Hangat, lembut, dan nyaman sekali. Aku baru menyadari ada sesuatu yang tak biasa saat mataku yang terpejam dan kepalaku bersandar. Aku merasa sedang bersandar di sandaran gazebo, tetapi rasanya nyaman sekali. Lalu aku merasakan rasa nyaman yang lebih lagi, aku merasakan angin berhembus mengenai rambutku, membuatnya terkibas lembut. Bukan mengantuk, bukan ingin tidur, tapi rasa nyamannya membuatku tak ingin pindah dari tempat ini.
Tapi hembusan angin di rambutku lama-lama lebih terasa seperti sebuah usapan, seperti ada yang menyisir rambutku menggunakan tangan. Rambutku dibelai, diusap dengan lembut, menyisirnya sedikit-sedikit. Aku penasaran, tapi rasa nyamannya membuatku tidak ingin membuka mata.
"Fyuuh..."
"Fyuh..."
Aku terkejut bukan main, ada angin lembut yang mengenai telinga dan tengkuk. Mataku membuka perlahan, namun langsung membuka lebar saat menyadari ada wajah Fiony tepat di atas wajahku. Saat mataku terbuka, aku menyadari kalau kepala saat ini berbaring di atas pahanya. Angin yang membelai rambutku ternyata adalah jari-jarinya yang memainkan rambutku dengan lembut.
"Hahaha... kenapa bangun?"
Pertanyaannya lembut dengan suara yang tenang sekali. Aku hanya bisa menatapnya, mata kami bertemu dalam jarak yang begitu dekat hingga aku bisa melihat pantulan mataku di bola matanya yang hangat. Fiony tersenyum kecil, senyum yang sama yang biasa aku lihat darinya. Entah saat di kamar, entah saat kami sedang mengobrol di ruang tamu. Senyum Fiony yang selalu menenangkan dan dewasa.
"Kenapa bangun?" ulangnya lagi, suaranya pelan, hampir berbisik karena takut mengganggu keheningan malam.
Aku masih bingung harus jawab apa. Kepalaku tetap di atas pahanya, terasa begitu empuk, hangat, dan halus lewat kain piyama pink muda yang ia pakai yang separuhnya tidak bisa menutupi pahanya. Sehingga kontras lembutnya celana piyama Fiony dan pahanya yang halus terasa di kepalaku. Kaki Fiony terlipat rapi di bawah tubuhnya, membuat paha itu jadi bantal paling nyaman yang pernah kurasakan seumur hidup.
"Gak tahu..." akhirnya aku menjawab, suaraku seperti orang baru bangun tidur. "Kaget aja, seingatku... aku lagi tiduran di gazebo."
Fiony terkekeh pelan, jari-jarinya kembali menyelinap ke rambutku, menyisir perlahan dari akar sampai ujung. Gerakannya lembut sekali, seperti desiran lembut angin pantai yang menghembus.
"Haha, kamu istirahat aja..." katanya, suaranya seperti sebuah nyanyian dari surga yang menenangkan.
Angin malam berhembus lagi, menerpa wajah kami berdua tetapi tidak bisa menandingi kelembutan jarinya yang menyisir dan membelai rambutku. Rambut panjangnya yang hitam legam ikut menari pelan, beberapa helai jatuh ke wajahku, menggelitik pipi. Aku menangkap aroma samar shampoo strawberry yang selalu menempel di rambutnya—wangi yang khas selain parfumnya yang juga khas berwangi bunga. Jari Fiony turun sedikit, menyentuh pelipisku, lalu mengusap perlahan ke arah telinga. Setiap sentuhannya bikin bulu kudukku merinding, tetapi hangat dan nyaman. Seperti seorang ibu yang memanjakan anaknya sebelum tidur.
"Cefio..." aku memanggilnya pelan.
"Hm?" Ia menunduk, wajahnya semakin dekat.
Cahaya lampu di atas gazebo yang tak terlalu terang memantul lembut di matanya. Fiony diam sejenak, jari-jarinya berhenti di belakang telingaku, lalu ia tersenyum dengan lembut dan tulus.
"Aku baru pernah liat kamu sampai begini setelah pindah ke sini," katanya lembut. "Rapuh banget. Aku gak tau orang kyak Liam bisa sampai segininya."
Aku menelan ludah. Dadaku terasa penuh oleh kata-katanya. Teringat sedikit dengan apa yang menjadi masalahku sehingga aku kabur ke tempat ini. Tetapi usapan lembut dari Fiony dan tatapan yang menenangkan seperti menghela masalahku pergi terbawa angin. Fiony kembali mengusap rambutku, kali ini lebih lambat, lebih lembut, jarinya halus menyapu rambutku. Telapak tangannya turun ke pipiku, mengusap perlahan dengan ibu jari. Kulitnya dingin karena angin malam, tapi tetap terasa hangat bagiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Homestay48
FanfictionLiam, seorang pemuda yang memulai hidup barunya dengan tinggal di sebuah Homestay "Helisma". keadaan kuliahnya membuat ia harus memilih tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di tempat baru dengan suasana baru justru membuat hidup Liam dipenuhi banyak...
