Hari-hariku bersama Gracie makin dekat. Hampir banyak hal kami lakukan berdua. Kami makin sering pergi bersama, sekedar ke cafe atau minimarket untuk mengerjakan tugas. Seakan mengerjakan tugas adalah kedok agar kami bisa pergi bersama. Bukan mengerjakan tugas saja, terkadang kami berdua dengan sengaja makan bersama di luar Homestay. Semakin sering bersama, semakin sering juga anggota Homestay menggoda hubungan kami berdua.
Tapi dibalik itu semua, ada pasang mata yang selalu menatap tajam ke arahku. Aku bisa mengerti mengapa ia tak senang, aku bisa paham alasannya. Sejak aku semakin dekat dengan Gracie, aku bisa merasakan kalau Marsha menjaga jarak dan tak suka melihatnya. Meski ia dan Gracie tidak terlihat ada masalah, namun dengan jelas ia cemberut dan menjaga jarak dariku.
Gracie yang tengah mengaduk minumannya, menatapku bingung ke arahku. "Kenapa bengong?"
"Ah gapapa... cuma lagi mikir aja."
Ia masih memasang wajah penasaran. "Mikirin apa? Sampai bengong gitu."
Aku memutar otak, lalu melihat buku-buku yang berserakan di atas meja. "Ya tugas, dong."
Gracie terkekeh. "Hahaha iya juga..."
Gracie menyeruput minumannya menggunakan sedotan, senyum tipis yang selalu ada di bibirnya tersebut membuatnya terlihat manis sekali saat tengah minum seperti ini. Matanya melirik ke samping dan senyum miring tercipta di bibirnya.
"Ngeliatin terus, naksir ya?" ledeknya saat mendapati aku tengah memperhatikannya.
"Obvious? Kan emang..."
"Ckck sial banget aku disukain sama cowok kyak gini..."
Aku tertawa mendengarnya, kebiasaan yang tak pernah berubah itu lama-lama menjadi lucu dan bisa ku tolerir. "Hahahaha..."
"Berarti aku beruntung suka sama cewek kyak kamu," tambahku.
Gracie tersenyum bangga dan penuh percaya diri, meledek ke arahku. "Jelas!"
Tingkat percaya dirinya yang sama seperti Lia juga lah yang membuatku senang dengannya. Kami berdua mungkin lebih terlihat seperti dua orang yang sedang berkencan bagi orang lain, tapi kenyataannya sedikit membuatku menghela nafas. Namun entah mengapa, aku nyaman dengan keadaan ini. Menghabiskan waktu bersama Gracie adalah hal menyenangkan bagiku dan aku senang dengan semua ini.
"Kamu udah ngerjain tugas Pak Anggoro?"
Aku menoleh, Gracie sudah kembali fokus pada tugasnya. "Belom... baru sedikit," balasku.
"Kerjain, tinggal 2 hari loh."
"Siap... nanti deh di kamar aja."
"Kenapa gak sekarang?" ia memicingkan mata ke arahku.
"Aku lagi ngerjain tugas Bu Gita, kan."
"Ya gak harus ngikutin aku ngerjain tugas Bu Gita, loh... nanti tugas Pak Anggoro gak kekejar," ucap Gracie sambil menunjuk diriku menggunakan pulpen, "lagian Bu Gita tugasnya masih untuk senin depan."
"Iya, iya... tapi aku gak bawa buku tugasnya sih."
"Kok bisa? Kamu cuma bawa tugas Bu Gita sekarang?"
"Iya, Grace."
Gracie menghentikan kegiatan menulisnya, ia memasang wajah tak senang. Lalu tangannya merogoh ke dalam tas seperti mencari sesuatu. Setelah mendapatkannya, Gracie menyerahkan lembaran kertas tersebut padaku.
"Nih, aku masih nyimpen kertas assignmentnya... kerjain."
Aku terkekeh, tasnya sudah seperti kantong ajaib. "Oke, makasih."
Ia masih menatapku dengan tatapan bete, aku tidak tau kenapa tetapi tatapannya membuatku tau kalau ia tak senang.
"Kenapa, Grace?"
"Hmm..." ia berdehem pelan, menjawab dengan sebuah deheman tentu membuatku bingung.
"Kenapa kamu bete gitu, sih?"
"Liam." ia melirik sedikit ke arahku namun masih tetap menulis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Homestay48
FanfictionLiam, seorang pemuda yang memulai hidup barunya dengan tinggal di sebuah Homestay "Helisma". keadaan kuliahnya membuat ia harus memilih tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di tempat baru dengan suasana baru justru membuat hidup Liam dipenuhi banyak...
