Soo Hyun memijat pangkal hidungnya ketika merasakan pening di kepala. Sudah tiga jam dia duduk di depan laptopnya namun dia masih belum mampu menyelesaikan satu halaman.
Dia menghela nafas dan menatap langit-langit kamarnya. Bayangan jiwon yang kala itu terlihat sangat menyedihkan menyapa pikirannya.
Sejak mereka berpisah malam itu, dia tidak pernah lagi bertemu dengan jiwon. Tida bisa dihubungi pula. Eksistensi wanita itu seolah hilang tanpa jejak bak ditelan bumi.
Dia merindukan wanita itu, kalau boleh jujur alasan dia tidak bisa berpikir jernih hingga membuat performa dalam menulis turun dengan drastis. Dia tidak menyangka bahwa Jiwon akan membuatnya ketergantungan. Satu-satunya yang dapat membangkitkan gairanya dalam menulis. Lalu sekarang dia harus bagaimana dia tidak bisa bertemu dengan wanita itu.
Dering ponsel yang ia taruh di nakas, berhasil membuatnya terbangun dari lamunan, dengan gerakan cepat ia meraih ponselnya dengan harapan itu adalah Jiwon. Namun, harapan itu sirna karena bukan nama Jiwon yang tertampil di Icon layar, melainkan Jung Hongki.
Dengan kasar Soo Hyun meletakkan kembali ponselnya, tak ada niat untuk menjawab panggilan dari sahabatnya. Menunggu panggilan itu terputus dengan sendirinya.
Sekali lagi ponselnya berdering, ia yang awalnya tak ada niat untuk menjawab panggilan itu, akhirnya berubah pikiran karena merasa jengah dengan ponselnya yang terus berdering.
Alasan Soo Hyun merasa enggan untuk menjawab telpon dari Meneger stasiun TV itu karena dia tidak punya tenaga untuk meladeni ke cerewetannya. Lelaki itu suka sekali mengomel dan bercerita banyak hal, dan hari ini Soo Hyun tidak merasa dalam perasaan yang bagus untuk meladeni.
Begitu icon hijau dilayar digeser ke atas, suara menggebu segera menyapa pendengaran Soo Hyun.
"Ada apa Hongki?" Tanya Soo Hyun dengan nada malas.
"Datanglah ke Club malam di tengah kota malam ini."
"Aku tidak ada waktu untuk ke club malam ini. Aku sedang sibuk menyelesaikan naskah ku," jawab Soo Hyun dengan malas. Matanya masih tertuju pada layar laptop yang hanya menunjukkan lembaran putih Microsoft Word.
"Aku tahu kau sedang buntu, kemarilah boleh jadi kau mendapatkan inspirasi di sini." Suara Hongki di seberang sana sedikit teredam karena suara DJ yang sangat keras.
"Inspirasi seperti apa bisa ku dapatkan di tempat itu, Hongki-ssi." Soo Hyun menggerutu, dan hanya kekehan di seberang sana yang ia dapatkan.
"Kemarilah, aku menunggu mu." Sambungan telpon segera dimatikan oleh Hongki tanpa menunggu jawaban dari Soo Hyun.
Soo Hyun berdecak kesal, ia lantas menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul 9 malam, ia berpikir sejenak, mengetukkan jari telunjuk nya di meja. Tak berapa lama kemudian, dia meraih jaket kulit beserta kuncinya.
Sesampainya di club Soo Hyun segera dihampiri oleh Hongki yang sudah setengah mabuk. Dia membawa Soo Hyun menuju lantai dua dimana ruang VIP yang memang khusus ia pesan untuk mereka berdua.
Hongki segera menuangkan Vodka dengan kasar alkohol rendah, dia tahu Soo Hyun sedang mengurangi Alkohol akhir-akhir ini. Soo Hyun segera menenggak minuman itu setengahnya. Lantas menelisik seluruh penjuru ruang termasuk lantai dasar club yang kini sudah penuh dengan orang-orang yang meliuk-liuk menikmati dentuman musik yang keras.
"Bagaimana perasaan mu?" Tanya Hongki, tangan sebelah kirinya sibuk menggerakan gelas secara memutar menggoyang cairan pahit berwarna kuning keemasan.
"Ya.. Kurasa tidak buruk, " Jawab Soo Hyun, pemuda itu kembali meraih Vodka yang tersisa di gelasnya dan menenggaknya hingga tandas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Language
FanfictionREVISI FULL Kim Jiwon gadis bisu yang mengejar mimpinya sebagai seorang presenter. bertemu dengan penulis drama terkenal Kim Soo Hyun yang tengah dilanda depresi mencari ide untuk menyusun naska drama. Kisah keduanya terjalin karena insiden tidak s...
