Assalamualaikum, yeorobun
Kembali lagi nih sama aku 👋🏻😊
Jangan lupa vote dan komen sebelum membaca ya, sengkuh 🫶🏻☺️
Happy reading!
****
Seiring berjalannya waktu, setelah berbagai kejadian itu, dunia mereka perlahan tenang.
Mentari mulai condong saat suara derit pagar rumah mengiringi langkah ringan Zahira. Gadis berkerudung cerah itu mengangkat roti bolu dalam kotak kecil, senyumnya sumringah. Sejak Zaid menikah, rumah ini jadi tempat yang sering ia kunjungi, bukan hanya karena Hafidzah adalah kakak ipar, tapi karena Eliza–keponakan kecil yang ia cintai seolah darah daging sendiri.
"Assalamualaikum!" serunya dari ambang pintu, lalu disambut suara langkah kaki yang cepat dari dalam.
"Waalaikumsalam!" Hafidzah muncul dengan wajah berseri cantik dengan kerudung rumahan. Ia memeluk adik iparnya dengan hangat. "Zahira, kok dateng duluan nggak nunggu yang lain?"
"Aku pengen rebutan duluan nggendong Eliza," katanya penuh semangat.
"Ih, dasar. Nih, dia lagi tidur. Tapi kalau kamu deketin, biasanya bangun dan langsung nyengir," ucap Hafidzah sambil menuntunnya masuk.
Zahira melangkah pelan menuju boks bayi di ruang tamu. Wajah Eliza yang mungil tampak damai, pipinya mulai sedikit tembam, rambutnya halus. Seolah mengerti ada yang mengawasi, kelopak matanya terbuka.
"Ponakanku pinter banget deh, bangunnya pas banget!"
Zahira menggendong Eliza dengan penuh hati-hati, sementara si bayi kecil itu langsung menatap dengan mata beningnya. Eliza tak menangis, justru bayi itu berkedip-kedip lucu.
"Aduh, Tante melt! Ini anak siapa sih? Kenapa bisa seimut ini, ya Allah."
Zaid muncul di ambang pintu kamar dengan tangan menyilang di dada, menyandarkan bahu ke kusen dan senyum miring di wajahnya. "Ya anak Abang lah, bukan anak tuyul. Jelas gen-nya dari aku."
Hafidzah yang sedang menyiapkan botol susu di meja kecil langsung menoleh sambil mencibir. "Gen kamu? Oh, jadi wajah cantik Eliza itu hasil dari gen kamu ya?"
Zaid nyengir. "Kali ini aku nggak mau ngalah sama kamu, Sayang. Jawabannya iya, coba liat bibirnya mirip aku kan? Hidungnya juga, lihat tuh, mancung kayak aku"
"Mancung-mancung dari Hong Kong," sela Zahira sambil menatap Eliza dengan gemas. "Yang bikin cantik ya dari Bunda Iza lah. Kalau dari Abang, paling-paling dapet sifat jahilnya, beh amit-amit jangan sampe deh!"
Zaid langsung mendekat, mencolek pipi adiknya. "Jahil itu bentuk kasih sayang, Dik. Lagian kamu dulu waktu kecil juga doyan ikut-ikut ngerjain orang sama Abang dan Zafran."
Zahira melotot. "Itu semua karena kamu yang ngajarin! Nih ya, waktu kecil siapa yang nyuruh Bang Zafran lempar balon air ke jendela tetangga? Akibatnya kita yang kena dan Abang nggak mau tanggung jawab."
Zaid mengangkat alis, sok tak bersalah. "Itu bagian dari pendidikan karakter, Zahira. Biar kamu dan Zafran jadi pemberani."
Hafidzah tertawa pelan. "Pendidikan karakter dari Abang itu kayaknya lebih banyak bikin Zahira trauma deh."
Zaid memasang tampang sedih pura-pura. "Ih jahat banget sih! Aku tuh Abang paling penyayang lho. Gimana sih."
"Paling best Bang Azzal!"
"Jahat banget!"
Zahira menepuk punggung Zaid pelan. "Udah ah, jangan drama. Nanti Eliza ikut-ikutan lebay kayak Ayahnya lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Z A I D (END)
Teen FictionSQUEL ARCELIO FOLLOW SEBELUM MEMBACA!!! HARGAI KARYA ORANG, MAKA DARI ITU VOTE DAN KOMEN! NO PLAGIAT, AKU YAKIN PASTI CERITA MU LEBIH MENARIK⚠️ **** Menikah? Di usia muda? Tak pernah menjadi bagian hidup Zaid. Karena jebakan musuhnya membuat semua o...
