Setelah kejadian dengan Marsha kemarin itu, hariku berlangsung dengan normal seperti tak ada apapun yang terjadi sebelumnya. Apalagi ketika bertemu dengan Marsha, rasanya tidak ada yang berbeda dengan perlakuannya padaku atau caranya memandangku. Kami berdua masih berbicara seperti biasa, seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Aku dan Marsha masih jarang bertemu, kami memang satu kampus namun karena berbeda jurusan dan fakultas, aku dan Marsha sama sekali tak pernah bertemu di kampus.
Aku juga tidak pernah bertemu siapapun yang ada di Homestay di kampus, padahal hampir seluruh penghuni homestay ini berhubungan dengan kampus yang sama. Tapi hari-hariku di kampus dihabiskan bersama dengan Gracie yang aneh dan menyebalkan. Ku kira, setelah aku dan Marsha melewati jenjang pertemanan biasa akan membuat hariku jadi berbeda. Tetapi, aku masih tetap bersama Gracie.
"Cepetan jalannya, kita telat" ucap Gracie padaku.
Aku yang masih asik mengunyah roti yang dibuat oleh Ceu Eli diburu-buru waktu oleh Gracie yang terlihat panik. Aku tak menggubris dirinya karena kelas masih baru akan dimulai setengah jam lagi sedangkan jarak dari Homestay ke kampus tak sampai 10 menit. Aku yang masih sarapan sambil menonton tv bersama Ceu Eli dan Freya menjadi terganggu dan risih karena Gracie yang terus berdiri di sampingku dengan wajah tak sabar.
"Buruan Liam berangkat, pacar kamu ganggu banget ini" ucap Freya padaku, membuatku hampir tersedak kopi yang sedang kuteguk.
"Pacar siapa? Tiba-tiba pacar"
"Bukan pacar kak Freya, dia temen aku"
"I.. iya Grace, bercanda" balas Freya yang bingung melihat aku dan Gracie yang langsung menolak dengan tegas.
"Emang temen?" balasku pada Gracie, namun aku tak jadi menatap dirinya karena wajahnya terlihat menyeramkan.
Ia nampak kesal dan marah sekali, aku tak tau apa penyebabnya tetapi aku sadar kalau kekesalannya dia itu sekarang dilimpahkan seluruhnya padanya.
"Yaudah kalau gak mau temen, bilang dari tadi" balas Gracie dengan nada meninggi, ia langsung mengambil tas punggung yang tergeletak di kursi meja makan dan pergi ke arah luar.
"Ngapain aku nungguin kamu, kita gak temenan!"
Aku terkejut, Gracie langsung bergegas ke arah pintu keluar membuatku kebingungan. Aku mengambil tas selempang yang ku letakkan di samping kursi dan bangkit berdiri meninggalkan roti dan kopi yang sedang kunikmati untuk sarapan.
"Menurutku, kamu bego sih" ujar Freya sambil melihatku lalu menggelengkan kepalanya.
"Iya, cowok aneh sih" tambah Ceu Eli, membuatku memasang wajah tak setuju dan langsung mengejar Gracie dari belakang.
Gracie bergerak cepat, ia sudah keluar dari pagar saat aku bergegas memakai sepatu untuk mengimbangi langkahnya. Ia sudah tak terlihat dari balik pagar saat sepatu terpasang, aku berlari mengejarnya yang di pagi hari sudah begitu tergesa-gesa dan bertensi tinggi.
"Hati-hati berangkatnya!" ucap Oline yang tengah menyiram tanaman, membuatku menoleh dan mengangguk ke arahnya meski Gracie nampak cuek pada Oline.
Aku mengejar Gracie, dengan langkahku yang pastinya lebih panjang darinya aku segera mengimbangi langkahnya. Ia nampak tak peduli, padahal aku berusaha menarik perhatiannya dengan berjalan di sampingnya. Biasanya, ia akan dengan cepat marah dan memintaku menjaga jarak agar tidak sial, namun hari ini dia nampak cuek dan tak peduli padaku.
"Kamu kenapa sih?" tanyaku pada Gracie, gadis itu masih diam saja.
"Grace... kenapa? Maaf yang tadi di ruang tengah"
Ia masih diam, ia hanya menoleh sebentar ke arahku lalu membuang muka kembali. Ia terlihat kesal, membuatku serba salah dan bingung. Langkah kami terus berlanjut sampai di dekat pagar kampus, sebelum benar-benar sampai di area kampus aku segera menahan tangan Gracie.
KAMU SEDANG MEMBACA
Homestay48
Fiksi PenggemarLiam, seorang pemuda yang memulai hidup barunya dengan tinggal di sebuah Homestay "Helisma". keadaan kuliahnya membuat ia harus memilih tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di tempat baru dengan suasana baru justru membuat hidup Liam dipenuhi banyak...
