Homestay48 : 18

2.8K 127 9
                                        

Berjarak? Tidak.
Diam? Tidak.
Cuek? Tidak juga. Semua terjadi seolah biasa saja antara aku dengan Gracie, seperti semua yang memberatkan kemarin tidaklah masalah sama sekali. Seperti Fiony yang berusaha menenangkan diriku juga tidak ada artinya. Tapi, rasa kosong itu masih ada. Hampa, seperti ada yang hilang tapi tidak jelas jawabannya. Gracie sama, tapi berbeda.

Kalau sikap Gracie padaku selama ini digambarkan sebagai 100%, sejak malam itu rasanya berada di 99%, atau mungkin 98%, atau mungkin 89%. Hampir, tapi tidak ada di titik penuh. Seperti memakan indomie goreng, satu begitu nanggung dan tidak kenyang—tapi tidak makan dua bungkus.

Berjalan ke kampus bersama, masih kami lakukan. Mencari makan atau mengerjakan tugas bersama, masih juga kami lakukan. Duduk bersebelahan di kelas, tentu masih kami lakukan. Tapi dalam tiap sikapnya, jelas sekali ada yang berbeda, tetapi aku tidak berani mengatakan apapun padanya.

Sejak malam itu juga, aku beberapa kali juga bertemu dengan Lily. Kami berdua menjadi lebih sering bertegur sapa, ia juga beberapa kali menanyakan kabarku ketika bertemu. Aku takut ia mengira aku benar-benar suka padanya karena ucapan Gracie, tapi di sisi lain aku senang mendapat teman baru di Homestay ini, karena tidak semuanya aku kenali. Karena sejak kedekatanku dengan Gracie semakin jelas dan aku semakin serius memiliki perasaan padanya, aku dan Marsha menjadi berjarak. Bukan sekedar berjarak, bahkan bertegur sapa menjadi canggung dan seperti orang yang tidak terlalu mengenal. Bersama dengan itu, hubunganku dengan Kathrina juga ikut berjarak karena Kathrina adalah sahabat terdekat Marsha di Homestay ini.

Aku mencoba tidak memusingkan segala hal ini sebisaku setelah Gracie menegur diriku di minimarket waktu itu. Tujuanku ke kota ini untuk mengejar pendidikan, untuk mengejar ilmu dan masa depanku. Terlalu banyak cewek cantik di Homestay dan setelah segala hal yang terjadi disini, fokusku sangat jelas berpindah. Apalagi sejak semakin terasa dekat jarak antara aku dan Gracie, semakin hilang fokusku pada kuliah.

Bahkan dalam proses untuk dekat dan ingin menjadikan Gracie kekasih saja, Gracie tetap mengingatkanku dengan tujuan awalku ke kota ini. Membuatku menginjak rem sedikit agar tidak terlalu kencang dan terburu-buru dalam mengejar cinta. Agar seimbang kembali dengan pendidikanku.

"Kamu mau makan gak?" tanya Lily padaku saat aku sedang duduk di kursi meja makan.

"Eh... udah kok."
"Bohong, kamu kan dari tadi disini... belum lama keluar kamar juga."
"Eh, iya haha... belum pengen makan, Ly."
"Aku kira mau makan, aku juga mau makan soalnya." Lily mendekatiku.

Dia selalu dengan gaya andalannya, mengenakan hoodie besar dengan wajah malu-malu dan suara yang pelan, lembut.

"Eh... anu... mau beli makan, gak? Aku.. aku juga mau beli... makan."
"Emm... gak sih, Ly. belum mau, tapi kalau mau aku temenin, ayo... emang mau makan apa?"
Mata bulatnya makin membuka, wajahnya sumringah. "Gak tau, ayo ayo..."

Ia berjalan lebih dulu keluar dari Homestay, aku mengikuti dari belakang setelah memastikan dompet telah aku bawa. Kami berjalan menyusuri jalanan depan Homestay, melihat Lily yang sumringah dan berjalan dengan langkah kecil yang cepat membuatku menikmati siang yang cukup terik. Udara siang ini memang cukup panas, tetapi melihat Lily yang senang membuatku tidak terlalu memikirkan panasnya siang. Lily berjalan di depanku, langkahnya ringan tapi terlihat sekali kalau tidak ada arah jelas. Lily baru pindah, wajar bila ia tidak tau apa-apa. Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan aku masih mengikuti, dengan senyum malu-malu yang membuatnya terlihat lebih imut.

"Eh, dekat ya?" tanyanya sambil berhenti di depan tenda warung ayam penyet tersebut.

"Iya, gak jauh memang...," jawabku sambil menyusul dan mengajaknya masuk. "Ci Lia suka banget makan disini, ini makanan pertamaku sejak saat pindah dan pertama kali juga aku ketemu Ci Lia."

Homestay48Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang