Jiwon menatap pria di hadapannya dengan wajahnya yang masih pucat. Sekarang mereka sedang berada di lorong rumah sakit karena ibunya harus menerima jahitan di beberapa bagian tubuhnya yang terluka cukup parah.
Terimakasih.
Jiwon mengangkat tangan kanannya, jari-jari rapat dan terbuka, lalu meletakkannya di dekat bibir. Dengan gerakan lembut, ia mengarahkan tangan itu ke depan, seolah menyerahkan sesuatu yang berharga. Senyum kecil tersungging di wajahnya, menyampaikan rasa syukur yang tulus. Pandangannya penuh kehangatan, mempertegas isyarat "terima kasih" yang ia sampaikan dengan anggun dan sopan.
Pria di hadapannya lantas tersenyum. Matanya yang memang awalnya sipit kini menghilang.
Lee Je Hoon menggerakkan tangannya dengan penuh empati. Ia mengangkat kedua tangannya ke dada, jari-jari terbuka, lalu menurunkannya perlahan, seolah mengatakan, "Tidak apa-apa." Kemudian, dengan ekspresi wajah yang lembut, ia menggenggam kedua tangannya di depan, membentuk gerakan yang menunjukkan rasa peduli.
Selanjutnya, ia mengarahkan telapak tangan kanannya ke dada, lalu menunjuk ke depan dengan lembut gerakan universal yang berarti, "Kamu." Ia menyelesaikannya dengan menggerakkan tangan itu melingkar di udara, diiringi dengan tatapan hangat, menyiratkan perhatian tulus saat bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?"
Aku baik-baik saja, terimakasih telah menolong ku.
Jiwon tersenyum lembut. Je hoon lantas
Mengangguk, ia lantas mengajak Jiwon duduk di kursi tunggu.
"Ini kedua kalinya kita ketemu." Kata Jehoon dengan tangan yang bergerak lincah.
Jiwon mengerutkan keningnya mencoba mengingat kapan mereka bertemu. Matanya seketika melebar ketika mengingatnya. Seorang tentera yang menolongnya dari serangan Ayahnya.
Jiwon menyebutkan "tentara" dalam bahasa isyarat dengan membuat bentuk "L" dengan tangan kanan dan menepukkan tangan itu ke dada sebagai tanda penghormatan.
Je hoon mengangguk. Untuk kesekian kalinya. Lantas membuat Jiwon membungkukkan badannya berkali-kali membuat sebagai tanda terimakasih.
Je Hoon mengamati gerakan Jiwon dengan tatapan lembut dan penuh perhatian. Setelah beberapa kali Jiwon membungkuk dengan tulus, ia merasa ada beban yang sedikit terangkat dari hati Jiwon. Dalam keheningan yang tenang, Je Hoon menarik kursi di sebelahnya, mengundang Jiwon untuk duduk.
Jiwon duduk dengan hati yang lebih lega, meski wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran tentang ibunya. Je Hoon, meskipun mereka tidak berbicara banyak, sepertinya bisa merasakan perasaan Jiwon. Dia memberikan sedikit jarak, namun tetap menunjukkan bahwa dia siap untuk mendengarkan jika Jiwon ingin berbicara.
Keduanya duduk dalam diam, saling berbagi kenyamanan dengan bahasa yang tak perlu diucapkan. Jiwon, meskipun terbungkus dalam kecemasan, merasa ada kedamaian dalam kehadiran Je Hoon, yang entah bagaimana bisa memberikan rasa aman.
Tak lama kemudian, Je Hoon memecah keheningan dengan gerakan tangannya, berbicara melalui bahasa isyarat, "Kamu ingin sedikit istirahat? Aku bisa menemani."
Jiwon menatapnya dengan tatapan penuh rasa terima kasih. Dengan sedikit anggukan, dia membalas dengan senyuman kecil, mengungkapkan bahwa dia memang butuh waktu sejenak untuk menenangkan pikirannya. Je Hoon pun tersenyum kembali, memberikan ruang bagi Jiwon untuk meresapi semua perasaan yang bergemuruh di dalamnya.
Pada saat itu, keduanya tahu bahwa meskipun dunia mereka penuh dengan kekacauan dan ketidakpastian, kadang-kadang hanya dengan hadir dan berbagi diam sudah cukup untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan.
"Jiwon-ssi"
Je hoon menoleh ketika mendengar suara baritone. Seorang pria dengan topi hitam dan jaket hitam, menatap lurus pada Jiwon. Pria itu adalah Soo Hyun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Language
FanfictionREVISI FULL Kim Jiwon gadis bisu yang mengejar mimpinya sebagai seorang presenter. bertemu dengan penulis drama terkenal Kim Soo Hyun yang tengah dilanda depresi mencari ide untuk menyusun naska drama. Kisah keduanya terjalin karena insiden tidak s...
