22

2.3K 200 13
                                        

"Haruto.. lo gaakan bisa nyogok gue pake semua makanan ini, ya. Gue tetep gaakan maafin lo," saat ini Junkyu tengah merebahkan dirinya di atas sofa sembari bermain game pada ponselnya. Ia memasang wajah tak senang begitu untuk ke sekian kalinya Haruto datang membawakan plastik berisi makanan untuknya.

"Kalo gue berhenti ngasih semua ini juga lo bakal ngerengek," memang masuk akal sih perkataan Haruto. Pasalnya Junkyu juga senang-senang saja diberikan berbagai jenis makanan seperti ini.

Tetapi ingat, Junkyu itu super gengsi.

"Enak aja! Stop perlakuin gue kaya omega!" protesnya. Pemuda koala itu juga menyukai makanan dan minuman orang dewasa seperti alkohol, kopi, dan lainnya. Mengapa pula Haruto selalu memberikannya makanan dan minuman manis, sih? Seperti omega saja.

Haruto mengendikkan bahunya ringan, "tapi lo lebih cocok jadi omega, Ji. Kayaknya hasil test lo salah deh." Yah, mau salah ataupun benar, tak akan berpengaruh untuk Haruto, sih.

"Berisik!" Junkyu memang melayangkan tatapan tak senang, namun tangannya tetap mengambil salah satu minuman kaleng yang Haruto belikan untuknya. Hari ini cuaca cukup panas, jadi minuman dingin pasti akan menyegarkan baginya.

"Ngomong-ngomong, gue mau tanya," ucap Junkyu setelah beberapa kali meneguk minumannya. Haruto pun ikut mendudukkan dirinya di sebelah sang koala sembari memainkan sosial medianya.

"Soal Junghwan," sambung Junkyu.

Haruto menoleh sejenak. Untuk apa Junkyu menanyakan pemuda So itu? "Kenapa?" tanyanya.

"Katanya lo tolak dia?"

Mendengar pertanyaan Junkyu yang terkesan banyak ingin tahu itu, Haruto hanya menganggukkan kepalanya, membenarkan pertanyaan yang sebenarnya tak begitu tertarik untuk ia bahas. "Iya," responnya singkat.

Junkyu mengangkat sebelah alisnya bingung, "kenapa? Gue pikir lo suka sama dia."

"Engga," ya, memang selama ini tidak begitu. Haruto hanya memperlakukan Junghwan sewajarnya, mungkin sedikit spesial karena beberapa kali pemuda dengan ikon sapi itu membantunya di saat-saat genting --yang disebabkan oleh si koala--. Ia hanya ingin berterima kasih dan tidak lebih dari itu.

Yang berlebihan disini hanyalah Junkyu. Dan juga Junghwan yang malah terbawa perasaan atas tindakannya.

"Terus kenapa selama ini lo deketin dia?" tanya Junkyu lagi.

Mengela nafasnya berat, Haruto balik bertanya, "yang selama ini deketin dia siapa sih, Kyu?" Ia bingung mengapa Junkyu terus-menerus mengira dirinya mendekati Junghwan. Padahal tak ada sama sekali muncul dalam pikirannya untuk mendekati pemuda So tersebut.

"Ya lo," ucap Junkyu sembari memajukan bibirnya.

Sungguh, Haruto lelah sekali terus membahas hal ini dengan Junkyu. "Dari awal gue bilang engga," harus berapa kali sih Haruto mengatakan bahwa ia sama sekali tak ada niatan untuk mendekati Junghwan?

"Terus? Lo suka sama siapa?" Junkyu ingat bahwa Junghwan sempat memberitahunya bahwa Haruto menyukai seseorang. Jika itu bukan Junghwan, lalu siapa?

Masa dirinya? Haha, tidak mungkin, kan?

"Ada deh," Haruto belum ingin menjawab. Biarkan saja Junkyu untuk sementara ini dan ia akan mengungkapkannya dengan caranya. Lagipula Junkyu pasti masih merasa tak nyaman berada di dekatnya karena hukuman tempo hari. Tak apa, waktu akan menjadi obat baginya.

"Gue gasuka tebak-tebakan," ucap Junkyu. Ia benar-benar penasaran sebenarnya. Apakah Junkyu mengharapkan sesuatu? Entahlah.

Haruto menggeleng ringan, "gue juga ga niat ngasih tau."

ENIGMA [Harukyu ver.] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang