Kedekatanku dengan Gracie menjadi berbeda dari sebelumnya. Tidak dekat, tidak jauh, namun tidak penuh bersitegang seperti sebelumnya. Kami jadi lebih sering berbicara meski hanya hal kecil atau soal perkuliahan. Selalu jadi bisa menemukan hal yang bisa dibicarakan meski hanya singkat dan sesaat—entah mengenai perkuliahan, kehidupan di kost, maupun percakapan kecil mengenai penghuni kost lain yang tidak sengaja kami lihat. Kedekatan yang mulai bertambah poin membuatku menjalani hari lebih baik.
"Liam."
Sebuah panggilan yang singkat—dingin—seperti mengikat diriku menggunakan rantai. Menghentikan langkahku, menguncinya diam. Suara Marsha yang tidak ceria, tidak manis dan lucu seperti biasanya. Tidak tergambar ekspresinya dari suara tersebut—datar.
"Iya, Maeng."
Balasku, memutar tubuhku untuk melihat ke arah Marsha yang tengah berdiri di depan kamarnya. Dengan tatapan yang tajam, bibir yang mengatup dan senyum miring yang menunjukkan ketidaksukaan. Aku langsung menghampiri dirinya, perlahan dengan takut.
"Ke.. kenapa?" tanyaku, bukan terbata karena panik tapi karena canggung yang aneh yang mengisi atmosfer.
"Deket banget sama Gracie, pacaran?"
"Eh, gak... kan satu kelas."
"Kalau satu kelas, harus dekat?"
"Kalau gak dekat, gimana?"
"Terlalu dekat, aneh."
Aku menghela nafas, berpikir bagaimana membalasnya. "Kamu cemburu?" tanyaku dengan tegas dan terus terang.
"Kalau iya?"
"Eh, masa iya?"
"Aku cemburu, karena aku yang dapat kamu pertama. Tapi sekarang kamu malah sama Gracie terus."
Kedua tangan marsha terlipat di dada, ia tampak begitu geram dan tak suka.
"Udah ngapain aja?"
"Makan bakmie yang kyak pernah kita makan? Sama makan di kampus juga, nugas bareng sama teman-teman kelas di kantin."
"Bukan itu yang aku tanya."
"Maksud kamu?"
Marsha menghela nafas, ia menatap dengan serius membuatku semakin merasa ditekan. "Udah kamu apain aja dia? Lebih dari aku? Enak ya dia? Makanya kamu betah banget sama dia."
Seperti menerima tinju telak di ulu hati, hantaman keras ala petinju kelas dunia yang menggeser tulang dan meretakkan rusuk. Rasa panas di tubuhku meningkat, amarah yang tiba-tiba tersulut dan rasa tak terima mendengar kata-kata Marsha. Aku mendekat, wajah kami mungkin kini hanya berjarak satu ruas penggaris kupu-kupu saja. Namun mataku menatap tajam, entah mengapa.
"Jangan sembarangan, Maeng."
"Loh... kenapa? Kan disini semua sama aja."
"Gak, gak gitu ya!" entah mengapa nadaku sedikit meninggi, aku sendiri tidak menyangka.
"Aku, Kath, Ce Fiony, Ceu Eli, trus siapa lagi? Yang udah kamu liat gilanya, yang udah kamu liat badannya?"
Kembali telak mengenai rahangku, membuatnya kelu dan tak bisa menjawab. Tapi rasa kesalnya masih kuat, masih ingin rasanya aku membantah kata-kata Marsha soal Gracie. Rasaku ingin membela Gracie begitu besar, entah mengapa aku tidak mengerti.
"Gracie gak kyak kalian!"
Marsha membelalak, wajahnya menjadi merah padam dan terlihat amat marah. "Maksud kamu?!"
Aku baru menyadari kata-kataku yang kurang ajar, tak sadar keluar begitu saja keluar dari mulutku. "Maaf."
Brak!
Pintu kamarnya menutup dengan keras, membanting pintu tepat di depan wajahku, Marsha tidak membalas satu katapun dan mengunci dirinya di kamar. Bunyi dentuman yang keras tersebut membuat beberapa penghuni menoleh ke arah lorong. Ada yang dari dalam kamar dengan wajah terkejut, ada pula yang melongok di ujung lorong karena penasaran. Aku melangkah untuk keluar dari Homestay, tak peduli dengan sorot mata yang memperhatikanku, menatap dengan penuh tanya dan seakan menghakimi dari intuisi mereka saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Homestay48
FanfictionLiam, seorang pemuda yang memulai hidup barunya dengan tinggal di sebuah Homestay "Helisma". keadaan kuliahnya membuat ia harus memilih tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di tempat baru dengan suasana baru justru membuat hidup Liam dipenuhi banyak...
