Assalamualaikum, yeorobun
Kembali lagi nih sama aku 👋🏻😊
Jangan lupa vote dan komen sebelum membaca ya, sengkuh 🫶🏻☺️
Happy reading!
****
Malam itu dingin menyesakkan. Di dalam ruang interogasi yang hanya diterangi lampu redup menggantung di langit-langit, Rival duduk menunduk. Jemarinya gemetar, keringat dingin merambat dari pelipis hingga lehernya. Di hadapannya, Inspektur Rafa menatap tajam namun tetap dengan kesabaran seorang penyelidik kawakan.
"Apakah ada orang lain selain anda otak dari dalang semua ini?"
Rival menggeleng. "Tidak ada." Suaranya gemetar seperti ada ketakutan yang di sembunyikan.
"Rival, melihat kamu ketakutan seperti ini saya yakin bukan hanya kamu otak dari semua ini. Siapa orang itu?" suara Rafa tenang namun menusuk.
Rival menggeleng pelan, namun suaranya serak menyusul, "Saya-Saya takut. Saya, tidak bisa bicarakan ini, Pak."
"Kamu harus bicara. Ini satu-satunya jalan untuk menghentikan semuanya. Biar luka nggak nambah."
Setelah hening yang lama, Rival pun mendongak. Matanya sembab, merah, menyiratkan beban yang tak pernah ia bagi pada siapa pun.
"Papa saya," bisiknya. "Dari dulu dia yang selalu mendorong saya untuk benci Zaid. Untuk menghancurkannya. Dia bilang, Zaid sudah merebut hidup Reval, dan saya harus balas. Harus." Air matanya mengalir deras.
"Dia-dia nggak pernah lihat Reval. Selalu Reval yang dipojokkan. Waktu Reval mati, dia menyesal dan jadi gila. Dan semua kemarahan itu ditumpahin ke saya. Saya nggak bisa ngelawan. Saya cuma pengen Papa berhenti nyalahin saya."
"Lalu siapa yang membunuh pembunuh bayaran itu?" tanya Rafa terakhir kalinya.
"Bukan saya, saya tidak tau. Saya hanya mentransfer bayarannya selebihnya saya tak tau lagi kabarnya."
Inspektur Rafa mendengarkan, mencatat, menandai celah-celah luka yang akhirnya terbuka. Setelah malam panjang, Rival resmi mengakui semua bahwa ia bukan dalang, melainkan boneka dari kebencian sang ayah.
Pagi harinya, seorang dokter spesialis kejiwaan didatangkan ke kantor polisi untuk memeriksa kondisi Rival. Hasilnya mencengangkan, Rival mengalami tekanan jiwa berat, dan gangguan identitas akibat obsesi ayahnya yang membentuknya menjadi sosok pendendam.
Selama beberapa hari, penyelidikan berjalan cepat. Inspektur Rafa menelusuri setiap jejak aktivitas Papa Rival transaksi mencurigakan, koneksi ke pembunuh bayaran, bukti kekerasan domestik, dan pembunuhan pada pembunuh bayaran itu. Semua semakin terang benderang.
Namun, sebelum keadilan sepenuhnya bisa ditegakkan, tragedi lain menyusul. Pagi itu, penjaga sel menemukan Rival tergeletak bersimbah darah. Tangannya koyak oleh pecahan gelas dari tempat minumnya. Di dinding, tertulis dengan darahnya sendiri.
"Gue lelah. Maafkan gue, Zaid."
Tangis pecah di antara petugas. Sekalipun Rival bersalah, ia tetap remaja yang tumbuh dalam luka yang tak pernah sembuh.
Pemakaman Rival diselimuti duka yang dalam. Awan mendung menggantung di langit, dan hujan rintik menyertai prosesi kepergian anak lelaki yang hidupnya dipenuhi tekanan.
Zaid datang, bersama teman-temannya. Ia berdiri diam menatap tanah yang menelan jasad seorang teman lama yang hancur karena dendam. Tak jauh dari sana, Inspektur Rafa juga hadir, menghormat dalam diam.
Setelah prosesi selesai, kejutan terakhir datang. Saat orang-orang mulai bubar, iring-iringan polisi datang. Di hadapan semua yang hadir, Papa Rival ditangkap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Z A I D (END)
Teen FictionSQUEL ARCELIO FOLLOW SEBELUM MEMBACA!!! HARGAI KARYA ORANG, MAKA DARI ITU VOTE DAN KOMEN! NO PLAGIAT, AKU YAKIN PASTI CERITA MU LEBIH MENARIK⚠️ **** Menikah? Di usia muda? Tak pernah menjadi bagian hidup Zaid. Karena jebakan musuhnya membuat semua o...
