Membahas soal sial dan hoki. Dalam cina hoki itu berarti nasib baik atau untung. Buatku yang tak percaya mitos, sial dan hoki itu semua berdasar dari aksi dan reaksi yang terjadi dalam kehidupan. Kerennya, aku adalah orang yang mempercayai yang namanya Law of Attraction. hukum tarik-menarik yang menyatakan konsep bahwa perbuatan, pikiran, dan perasaan kita dapat menarik hal-hal baik atau buruk ke dalam kehidupan kita. Karena dalam alam semesta ini, energi saling tarik-menarik dan berinteraksi.
Gracie percaya mitos dari budaya dan garis keturunannya, sedangkan aku mempercayai hukum konsep yang dilandasi dari ilmu fisika, walaupun aku sebenarnya hanya melihat-lihat dari aplikasi video pendek saja.
Mengapa aku membahas soal sial dan hoki kembali di pagi hari yang cerah dengan burung-burung berkicauan memperindah suasana? Karena Gracie yang memulai.
"Kamu kayaknya jangan berangkat sama aku deh." ujar gadis tersebut padaku saat aku sudah menunggunya di depan pintu homestay.
"Ha...? Kenapa?"
"Aku baru ingat hari ini tanggal 13 dan kamu tinggal di kamar 13... paham?" ucapnya, tatapan dan wajahnya begitu polos ketika mengatakan hal seperti ini.
Meski wajahnya polos, tapi membuatku kesal setengah mati. Apakah pagiku akan menjadi buruk karena dirinya?
Aku menenangkan diriku, menarik nafas panjang dan tak memperdulikan kata-katanya lagi. Aku meninggalkan ia lebih dulu karena aku memang sudah siap berangkat bila tidak menunggu Gracie.
"Eeh... bareng...!" ujar Gracie mengikutiku dari belakang, membuatku menggeleng bingung dengan semua ucapannya yang bertolak belakang.
"Maksudku, berangkatnya bareng tapi jangan jalan bareng..."
"Oke, terserah."
Terserah, aku sudah capek meladeni keanehan dirinya dengan kepercayaannya pada mitos kesialan tersebut. Aku berjalan lebih dulu, ia mengikutiku dari belakang sambil memeluk buku tebal yang ia bawah. Tas selempang yang ia kenakan, kacamata besar, rambut dikepang ke samping, serta caranya membawa buku dan berjalan membuat dirinya menjadi daya tarik bagi orang-orang yang melihat. Aku pun mengakui kecantikannya, manis wajahnya, dan imutnya Gracie yang membuat orang bisa tersenyum hanya dengan melihat wajah menggemaskannya. Kalau saja aku tidak mengetahui sifat anehnya, aku pasti dengan senang hati berjalan bersamanya dan menemani dirinya.
"Tugas kamu udah selesai?" tanya Gracie dengan sedikit mengencangkan suaranya, aku sedikit menoleh padanya meski masih berjalan di depan.
"Udah."
"Aku juga hehehe"
"Padahal tugas untuk minggu depan ya" tambahnya lagi, aku hanya melirik padanya dan tak membalas.
"Kamu udah siap buat kelas hari ini?" tanyanya lagi.
"Udah."
"Bagus, biar kita gk ketinggalan pelajaran" ia mengacungkan jempol ke arahku, meski aku hanya melirik ke belakang dan melihat dirinya dari ekor mata.
"Kamu udah sarapan?" tanyanya sekali lagi, tapi kali ini aku sudah tidak tahan dan menghentikan langkahku.
Gracie terkejut dan ikut berhenti, ia masih di belakangku menjaga jarak saat aku menoleh padanya.
"Kenapa sih?" tanyaku dengan bingung dan kesal, rasa kesal karena terlalu bingung.
"Jangan kesini, nanti bawa sial"
"Aaargh terserah!"
"Kamu jangan marah!"
"Kamu kenapa... gimana aku gak kesal, selalu dibilang sial."
Aku berjalan kembali meninggalkan dia, ia menatapku kebingungan namun kemudian mengikutiku dari belakang.
"Hei, Liam... tuh kan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Homestay48
FanfictionLiam, seorang pemuda yang memulai hidup barunya dengan tinggal di sebuah Homestay "Helisma". keadaan kuliahnya membuat ia harus memilih tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di tempat baru dengan suasana baru justru membuat hidup Liam dipenuhi banyak...
