Extra Part 3

239 8 0
                                        

Pernikahan Aidan dan Zahira digelar di halaman belakang rumah keluarga besar Arcelio—berhiaskan bunga-bunga segar bernuansa putih gading dan keemasan. Lampu gantung yang menjuntai dari tiang ke tiang menyala temaram ketika senja mulai turun, menciptakan suasana hangat nan elegan. Meja-meja bundar berjajar rapi dengan hiasan vas kecil berisi mawar putih dan baby’s breath. Kesannya sederhana, tapi tiap sudutnya memancarkan kemewahan yang tak norak.

Di antara keramaian tamu undangan, rombongan sahabat dan keluarga dekat mulai berdatangan.

Zaid dan Hafidzah datang menggandeng Eliza, yang tampak cantik dengan gaun renda krem dan pita emas di rambut. Eliza berlarian kecil ke arah Arza, sepupu kecilnya, dan langsung saling mengejek seperti biasa.

"Eliza pendek," kata Arza sambil cengengesan.

"Arza jelek!" balas Eliza, membuat dua anak itu langsung tertawa geli, lari-lari mengitari tenda sambil membawa balon.

Tak lama, Adzriel datang bersama Azila—istri yang dulu sering bikin kepalanya panas, tapi sekarang jadi ibu dari anak kecil laki-laki yang lucu dan mirip Adzriel. Si kecil itu digendong Azila sambil sesekali tertawa melihat lampu warna-warni di tenda.

Emir tak lama menyusul, dengan Dara di sisi dan Reda yang digandengnya. Serta bayi mungil mereka tidur di gendongan kain yang dibawa Dara dengan anggun. Emir tentu saja tetap jadi Emir yang dulu. Penuh candaan.

"Brooo, Aidan!" seru Emir, menghampiri sang mempelai pria yang sedang duduk bersanding di pelaminan.

Aidan tertawa lebar, menepuk pundak Emir. "Akhirnya gue juga nyusul kalian semua."

"Selamat ya, Dan," sahut Zaid, ikut naik ke pelaminan bersama Hafidzah sebentar untuk memberi pelukan hangat.

"Eh, tunggu. Mana nih si Fajar sama Fijar?" tanya Adzriel.

Dan seperti terpanggil, Fajar muncul dengan jas navy dan gaya rambut klimis. Di belakangnya Fijar yang lebih santai tapi tetap rapi.

"Anjay, pada nikah nih, gue doang nih yang jomblo?" kata Fajar, lalu ikut naik ke pelaminan dengan gaya sok cool.

Fijar menyusul, "Gue juga jomblo," ujarnya.

Aidan tersenyum sambil menjawab, "Makasih semuanya sudah pada datang."

Acara berlangsung lancar dan hangat. Pernikahan Zahira dan Aidan bukan sekadar penyatuan dua hati. Tapi juga pengikat persahabatan, keluarga, dan harapan-harapan yang akan tumbuh, satu demi satu, bersama waktu. 

****

Di hari-hari setelahnya, Hafidzah menjalankan aktivitas seperti biasa sebagai ibu rumah tangga. Ia membersihkan ruang tamu dengan tenang, menyapu pelan-pelan sambil mendengarkan lantunan murottal. Padahal, usia kehamilannya sudah memasuki 32 minggu. Ia tahu, Zaid akan langsung melarang jika tahu ia melakukan ini.

"Habis, bosen juga kalau diem doang," gumamnya sambil mengelap meja.

Padahal Bibi Jumi, asisten rumah tangga yang sudah seperti keluarga, selalu sigap melakukan semuanya. Tapi Hafidzah merasa hari itu ia hanya ingin merasa berguna.

Namun baru beberapa sapuan, perutnya tiba-tiba terasa mengencang dan nyeri. Tangannya refleks memegang perut. Sakit itu datang seperti gelombang, membuatnya melepaskan sapu dan terduduk.

"Aaakh!"

Suara teriakannya terdengar sampai ke ruang kerja Zaid. Lelaki itu langsung berlari keluar.

"Sayang?!"

Bibi Jumi juga panik, langsung memanggil sopir dan menyiapkan mobil. Zaid ke kamar, mengambil tas persiapan lahiran yang sudah ia siapkan sejak bulan lalu.

Z A I D (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang