بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Sebelum baca jangan lupa pencet bintang nya⭐
Happy Reading
"Gimana keponakan mu, syila?"mendengar itu, Arsyila menghela nafas berat membuat perempuan di depan Syila langsung mengerti.
Arsyila menatap sahabat perempuannya yang sudah seperti seorang Kaka baginya. Karena sahabatnya itu lebih tua darinya.
Nasywa dan Arsyila umurnya tidak terlalu jauh. Nasywa sudah memiliki ke dua putra, bahkan putra pertamanya umurnya lebih jauh dari Aisyah. Sementara Arsyila masih memilih sendiri. Arsyila memilih untuk menjadi perawan tua. Ia hanya ingin fokus terhadap Aisyah. Aisyah sudah cukup bagi Arsyila sebagai titipan terindah yang Allah berikan.
"Semakin susah di omongin kak Nasywa. Kemarin aja, Aisyah datang ke rumah orang tuanya waktu Arsyila pergi ke luar kota,"ucap Arsyila menciptakan raut ke khawatiran Nasywa.
"Gimana keadaannya, syila?"
Tatapan Syila berubah menjadi sendu,"Seperti biasa, Aisyah punya luka lebam lagi di punggung, kaki, tangan."
"Arsyila ingin melaporkan orang tua Aisyah ke polisi. Tapi pastinya Aisyah akan marah. Semakin ke sini Aisyah terus berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Tapi, tetap saja Aisyah di abaikan oleh mereka. Terkadang justru Aisyah dapat luka. Arsyila nggak tega lihat Aisyah seperti itu. Syila terlihat jahat ya? Memisahkan anak dari orang tuanya,"ucap Syila mengaduk-aduk minumannya. Mereka berdua tengah berada di caffe.
Nasywa menggeleng,"Kamu nggak jahat syila. Apa yang kamu lakukan untuk kebaikan Aisyah."Jemari Nasywa mengusap punggung tangan Arsyila,"Aisyah terkadang tidak menuruti perkataan mu juga sebenarnya tidak salah. Sebagai seorang anak, Aisyah punya harapan agar orang tuanya memberi kasih sayang. Aisyah begitu yakin jika mereka akan berubah. Walaupun sampai saat ini, mereka belum sayang pada Aisyah."
"Aisyah patut di beri penghargaan. Dia masih bertahan dalam usahanya untuk mendapatkan kasih sayang mereka, walaupun ia terus mendapatkan luka,"ucap Nasywa membuat arsyila menatap Nasywa. Tatapan nya begitu lelah.
"Tapi sampai kapan kak, Aisyah seperti itu?"
"Jika Aisyah sudah lelah, pasti ia akan berhenti. Kita doa kan saja, semoga usaha Aisyah tidak mengkhianati hasil,"ucap Nasywa.
"Aamiin."
"Jika orang tua Aisyah sudah begitu keterlaluan. Sebenarnya ini sudah keterlaluan, tapi bisa saja kan, mereka bisa lebih keterlaluan. Kaka sarankan, bawa Aisyah menjauh dari mereka sementara. Aisyah berhak mendapatkan kebahagiaan dan tidak terluka terus menerus,"ucap Nasywa dan di angguki arsyila.
"Syila sebenarnya sedang khawatir kak, kalau meninggalkan Aisyah lagi ke luar kota. Apa syila berhenti kerja aja ya?" Nasywa yang hendak minum seketika berhenti mendengar nya.
"Jangan syila. Kamu bekerja juga buat Aisyah. Dan usaha mu untuk ke jabatan yang sekarang sangat begitu susah,"saran Nasywa.
"Menjaga Aisyah lebih penting. Syila mungkin akan memperbolehkan Aisyah bertemu orang tuanya dengan satu syarat, yaitu harus dengan syila. Tapi, Kaka tahu sendiri kan? Aisyah selalu diam-diam bertemu orang tuanya saat Syila ke luar kota,"ucap Arsyila menghela nafas.
Nasywa mengetuk-ngetuk meja, memudahkan untuk berpikir sejenak."Serahkan Aisyah pada Kaka. Izinkan ia tinggal di rumah Kaka,"saran Nasywa.
"Tapi kak, Apa nanti kata orang-orang pesantren?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebening Air Mata Aisyah
AcakDendam, pelampiasan, broken home, cinta, kasih sayang, kehormatan, pengorbanan Ini kisah seorang perempuan lugu dan polos yang harus menanggung kebencian dari orang-orang. Yang tentu bukan kesalahannya. Menjadi tempat pelampiasan kedua orang tuany...
