"Kamu kesal? Gak mau cerita?" tanyanya sekali lagi, namun dalam jarak yang sangat dekat seperti sekarang.
"Maaf Kathrina, gak bisa cerita..." balasku lagi, tak mungkin kalau aku cerita bahwa aku kesal pada Gracie.
"Hmmm... gapapa sih, mungkin bukan urusanku juga."
"Tapi kamu masih marah banget ya sekarang? Need help?"
"Ah gak perlu, gapapa kok" balasku padanya, merasa sedikit lebih baik karena rasa perhatian yang Kathrina berikan.
Tiba-tiba dari posisi membungkuk, kini Kathrina berlutut di depanku sehingga tubuh kami sekarang sejajar. Ia menatap lekat mataku sebelum membuka suara kembali dari bibirnya yang seksi itu.
"Katanya cowok kalau kepalanya lagi panas dipenuhi emosi..." ujarnya sambil tersenyum ke arahku, senyum miring yang membuat darahku berdesir dengan aneh.
"Bisa diredain lewat kepala bawah..."
"Kamu mau aku sepong, gak?"
Siapa yang bisa menjawab pertanyaan seperti ini? Apakah ini jebakan dari mereka, lalu mengusirku dari homestay karena aku adalah lelaki mesum?
Kalau aku jawab iya, mau, tandanya aku sudah dua kali melakukan hal tidak senonoh di dalam homestay ini. Apakah mungkin seorang pria yang di cap mesum bisa tinggal dengan 12 orang perempuan dalam satu atap yang sama? Tentu tidak. Mereka akan mengecapku sebagai monster, penjahat, aku akan dilihat hina di mata mereka. Mana mungkin aku akan jawab iya?
Tetapi laki-laki normal sepertiku tentu ingin sekali mengangguk menjawab iya secepatnya, siapa yang tidak mau mendapatkan sepongan dari gadis secantik Kathrina. Cantik, seksi, menggoda, ia terlihat nakal dan hot. Apalagi saat ini bibirnya terbuka sedikit, merekah seperti tak sabar ingin makan. Lalu, matanya yang menatap lurus padaku, mata sensual yang seperti mengirimkan sinyal dan menghipnotis diriku untuk segera mengangguk dan berkata iya. Apa mungkin aku bisa berkata tidak? Bodoh sekali.
Apabila aku jawab tidak, apa yang paling buruk bisa terjadi?
Mungkin aku akan aman-aman saja tinggal di dalam homestay ini, tidak akan ada masalah selain masalahku dengan Gracie. Mungkin juga aku bisa mencoba melanjutkan hubunganku dengan Marsha yang nampaknya mulai bertumbuh perlahan, semua itu akan aman bila aku menjawab tidak. Best solution.
Tapi, apa aku akan aman begitu saja?
Bagaimana kalau Kathrina akan menyebarkan omongan kalau aku tidak suka perempuan?!
Aku menolak hal seperti ini, menolak mendapatkan kenikmatan duniawi dari seorang gadis yang sudah menawarkan dirinya untuk memberiku pelega emosi. Tidak mungkin hubunganku dan Marsha berlanjut, mungkin saja bisa, tetapi apakah gadis-gadis lain di homestay ini tidak akan memandang miring padaku?
Kalau Gracie tau aku berorientasi berbeda, apa yang akan ia katakan?
Apa yang akan terjadi?
Apakah ia semakin menyebalkan?
Apakah ia akan merasa kalau aku memang sial dan pembawa sial?
Apa yang akan terjadi?
Semua pertanyaan berkutat di kepala, semua kemungkinan berenang sebebasnya di dalam otakku. Tak ada bantuan, fifty fifty, phone a friend yang ku gunakan untuk menjawab pertanyaan sesimple
"Mau aku sepong, gak?" Pertanyaan itu, mengapa sulit sekali menjawabnya.
Tunggu, itu bukan terjadi di otakku saja. Kathrina benar-benar bertanya sekali lagi padaku, membuatku tersadar dari lamunanku. Jari telunjuk kanannya yang berada di atas pahaku, yang bergerak dengan lembut dari atas kebawah membuat darahku berdesir meski masih ada sebuah celana bahan berwarna hitam yang ku gunakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Homestay48
Fiksi PenggemarLiam, seorang pemuda yang memulai hidup barunya dengan tinggal di sebuah Homestay "Helisma". keadaan kuliahnya membuat ia harus memilih tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di tempat baru dengan suasana baru justru membuat hidup Liam dipenuhi banyak...
