LAST CHAPTER ASHJASFGJSHD
happy reading!
◊◊◊◊◊
1 month later...
"Kei, kau sudah siap?" tanya Harry dari luar dressing room.
"Uh, sebentar. Harry kau bisa bantu aku?" sautku seraya membukakan pintu. Terlihat Harry sudah siap memakai tuxedo nya. Dia terlihat tampan.
"Bantu apa?" tanya Harry yang masuk dan langsung memperhatikanku dari atas sampai bawah, "Kau cantik,"
"Terimakasih, Harry. Tapi aku tidak punya waktu untuk menanggapi pujian mu. Bisa tolong kau pakaikan heels ku?" sautku seraya menunjuk sepasang heels 10cm. Dengan hati-hati Harry memasangkan heels itu. Oh, aku merasa seperti Cinderella sekarang.
"Done. Hey, aku harus ke bawah. Kau tahu, aku harus menyapa para tamu undangan. Setelah kau bereskan sanggul mu itu, kau hampiri Louis ya?" tanya Harry, dan tanpa persetujuanku Harry langsung melesat pergi.
Menghampiri Louis? Harus aku? Kenapa tidak Mom atau James? Oh, itu tidak mungkin. Bodohnya aku. Lebih baik aku mempersiapkan mental untuk bertemu Louis. Setelah hampir satu bulan tidak bertatap muka dengannya. Wish me luck.
Aku pun mengetuk pintu dan langsung membukanya, "Louis, apa kau su—,"
"Keira?" Louis yang sedang memakai dasi langsung berhenti dan menatapku dengan tatapan terkejut.
"Um. Ya, ini aku. Hai," sautku. Awkward.
"Apa kau sudah siap?" tanyaku.
"Kurang ini," saut Louis sambil menunjuk dasinya. Aku pun melihat untaian dasi yang tak karuan itu, dasar idiot, cara nya memakai dasi saja salah.
"Bodoh," sautku seraya mendekatkan diri ke arah Louis dan membenarkan dasinya.
"Cantik," saut Louis, seraya mengelus wajahku seraya perlahan.
Aku dapat menghirup harum nafasnya. Mint. Wajahku dan Louis pun semakin dekat. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Anything can happen, you know.
"Kau tahu, Kei, waktu 1 bulan tidak cukup utnuk menggantikan rasa cinta kepada pacar menjadi rasa cinta kepada adik," saut Louis, tepat di telingaku.
"Louis...," sautku dengan suara serak. Terlalu nervous berada di dekat orang yang kau cintai, huh, Kei?
"Keira, I have one last wish," saut Louis, menatapku lurus.
Sebelum aku sempat bertanya apa keinginannya, sebuah bibir mendarat tepat di bibirku. Milik Louis. Ciuman pertamaku dicuri oleh calon kakak tiriku sendiri. Aku pun memejamkan mata dan mulai mendalami ciuman, tetapi Louis langsung melepas ciumannya dan mencium keningku.
"It's enough. Mulai sekarang aku akan mencoba untuk mencintai mu sebagai adik sendiri," saut Louis sambil memegang kedua bahuku. Aku menatapnya dalam-dalam.
"Can you help me, Sister?" tanya Louis sambil tersenyum.
"Yes, Brother," jawabku dengan mantap dan balas tersenyum kepada Louis.
"Oke, lebih baik kita turun dan menemui tamu undangan. C'mon, Love!" Louis langsung menggandengku dan mengajakku turun ke bawah.
Semoga saja cinta Louis kepadaku sebagai adik lebih besar daripada saat kita berdua berpacaran. I love you, Brother.
◊◊◊◊◊
KAMU SEDANG MEMBACA
brother { tommo }
Fanfiction"Hey, Kei, kau tahu tidak?" "Tihdhakh," "Kau dan aku makan dengan 1 sendok yang sama," "Lhalhuh?" "Secara tidak langsung kita berciuman,"
