بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
(اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ)
Mohon maaf bila tidak dapat feel nya
Happy reading
🌟🌟🌟
Jika tidak ingin di permalukan, maka jangan mempermalukan
___
Biasanya setelah sholat Maghrib, jadwal santri adalah kelas kitab. Namun sebelum ke kelas kitab, salah satu ustadz di sana ingin mengulang materi fiqih. Tentang Najis. Memang sebulan sekali atau dua pekan sekali terjadi pengulangan materi, agar santri bisa selalu mengingat nya.
Ustadz Hasan, ustadz yang akan mengajarkan ulang materi kepada santri-santri Al-Fariq. Tangan ustadz Hasan sudah memegang mikrofon. Setelah mengucapkan salam dan pemberitahuan pengulangan materi. Ustadz Hasan mulai bertanya kepada santriwan dan santriwati.
"Najis terbagi menjadi tiga bagian, yaitu?"tanya Hasan kemudian mengarahkan mikrofonnya ke depan.
"Najis mughalladhah!"para santri menjawab.
"Yaitu najis?"tanya Hasan.
"Berat!"
"Yang kedua najis?"
"Najis mutawassithah, najis sedang,"
"Ketiga?"
"Najis mukhaffafah, najis ringan,"
Hasan bertepuk tangan sebagai apresiasi."Nah, untuk cara menyucikan nya. Ada yang masih ingat? Dan seperti apa contoh najisnya,"
"MASIH!"
Sementara perempuan di samping Salwa. Mulutnya terkunci, namun telinga nya terbuka lebar untuk mendengarnya. Ia menoel-noel lengan salwa,
"Salwa tahu?"tanyanya.
Salwa menoleh pada Aisyah, perempuan di samping nya. Ia lalu mengangguk serta berucap,"In syaa Allah tahu."Bagaimana tidak tahu dan bisa melupakannya, materi ini saja ia sering dengar ataupun membacanya.
Aisyah manggut-manggut."Aisyah aja nggak tahu,"ucapnya menghela nafas.
Salwa mengusap lengan Aisyah,"Di sekolah maupun di rumah belum pernah di ajarkan?"
Aisyah mengedikkan bahunya,"Gak ingat."
"Yaudah nggak papa kak ais. Setelah ini kan jadi tahu,"ucap Salwa tersenyum menenangkan.
Mereka pun berdiam kembali, tidak berani mengobrol lama-lama. Karena bisa saja nanti ketahuan dan mendapatkan hukuman.
"Sebelum saya bertanya tentang bagaimana cara menyucikan nya pada kalian. Saya ingin bertanya dahulu, apa itu istilah najis ‘ainiyah” dan najis hukmiyah? "tanya ustadz Hasan.
Sementara di bagian laki-laki Ilham ingin menjawabnya. Namun tangan nya di turunkan oleh lutfan.
"Gak perlu. Mereka aja yang jawab,"ucap lutfan. Karena ingin mengetahui sejauh mana mereka (santri) memerhatikan pengajaran.
"Yeeehh Abang,"ucapnya mencemberutkan bibirnya.
Salah satu santriwan mengangkat tangannya dan berdiri,"Najis ‘ainiyah adalah najis yang memiliki warna, bau dan rasa atau kata lain memiliki wujudnya. Sementara najis hukmiyah adalah najis yang tidak memiliki warna, bau, dan rasa atau kata lain tidak memiliki wujud."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebening Air Mata Aisyah
RandomDendam, pelampiasan, broken home, cinta, kasih sayang, kehormatan, pengorbanan Ini kisah seorang perempuan lugu dan polos yang harus menanggung kebencian dari orang-orang. Yang tentu bukan kesalahannya. Menjadi tempat pelampiasan kedua orang tuany...
