru nyoba test. Dan ini hasilnya."
Zaid menutup mulutnya dengan tangan. Lalu tanpa pikir panjang, ia berlutut di hadapan istrinya. Wajahnya menunduk, lalu ia mencium perut Hafidzah dengan mata berembun.
"Assalamualaikum, Nak. Ini Ayah. Terima kasih udah datang."
Hafidzah tak kuasa menahan air matanya. Ia membelai rambut suaminya. "Kita jaga dia bareng-bareng, ya."
Zaid mendongak. "Apapun yang terjadi, aku akan jagain kalian. Sampai titik darah terakhir."
Hafidzah terkekeh. "Segitunya banget ih!" Hafidzah menepuk pundak Zaid.
"Beneran Sayang!" Zaid tersenyum.
"Hehe, iya deh aku percaya!" Hafidzah mencondongkan tubuhnya memeluk erat Zaid.
****
Sore itu rumah keluarga kecil Zaid dan Hafidzah masih terasa sunyi. Tapi bukan berarti tenang. Di balik tirai kamar, terdengar suara gesekan krayon dan bisik-bisik aneh yang penuh rahasia.
"Aku harus cepet-cepet, sebelum Ayah datang," bisik Eliza.
Tangan mungilnya menggenggam krayon merah dan biru. Dengan ekspresi penuh semangat, gadis berusia enam tahun itu mulai mencorat-coret sisi dinding yang polos, menciptakan 'lukisan keluarga' versi Eliza. Lengkap dengan gambar bulat lonjong yang katanya itu Ayah, Bunda, dan dirinya yang punya pita besar di kepala.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki. Eliza terlonjak, buru-buru sembunyi di balik tirai. Tapi semuanya sudah terlambat.
“ELIZA!” suara berat Zaid menggema.
Eliza menahan napas.
Langkah kaki semakin dekat.
Zaid berdiri terpaku di depan dinding putih yang kini tak lagi putih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Z A I D (END)
Teen FictionSQUEL ARCELIO FOLLOW SEBELUM MEMBACA!!! HARGAI KARYA ORANG, MAKA DARI ITU VOTE DAN KOMEN! NO PLAGIAT, AKU YAKIN PASTI CERITA MU LEBIH MENARIK⚠️ **** Menikah? Di usia muda? Tak pernah menjadi bagian hidup Zaid. Karena jebakan musuhnya membuat semua o...
