Part 39 | Kesebar

135 6 0
                                        

Assalamualaikum, yeorobun

Kembali lagi nih sama aku 👋🏻😊

Jangan lupa vote dan komen sebelum membaca ya, sengkuh 🫶🏻☺️

Happy reading!

****

Mentari pagi menyorot hangat ke sela tirai putih di kamar mereka. Aroma lembut bedak bayi dan sabun mandi masih melekat di udara. Zaid mengecup kening Hafidzah penuh cinta, lalu menunduk menyambut wajah kecil putri mereka yang segar dalam gendongan sang ibu. Hafidzah tersenyum namun entah kenapa hatinya sedari tadi gelisah dan tidak tenang.

"Sayang kenapa?" tanya Zaid pelan, meraih jemari Hafidzah dan menggenggamnya hangat.

Hafidzah menghela napas, lalu menatap mata suaminya. "Perasaanku sedari tadi nggak enak, Kak. Kayak ada yang bakal terjadi. Aku nggak tahu kenapa."

Zaid mendekap kepala Hafidzah ke dadanya, membelai pelan rambut hitam yang panjang. "Nggak apa-apa, Sayang. Nggak akan terjadi apa-apa. Tenang, ya? Dzikir, doa. InsyaAllah semua akan baik-baik saja."

Hafidzah mengangguk, walau ada keraguan yang belum sepenuhnya reda dari wajahnya. Tapi Zaid tersenyum lembut, menguatkannya dengan tatapan paling menenangkan.

"Sayang, kamu kangen sekolah nggak?" tanya Zaid sembari menatap Eliza yang mulai menguap kecil.

"Ya, tentu kangen," jawab Hafidzah lirih, tapi ada binar harapan di matanya.

"Setelah ini, aku yang bakal urus Eliza. Kamu fokus sekolah. Biar cita-cita kamu nggak terhenti."

Mata Hafidzah membesar, kemudian berkilau. "Beneran Iza boleh sekolah lagi?" tanyanya mendapat anggukan dari Zaid.

Hafidzah berseru senang sambil berbicara dengan anaknya yang berada di gendongannya. Zaid terkekeh melihat tingkah ibu dari anaknya yang sangat heboh bergembira. Zaid mengacak pelan pucuk kepala Hafidzah. "Dasar bocil," ujarnya.

"Bocil bocil gini udah punya bayi lho, Kak. Ngeremehin Iza ya kamu Kak!" ucapnya dengan wajah songongnya.

"Wah, istri siapa sih ini? Sombong sekali."

"Istri Zaid El-Fathan Abqary," ucap Hafidzah yang membuat Zaid tersenyum penuh kemenangan.

"Nanti akan ada babysitter yang bakal membantu kamu mengurus Eliza. Kamu tidak boleh capek-capek ya!" ujar Zaid memberitahu.

"Iya, suamiku." Hafidzah terkekeh geli setelah mengucapkan hal tersebut.

"Yaudah Kakak berangkat sekolah dulu, hari ini adalah hari terakhir sekolah jadinya yah aku berangkat saja, apa aku nggak usah berangkat aja ya nemenin kamu sama Eliza di rumah?" ujarnya yang membuat Hafidzah menatap tajam Zaid.

"Aku yang pengen sekolah aja diam, tapi Kakak malah seenaknya bilang nggak mau berangkat?"

Zaid meneguk ludahnya sendiri melihat istrinya menjadi mode macan lebih baik ia nurut saja. "Baik, Kakak berangkat dulu. Bye, bye, Assalamualaikum!" Zaid langsung berlari demi menghindari amukan macan betina itu.

Tak lama kepergian Zaid, seorang wanita sedikit paruh baya dengan badan yang sedikit gempal datang ke kediaman rumah Zaid. Wanita itu dalah babysitter yang bertugas membantu Hafidzah mengurus Eliza, babysitter yang di pilihkan oleh Bundanya dan Ummahnya.

"Selamat pagi, nyonya. Saya Jumi babysitter yang di utus oleh Nyonya Arsyila dan nyonya Khanza untuk membantu nyonya," ucap wanita itu dengan sopan.

"Baiklah Bi, saya Hafidzah. Bibi tidak perlu panggil saya nyonya begitu, panggil saja saya Hafidzah atau Iza."

"T-tapi?"

"Tidak apa, saya lebih nyaman di panggil seperti itu."

"Kalau begitu saya akan memanggil anda Non saja," ucap Jumi.

Hafidzah tersenyum. "Baiklah," jawabnya.

****

Zaid merasa aneh kenapa semua orang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, kekecewaan, dan kemarahan kepadanya. Ketika Zaid lewat di koridor banyak orang yang membicarakan dirinya secara terang-terangan dengan Hafidzah, dan bayi? Tunggu. Zaid menyadari apa yang telah terjadi, ia mengecek ponselnya membuka aplikasi berwarna hijau tepatnya di grup kelas tanpa guru.

Foto dirinya dan Hafidzah saat di mall sebelum kecelakaan serta saat di rumah sakit kemarin sukses membuatnya terkejut. Zaid segera berlari ke ruang BK tanpa diminta guru maupun siapapun. Di dalam ruang BK guru BK sedang menelfon seseorang yang mungkin saja Ayah Hafidzah.

"Zaid," panggil guru BK tersebut dengan raut wajah seriusnya.

"Pak, saya mohon jangan keluarin Hafidzah!" ucap Zaid dengan memohon. Ini salahnya, Hafidzah sangat ingin kembali sekolah seperti dulu, Zaid menyesal mengubur harapan wanitanya.

"Zaid duduk dulu, tunggu keputusan kepala sekolah dan orang tua kalian."

Beberapa menit kemudian, Hafidzah datang bersama Elano, ayahnya. Di belakang mereka, menyusul Arcelio, ayah Zaid. Hafidzah hanya menunduk. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Zaid hanya bisa menatapnya penuh kekhawatiran.

Kepala sekolah mempersilakan semua duduk. Wajah beliau serius, tapi bukan tanpa empati. "Setelah mempertimbangkan situasi ini, kami memutuskan Hafidzah tidak perlu keluar dari sekolah. Foto-foto itu memang tersebar, tapi kami tak menemukan pelanggaran yang mengharuskan sanksi akademik."

Zaid menghela napas lega. Tapi Elano langsung berdiri.

"Saya tidak setuju. Putri saya akan mendapat cemoohan. Lingkungan sekolah tidak lagi kondusif untuknya."

"Tapi Ayah, Hafidzah sangat ingin sekolah," sahut Zaid lirih.

"Cukup, Zaid. Aku tahu kamu bermaksud baik, tapi kamu tidak tahu bagaimana dunia memandang anak perempuanku sekarang," ujar Elano dengan nada getir.

Arcelio menatap sahabatnya itu. "Elano... mungkin kita bisa beri waktu. Hafidzah bukan anak kecil lagi. Biarkan dia memilih."

Zaid menatap Hafidzah. "Iza, kamu mau terus sekolah, kan?"

Hafidzah masih menunduk, tapi suaranya terdengar pelan. "Iza ingin sekolah, Ayah. Iza janji tidak akan mengecewakan siapa pun."

Elano terdiam. Wajahnya keras, tapi ada gejolak batin yang jelas. Lalu perlahan, ia mengangguk.

"Baik. Tapi satu masalah lagi, dan kamu tidak akan kembali ke sini."

Zaid menghela nafas leganya. Kepala sekolah mengangguk. "Terima kasih, Pak Elano."

Sore hari itu, ruang tamu rumah Zaid dipenuhi oleh dua keluarga. Khanza yang duduk di sofa memangku Arza di sampingnya terdapat Hafidzah dan Arsyila menimang-nimang cucunya, Eliza. Elano duduk berseberangan, diam. Arcelio menatap menantunya dengan lembut. Zaid duduk menunduk.

"Iza nggak apa-apa tetap sekolah di SMA Merpati, Ayah," ucap Hafidzah dengan suara lembut. "Iza cuma ingin belajar seperti dulu."

Elano memejamkan mata sesaat. Ia teringat saat dulu menggendong Hafidzah kecil. Saat tangisnya pecah hanya karena jatuh dari sepeda, saat pertama kali bisa membaca satu ayat pendek. Sekarang, dia sudah jadi istri orang. Dan sudah memiliki putri kecil, tapi di matanya, Hafidzah tetap anak kecil yang ia sayangi.

Elano berdiri, lalu menghampiri Hafidzah dan memeluknya erat. "Maafkan Ayah. Ayah cuma ingin kamu nggak terluka. Tapi kamu benar, ini takdirmu. Dan kamu anak yang kuat."

Hafidzah meneteskan air mata. Pelukan antara Ayah dan anak itu terasa sangat hangat.

Arcelio menatap sahabatnya. "Akhirnya kamu percaya juga, El. Anak-anak kita memang jauh lebih dewasa dari yang kita kira."

Elano melepaskan pelukannya. "Kayaknya kita juga udah mulai bertambah tua," candanya.

Tawa mereka meledak bersamaan, memenuhi ruang tamu dengan kehangatan yang menenangkan hati.

****

TBC

Thanks, sudah mau baca dan vote ❤️

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Z A I D (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang