Di malam yang mulai larut ini, aku tak lagi bisa mengelak dengan keadaan yang terjadi saat ini di dalam kamarku. Aku duduk dengan kedua kaki terbuka lebar, lebih tepatnya dibuka lebar oleh gadis cantik bertubuh mungil yang tersenyum manis namun bertatapan nakal kepadaku. Kedua tangannya memegang pahaku yang memakai celana pendek, mengusap-usap paha bagian dalamku ke atas dan ke bawah membuat darahku berdesir. Gadis itu nampak tak bisa lagi ku tahan, mungkin hanya intervensi dari langit, kesialan saja yang bisa menghentikan apa yang akan terjadi di antara kami berdua nantinya.
"Aku bakal bantu kamu apa aja, kalau kamu minta, Liam" ujarnya sambil mengedipkan matanya dengan sedikit cepat hingga membuatnya terlihat gemas dan seksi.
Apalagi ia yang sudah dalam pakaian siap tidur, mengenakan tanktop pink dan celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, membuat dirinya terlihat menggoda. Seniorku di kampus tersebut kini tengah menarik turun celanaku dengan lembut, tanpa ada penolakan sedikitpun dari diriku. Mudahnya ia menanggalkan pelindung tubuh bawahku tersebut dan membuat kejantananku yang kembali menegak mencuat, mengacung jantan di depan wajahnya yang kini terpesona.
"Sama cewek mana aja berdiri nih?" ledeknya, menyentuh ujung penisku dengan nakal sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
Aku hanya membalas sambil terkekeh, namun sentuhannya yang lembut itu berhasil menghantarkan sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuhku. Kali ini tubuhku duduk dengan rileks dengan kedua tangan menumpu di kasur, menikmati apa yang Lia lakukan pada kejantananku yang sudah dalam kondisi siap.
"Kasian ya, gak ada yang bantuin kamu ya..." ucap Lia sambil mengusap-usap penisku, mengusap lembut dari puncak kepala sampai ke pangkalnya dengan lembut dan perlahan namun membuat kejantananku semakin mengeras dan tak sabar.
Tentu tak ku koreksi, tidak mungkin bagiku mengatakan kalau aku dan Marsha sudah melakukannya. Aku juga tidak mungkin mengatakan kalau Kathrin yang pertama kali memanjakan penisku. Apa yang akan dipikirkan Lia kalau ia mengetahuinya?
"Uggh.." lembut tangannya yang kini tak lagi mengusap penisku namun sudah mengocoknya dengan perlahan membuat nafasku perlahan menjadi berat.
Ia mengocok dan mengurut penisku dengan tangan kanannya yang halus sedangkan tangan kirinya mengusap-usap paha bagian dalamku sampai ke selangkanganku juga dengan gerakan yang lembut. Sungguh aku tak menyangka bahwa perlakuan Lia lembut dan memanjakan, tidak terlihat dari keseharian dan gerak-geriknya kalau ia memiliki kemampuan memanjakan pria seperti ini. Kepalanya kini berada di atas kepala penisku, dengan mulut yang membuka dan tangan yang menyelipkan sisi rambutnya kebalik telinga, Lia meneteskan liur sambil matanya menoleh ke atas menatap mataku dengan menggodanya. Stimulus-stimulus yang ia berikan benar-benar membangkitkan birahi yang tadi tak terealisasi dengan Fiony.
"Puuh.. cuph.." Lia meneteskan liurnya di atas kepala penisku, lalu mencium kepala penisku sambil mengucurkan liurnya lagi ke sana.
Rasa basah yang hangat menggelitik penisku, namun setelahnya menjadi dingin karena rasa basah itu terkena oleh hawa dingin dari ac. Dengan cekatan tangannya membalurkan liurnya pada penisku, mengurut naik turun dari kepala sampai pangkal untuk meratakan basah liurnya sambil sesekali memberi ciuman pada kepala penis maupun sisi batang penisku. Kepalaku rasanya melayang, tak pernah terbayang senior di kampus ini akan memberikan kenikmatan padaku. Hubungan yang aku kira akan menjadi hubungan positif saling membantu dengannya sebagai tetangga, ternyata memanas dan lebih jauh dari yang aku bayangkan. Tak terlihat ada keengganan dari Lia, ia juga menikmati dalam memberikan kepuasan padaku.
"Uugh Ci..." kembali erangan lolos dari bibirku saat tangannya mengocok penisku, bantuan dari liurnya yang merata di permukaan penisku membuat kocokannya menjadi lebih lancar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Homestay48
FanfictionLiam, seorang pemuda yang memulai hidup barunya dengan tinggal di sebuah Homestay "Helisma". keadaan kuliahnya membuat ia harus memilih tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di tempat baru dengan suasana baru justru membuat hidup Liam dipenuhi banyak...
