Chapter 11

364 45 1
                                        

Gemuruh petir malam itu menenggelamkan teriakan dan isak tangis memohon ibah agar tidak melayangkan hantaman pada tubuh rentahnya. Derasnya hujan seolah mengejeknya bahwa sekeras apapun dia mengadu tak akan ada orang diluar sana yang akan mendengarnya dan datang untuk menolongnya.

Ji won tak bisa menyembunyikan tatapan benci dari matanya yang sudah memerah karena menahan air mata, mata merah itu berkilau bagai bunga mawar merah yang disinari rembulan. Menatap nyalah ayahnya yang nampaknya akal sehatnya sudah hilang akibat Alkohol. Dia seolah tak ada rasa ibah mendengar permohonan ampun dari istrinya yang terkulai lemas akibat kelelahan menerima pukulan.

Ji won sama payahnya dia sudah tidak bisa bergerak dengan kepala yang bersimbah darah akibat penganiayaan yang diterimanya.

Padahal sore hari itu ji won dan ibunya masih duduk santai menikmati cemilan kue beras namu tiba-tiba saja ayahnya datang membawa botol minuman dan tanpa babibu menghantamkannya ke kepala Ji won.

"Ada apa dengan caramu melihat ku?! " Bentak Kim pada Jiwon yang menatapnya penuh amarah. Dengan langkah lebar lelaki itu mendekati tubuh Jiwon yang meningkat di lantai yang dingin.

Kepala Jiwon tersentak dengan keras, beberapa helai rambut rontok akibat tarikan yang kuat.  Mata nyalang Kim menyorot Jiwon dengan tatapan penuh kebencian seolah Jiwon adalah noda dunia yang harus dihapuskan. Namun meski diperlakukan kasar Jiwon tidak merasa takut sama sekali. Dia dengan berani menatap ayahnya dengan keberanian yang ia punya.

Satu tamparan mendarat di pipi Jiwon, membuat bibirnya robek hingga darah mengalir melewati dagunya. Rasa panas yang menyebar di pipinya bukan apa-apa dengan dibandingkan dengan kebencian yang semakin membuncang dalam dirinya.

"Dasar Jalang!" Teriak Kim hendak melayangkan pukulan kepada Jiwon.

PRANK!

Darah menetes dari kepala Kim. Membuatnya menoleh, ia mendapati istrinya dengan tubuh yang bergetar, tangan kanannya memegang botol soju yang kini menyisakan ujungnya.

"BRENSEK!" Teriak Kim seperti orang kesetanan.

"JIWON LARILAH NAK, IBU AKAN MENAHAN LELAKI BRENSEK INI!"

"DASAR WANITA JALANG!" Kim segera menerjang tubuh Go eun, memukul tubuh wanita ringkih itu secara membabi buta.

Eomma!

"Larilah Nak, ibu mohon pada mu" Go eun berkata tanpa suara, namun Jiwon bisa mengerti dengan tepat. Tetapi dia menggeleng ribut. Bagaimana mungkin dia tega meninggalkan ibunya yang kini menahan sakit akibat hantaman membabi buta dari pria brensek yang sayangnya adalah ayahnya.

Tidak... Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan eomma!

"Lelaki ini akan membunuh kita berdua. Keluarlah selamatkan dirimu nak!"

Ji Won menggigit bibirnya yang sudah pecah, menahan perih yang terasa di sekujur tubuhnya. Darah mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan hujan yang membasahi wajahnya. Dia tidak bisa berbicara, tidak bisa berteriak meminta tolong. Bahkan saat tubuhnya gemetar penuh ketakutan, hanya isak tanpa suara yang keluar dari bibirnya.

Ibunya, Go Eun, masih berada di dalam rumah, menjadi sasaran amukan suaminya yang kehilangan akal karena alkohol. "Pergilah!" bibir Go Eun bergetar tanpa suara, memohon pada Ji Won dengan tatapan penuh kasih bercampur kepedihan. Ji Won menggeleng keras, air matanya bercucuran, tetapi tubuhnya lemah tak mampu bangkit.

Gemuruh petir di langit membelah malam. Ji Won menyeret tubuhnya yang lemas menuju pintu. Setiap langkah terasa seperti penghianatan terhadap ibunya, tetapi dia tahu, jika dia tetap tinggal, tidak akan ada harapan tersisa. Dengan langkah tertatih, dia membuka pintu dan melangkah keluar ke dalam hujan deras.

Love LanguageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang