Chapter 14

402 33 5
                                        

Angin senja yang hangat menyelinap melalui jendela ruang perawatan, tetapi Jiwon tetap diam, tatapannya tak lepas dari sosok ibunya di taman. Wanita itu duduk di bangku kayu, dikelilingi oleh kesibukan pagi rumah sakit—orang-orang berlalu-lalang, suara burung bercicit, dan beberapa pasien yang sedang bercengkrama dengan perawat. Namun, ibunya tampak seperti bagian lain dari dunia, tenggelam dalam sunyi yang hanya dimengerti olehnya.

Wajahnya yang tak lagi mudah, nampak kuyuh. Beberapa kali ibu jiwon menghela nafas. Tatapan Jiwon semakin sendu belum lagi perasaan takut yang selalu menyambangi hatinya, ia gelisah.

Tak terasa air matanya mengalir dingin di pipinya. "Agassi, apakah anda baik-baik saja?" Tanya seorang pasien yang duduk di kursi roda menatapnya dengan khawatir.

Jiwon lantas menggeleng ribut sambil mengusap air matanya. Seorang wanita tua itu lantas memegang ujung jaket Jiwon.

Halmoni...  Gerakan bibir tanpa suara Jiwon membuat wanita tua itu menatap iba. Kemudian mengusap lengan Jiwon dengan lembut.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu sedih... Tapi semua akan baik-baik saja." Tatapan hangat wanita tua itu membuat Jiwon mengangguk sembari menahan air matanya yang hendak luruh kembali.

"Aigoo... Wajah cantikmu jadi berantakan karena menangis." kata Wanita tua itu. Tangannya yang gemetar mencoba menghapus air mata Jiwon yang jatuh tanpa bisa dibendung. 

Tangisan Jiwon semakin menjadi kala tangan wanita dihadapannya menyentuh pipinya dengan lembut. Isak tangisnya terdengar pilu, membuat wanita itu menariknya dalam pelukannya yang ringkih, ia mengusap punggung Jiwon yang bergetar hebat agar gadis muda itu lebih tenang.

"Semua akan baik-baik saja." ujar wanita itu. Jiwon mengangguk dalam pelukannya.

"Halmoni... Kenapa kau membuat gadis muda menangis?!" Suara bariton berhasil membuat pelukan mereka terlepas. Mata Jiwon dan lelaki itu segera bertemu.

"Jiwon-ssi, apakah anda baik-baik saja?" Ti

"Ah... Aku baik-baik saja Jee hoon-ssi." Kata Jiwon sambil menghapus sisa-sisa air mata yang tertinggal si sudut matanya.

"Halmoni... Kenapa membuat anak orang menangis?!"

"Kau memfitnah ku sekarang hah?"  Wanita tua itu menatap tajam Jee hoon merasa tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan kepadanya.

"Tidak, hanya saja kenapa dia bisa menangis seperti ini?!" pungkas Jee Hoon masih tidak percaya.

"Kau pikir karena aku berada bersamanya lantas aku yang menjadi penyebab dia menangis? Yang benar saja kau ini?! Hei Jee Hoon-a walau nenekmu ini cerewet, aku masih punya hati..." Omelan Wanita tua itu berhenti lantas matanya memicing pada Jee Hoon.  "Tunggu sebentar? Kau kenal gadis ini? Sejak kapan kau dekat dengan  nya?! Kau tidak memberitahukan nenek jika kau dekat dengan seorang gadis cantik, dulu bahkan setelah masa wajib militer mu selesai kau malah langsung menuju kantor mu dan bekerja dibandingkan menghampiri nenekmu! Yak! Cucu macam apa kau ini?!" Wanita itu berteriak di depan Je Hoon dengan lantang, membuat pemuda bertubuh tinggi itu mundur beberapa langkah, matanya meliar merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang yang mengarah pada mereka.

"Memang tidak ada gunanya membesarkan seorang cucu." Omel wanita itu dengan nada jengkel.

Namun raut wajah jengkel wanita tua itu segera berubah ceria ketika dia bertemu pandang dengan Jiwon yang kini memasang wajah tegang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 28, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love LanguageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang