بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
(اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ)
Mohon maaf bila tidak dapat feel nya
Happy reading
🌟🌟🌟
Kegiatan berbelanja mereka sudah selesai. Kedua laki-laki dan perempuan itu tidak langsung memutuskan pulang. Rayyan menawarkan pada Aisyah dan Salwa, apakah mereka ingin jalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang. Salwa menyerahkan keputusan nya pada Aisyah. Aisyah yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, akhirnya ia menyuruh Rayyan untuk mengantarkan ke tempat pelatihan memanah Annisa. Mengingat hari ini jadwal Annisa memanah.
Sesampainya di sana dan kaki melangkah keluar mobil. Aisyah melihat Annisa tengah melesetkan anak panah dari busur.
"Nisa!"panggil Aisyah. Tangannya melambai seraya berjingkrak, sudah bagaikan anak kecil.
Annisa yang merasa terpanggil menoleh, matanya bergerak mencari siapa yang memanggil nya. Kemudian ia dapat melihat Aisyah, membuat nya ia meletakkan peralatan panahnya dan berlari ke arah Aisyah.
Annisa menatap tidak percaya Aisyah."Lo beneran kabur?!"tukasnya membuat Aisyah mencebik kesal.
"Ilham nggak ada menyampaikan pesan gue?"Imbuhnya.
"Aisyah nggak kabur,"celutuk Ilham sebelum Aisyah menjawab. Annisa tidak terkejut melihat kedatangan Ilham. Bukankah Ilham pernah bercerita tentang Aisyah?
"Aisyah habis menemani Salwa berbelanja bahan dapur pesantren. Kesempatan Aisyah bisa keluar pesantren, Aisyah sempatkan ingin bertemu lo,"ucap Ilham menjelaskan.
Aisyah memeluk Annisa dan menggoyangkan badan Annisa ke kanan-kiri."Aisyah kangen sama Nisa,"ucapnya.
"Gue juga,"balas Annisa.
Setelah cukup, mereka berdua melerai pelukan. Annisa tersenyum menyapa melihat perempuan di belakang Aisyah.
Annisa menatap tanya Aisyah,"Salwa?"Aisyah mengangguk dan menarik Salwa berdiri di samping nya.
"Salwa baik banget sama Aisyah. Disana santriwati juga banyak yang baik sama Aisyah,"ucap Aisyah membuat Annisa tersenyum lega.
"Bagus! Kalau Lo nggak mengalami kayak di sekolah Lo dulu,"ucap Annisa membuat Salwa mengerti jika Aisyah pernah terbully.
Annisa mengulurkan tangan di depan Salwa."Nisa,"ucapnya memperkenalkan diri. Dengan senang hati Salwa membalasnya."Salam kenal kak Nisa. Saya, Salwa."
Annisa mengubah mimik wajahnya penuh tanda tanya. Kaka?
"Salwa lebih muda dari kita. Jarak satu tahun. Tapi, di pesantren Salwa bukan lagi junior, Salwa itu senior. Orang terpercaya bagi pengasuh pesantren untuk menjaga santriwati. Sangat terpandang di pesantren,"ucap Aisyah menceritakan dengan excited banget membuat Salwa meringis seraya menggaruk pelipis nya.
"Enggak juga kak Aisyah. Kadang, ada yang nggak kenal Salwa kali bertemu,"ucap Salwa.
"Tapi, mereka udah nggak asing lagi dengan nama salwa,"ucap Aisyah benar. Salwa yang menunduk malu. Perempuan itu selalu merasa tidak nyaman atau malu jika ada yang memujinya dan terlalu membangga-banggakan dirinya.
"Pasti udah lama ya mondoknya?"tanya Annisa.
"Udah. Dari kecil,"jawab Salwa.
"Orang tua Salwa mengenal Abba sama umma lama. Dan waktu orang tua Salwa ajak Salwa ke pesantren. Salwa justru nyaman di pesantren dan nggak mau pulang. katanya mau mondok di sana. Akhirnya orang tua Salwa membiarkan Salwa pondok dan percaya kalau Abba dan umma bisa menjaga Salwa. Salwa dekat dengan Abba umma bukan karena udah lama di pesantren. Tapi, karena udah dekat dari kecil."Annisa terbatuk-batuk yang di buat-buat mendengar penjelasan teman sekolah nya. Suara temannya itu berbeda saat menceritakan tentang Salwa. Tidak ada dingin atau datar, namun sangat semangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebening Air Mata Aisyah
AcakDendam, pelampiasan, broken home, cinta, kasih sayang, kehormatan, pengorbanan Ini kisah seorang perempuan lugu dan polos yang harus menanggung kebencian dari orang-orang. Yang tentu bukan kesalahannya. Menjadi tempat pelampiasan kedua orang tuany...
