Extra Part 1

217 8 1
                                        

Hari itu, langit seakan turut merayakan kemenangan. Udara pagi terasa segar, dengan angin yang mengusap lembut rambut dan wajah-wajah yang sedang dihiasi tawa dan haru. Sebuah halaman kampus yang dulu hanya dilalui oleh kaki-kaki penuh harap kini dipenuhi lautan toga dan pelukan. Suasana gegap gempita wisuda menyelimuti seluruh penjuru.

Hafidzah berdiri di barisan peserta wisuda dengan toga biru dongker tersemat rapi di tubuh mungilnya. Senyum tak henti-hentinya merekah di wajahnya yang berseri. Matanya sesekali melirik ke arah tribun tamu undangan, mencari seseorang yang hatinya selalu rindukan. Dan ketika tatapannya menemukan sosok tinggi dengan wajah teduh dan senyuman menenangkan di antara kerumunan, jantungnya berdetak lebih cepat.

Zaid. Duduk bersama Eliza kecil yang kini telah berumur enam tahun, lengkap dengan dress warna krem dan pita mungil di rambutnya. Mata Eliza berbinar, menggenggam erat bunga lili putih yang akan ia berikan untuk ibunya nanti.

Di samping mereka, duduk sepasang orang tua yang tak kalah haru. Orang tua Hafidzah dan Zaid turut hadir dalam momen istimewa itu, mengenakan pakaian terbaik mereka, membaur dengan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.

Ketika nama Hafidzah dipanggil untuk naik ke panggung, seisi ruangan bertepuk tangan. Tapi ada satu suara kecil yang paling nyaring di antara semuanya.

"Bunda! Bunda hebat!" seru Eliza sambil melambaikan tangannya semangat.

Hafidzah menoleh ke arah putrinya, menahan tawa haru. Ia melangkah mantap ke atas panggung, menerima map kelulusan dengan tangan sedikit gemetar. Rasa syukur memenuhi hatinya. Ini bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan.

Seusai acara wisuda, Zaid berdiri dan berjalan menghampiri Hafidzah. Eliza berlari lebih dulu, memeluk Bundanya kuat-kuat.

"Bunda cantik banget!" katanya polos.

Hafidzah tertawa, mencium pipi Eliza. "Terima kasih, sayang. Kamu bunga terindah Bunda."

Zaid menyusul, dan begitu berhadapan dengan istrinya, ia terdiam sejenak. Hanya matanya yang bicara. Penuh kekaguman, bangga, dan cinta yang tak pernah luntur sedikit pun.

"Kamu berhasil, Hafidzah," ucap Zaid pelan, tapi dalam.

Hafidzah menggenggam tangan Zaid erat. "Kalau nggak ada kamu, mungkin aku nggak berdiri di sini sekarang."

"Dan kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah berhenti jadi Zaid yang hari ini. Kita kuat karena saling genggam, sayang. Bukan karena nggak pernah jatuh."

Orang tua Hafidzah datang menghampiri, memeluk putri mereka bergantian. Sang Bunda bahkan meneteskan air mata, sementara Ayahnya hanya bisa menepuk pelan kepala Hafidzah.

"Kami bangga padamu, Nak. Sangat bangga," ucap sang Ayah, suaranya serak.

Foto-foto diambil. Tawa bergema. Bunga diterima. Tapi yang paling penting adalah pelukan-pelukan hangat yang hari itu. Zaid dan Hafidzah, kini berdiri di antara lembaran baru hidup mereka. Dan Eliza, kecil yang tumbuh dengan cinta dan keberanian, menjadi saksi dari cinta yang bertahan.

Mereka meninggalkan kampus. Hafidzah berjalan di tengah, menggenggam tangan Zaid dan Eliza.

"Setelah ini, apa rencanamu, Bu Hafidzah?" tanya Zaid menggoda.

Hafidzah tertawa kecil. "Mau istirahat seharian, terus masak buat suami dan anakku yang cantik."

"Dih, kamu tuh bukan ibu rumah tangga aja. Kamu ibu sarjana sekarang!" sahut Zaid bangga.

"Sarjana cinta kamu," timpal Hafidzah geli.

Eliza yang mendengar ikut tertawa. "Aku juga mau jadi sarjana kayak Bunda!"

Z A I D (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang