Semenjak aku dan Lily mulai berbicara dan semakin kenal. Aku semakin merasakan janggal, ada keanehan yang aku rasakan namun masih tidak bisa aku mengerti. Awal tujuanku berbicara dengannya dan ingin mengetahui dirinya adalah karena aku melihat ia mendapati diriku dengan Kathrina di kamar waktu itu. Tujuan awalku adalah untuk menanyakan soal hal ini, mencari tau dan ingin meminta dirinya untuk diam, merahasiakannya dari Gracie maupun Marsha. Tapi justru aku malah menjadi dapat teman baru, Lily menyenangkan untuk diajak berbicara. Orang-orang mengenal Lily sebagai seorang pemalu dan juga pendiam, tapi yang aku dapati tidak seperti itu. Lily suka berbicara, menyenangkan, dan apa yang dibicarakan dengannya selalu menyenangkan. Kepolosannya juga menjadi nilai lebih, membuat dirinya semakin lucu dan menyenangkan.
Tak hanya denganku, Lily juga berbicara dengan Gracie dan menjadi dekat. Bahkan melihat mereka berbicara, terlihat sekali kalau mereka berdua cocok. Kalau ku pikir, beberapa sifat Gracie dan lily memang mirip.
Tapi aku semakin penasaran sejak semakin aku dan Lily berteman, ia tidak pernah sekalipun membahas atau terlihat mengetahui soal apa yang ia lihat waktu malam itu. Ia polos, tak pernah ada pembicaraan yang mengarah untuk membicarakan hal tersebut. Bahkan setiap kali aku mencoba memancing obrolan soal malam itu, hanya berakhir pada batas di mana aku mengajaknya berbicara pada malam lainnya—ketika Gracie melihat aku mencoba mengobrol dengan Lily.
"Aku sama Lily mau ngerjain tugas di cafe minimarket depan, ikut?" pertanyaan dari Gracie, kepalanya saja yang muncul dari balik pintu ketika aku mempersilahkannya masuk ke kamarku.
"IKUT!"
Hanya diriku di universe lain yang bodoh yang akan menolak ajakan Gracie. Aku segera menutup laptop, yang sedang aku gunakan untuk menonton film. Aku berkata pada Gracie untuk bersiap-siap sebentar, mencari buku-buku ku.
"Yaudah, aku sama Lily tunggu di depan ya."
Aku mengangguk, Gracie menutup pintu dengan perlahan. aku sesegera mungkin merapikan tas jinjing untuk membawa buku dan alat tulis, lalu mengambil jaket kemudian menyusul Gracie dan Lily di ruang tengah. Aku melihat Gracie sedang berdiri di samping sofa sedangkan Lily duduk di sofa. Ketika aku datang, mereka langsung menoleh padaku seolah menyambut kedatanganku. Gracie tersenyum padaku, senyum manis khas yang selalu muncul pada bibirnya. Senyum dengan lesung pipi yang begitu manis dan menggemaskan, yang berkali-kali bikin jantungku berdegup. Aku dan Gracie berjalan keluar dari pintu Homestay, berjalan bersama seperti biasa kami. Tapi sebuah suara dari belakang menghentikan kami berdua, langkah terburu-buru yang tergopoh dan justru menabrak diriku dari belakang. Untungnya tidak sampai kami berdua terjatuh, namun sudah membuat berdiriku sedikit tidak seimbang.
"Maaf!" ucap Lily sambil menggaruk-garuk kepalanya, meminta maaf sambil terkekeh.
Aku segera menoleh ke arah Gracie, melihat gadis itu memperhatikan kami berdua. Aku merasa serba salah, di sisi lain aku membantu Lily tidak jatuh namun aku takut Gracie salah sangka padaku.
"Ayo."
Gracie berjalan lebih dulu keluar dari pagar Homestay, aku segera mengejar untuk mengikuti dirinya. Di belakang, Lily mempercepat langkah mengikuti kami berdua. Perjalanan dari Homestay ke minimarket tersebut hanya sesaat, aku berjalan di samping Gracie namun tidak ada percakapan yang terjadi di antara kami. Aku sesekali memperhatikan dirinya, sedangkan ia berjalan lurus saja menuju minimarket tersebut. Sedangkan Lily yang di sisi lain Gracie, mengikuti kami berdua dengan langkah ceria seperti tidak ada beban dalam hidupnya.
Saat kami masuk ke dalam minimarket, Gracie langsung menuju ke kasir untuk memesan bagi kami bertiga. "Pesan apa?"
Aku mendekati dirinya. "Aku... teh aja."
"Aku matcha," jawab Lily juga.
Gracie memesan minuman untuk kami, membayar untuk kami.
"Nanti kasih tau ya harganya, biar aku bayar."
"Iya... biar aku ganti, Gracie!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Homestay48
FanfictionLiam, seorang pemuda yang memulai hidup barunya dengan tinggal di sebuah Homestay "Helisma". keadaan kuliahnya membuat ia harus memilih tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di tempat baru dengan suasana baru justru membuat hidup Liam dipenuhi banyak...
