Liam, seorang pemuda yang memulai hidup barunya dengan tinggal di sebuah Homestay "Helisma". keadaan kuliahnya membuat ia harus memilih tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di tempat baru dengan suasana baru justru membuat hidup Liam dipenuhi banyak...
Sesuai janji, aku dan Gracie kini sama-sama berdiri di pintu depan kost. Aku sudah siap untuk pergi sambil menunggu Gracie yang sedang memakai sepatu slop berwarna putih. Aku berdiri diam sambil memperhatikan dirinya, bukan karena lama menunggu. Kecantikannya yang membuatku diam mematung, menatap lamat dirinya yang sedikit berjongkok untuk memakai sepatunya dengan rapi. Ia bangkit berdiri dan berhadapan denganku, membuatku bisa melihat dirinya secara utuh.
Ia terlihat sangat cantik—kecantikan yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Cardigan putih yang melapisi tanktop bunga, memberikan kesan cantik, manis, dan dewasa. Namun juga menggambarkan keimutan yang innocent. Keanggunannya diperkuat dengan rok denim lemas sepanjang tiga perempat berwarna biru muda. Perpaduan warna yang begitu manis—bagai melihat langit biru yang cerah dalam wujud manusia.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Cantik ya?" sebuah suara membuyarkan lamunanku.
Gracie juga menoleh ke arah sumber suara, seorang gadis bertubuh mungil yang tersenyum bangga ke arah Gracie.
Gracie menatap dengan tajam ke arah kakaknya tersebut. "Ci...!"
Seorang gadis lain menghampiri, gadis yang berkulit eksotis dan bertubuh pendek itu meledek ke arahku. "Udah dapet pacar aja nih? Baru pindah dan baru awal semester udah cem-ceman aja"
Aku hanya terkekeh, takut salah jawab apalagi melihat Gracie yang membuang pandangan ke arah gerbang kost. Aku meminta mereka untuk diam dan berhenti meledek kami berdua. Aku juga menjelaskan kalau ini hanyalah bayaran karena aku membantu Gracie, bukan berkencan atau seperti yang mereka pikirkan tersebut. Suara denting pagar menarik perhatian kami, Gracie sudah membuka pagar dan berdiri di sana.
Aku melambai pada para penghuni kost lalu menghampiri Gracie. "Iya... ayo"
Kami melangkah bersamaan keluar kost, menyusuri jalanan depan kost untuk menuju restoran bakmie. Perjalanan yang sepi—aku memperhatikan Gracie beberapa kali karena tidak menemukan bahasan yang tepat yang bisa aku bicarakan dengan dirinya.
Aku tak tau apakah ia menyadari aku memperhatikan dirinya namun ia menoleh padaku dan membuka suara. "Kenapa?" "Gapapa..."
"Oh, oke..."
Langkah kami kembali berlanjut tanpa kata, tapi aku menyadari kalau kini ia juga sesekali melihat kepadaku.
"Waktu itu naik apa?" tanya Gracie tiba-tiba memecah keheningan.
"Eh... naik mobilnya Ce Fiony"
"Oh gitu, sama kak Freya juga ya?" "Iya sama dia juga." "Hmm... oke, berarti jaminan enak ya" "Pasti!" "Oke... kalau gak enak, berarti bener sial kalau sama kamu" "masih?!"
"hahahaha"
Langit sore ini seperti cat air yang ditumpahkan sembarangan—biru lembut di ujung langit, bercampur jingga keemasan yang mengintip malu dari sela awan. Seperti disempurnakan Tuhan untuk menemani perjalanan kecil kami untuk makan bakmie bersama. Suasana yang mulai cair dihangatkan oleh percakapan kecil yang terjadi di antara kami. Berjalan berdampingan di trotoar yang sudah mulai retak sambil melihat-lihat sekitar, sesekali melewati rumah-rumah kecil dengan pagar kayu yang dipenuhi tanaman rambat dan tembok bata merah yang memberikan kesan kuno namun aestetik.