Junkyu sudah siap dengan setelan renangnya. Meskipun ia tak begitu pandai, tetapi setidaknya ia ingin menikmati fasilitas kolam sejak terakhir kali dirinya berenang, sudah cukup lama. Ia berjalan menuju kolam, menemukan orang tuanya dan Haruto tengah sibuk berkompetisi renang.
"Lo ga ikut main?" Junkyu mendekati Haruto, yang memilih untuk duduk di sebuah kursi sembari bermain ponsel. Pakaiannya santai, namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergabung ke dalam kolam.
"Gue gabisa berenang," jawab pemuda itu.
Junkyu mengangkat sebelah alisnya bingung. Baru kali ini ia mengetahui Haruto tak bisa melakukan sesuatu. "Enigma jenis apaan lo?" ledeknya.
Haruto menatap Junkyu dengan iris gelapnya, "nantang gue?"
Meneguk ludah sejenak, Junkyu rasa Haruto akan melumpuhkannya dengan mudah jika dirinya mangatakan hal macam-macam. Baiklah, lebih baik ia membiarkan pemuda itu asik dengan dunianya sendiri.
Kedua tungkainya ia masukkan ke dalam air. Astaga, dingin sekali, tetapi sepertinya ia masih bisa menahannya. Kebetulan villa yang mereka tempati lokasinya agak jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Udara segar dan atmosfer sejuk begitu menenangkan bagi siapapun yang ingin menginap disana. Hanya saja, berenang akan sulit dilakukan jika kau memiliki riwayat penyakit hipotermia.
Menurunkan seluruh tubuhnya, Junkyu terkejut begitu menyadari kolam tersebut rupanya cukup dalam. "Gila, dalem banget. Gue juga gabisa kalo sedalem ini," meskipun ia dikategorikan bisa berenang, Junkyu itu cukup payah. Tidak jauh berbeda dengan Haruto.
"Loh, Haruto? Katanya lo gabisa berenang," Junkyu mengernyit begitu Haruto tiba-tiba bergabung dengannya dan ikut turun ke dalam kolam. Ia pikir Haruto tak ingin berenang.
"Sini, biar gue pegangin lo," tadi ketika Haruto memandang Junkyu, ia menahan kekehan begitu melihat tubuh sang koala hanya tersisa kepalanya saja. Pendek sekali bocah itu sampai-sampai hampir seluruh tubuhnya terkena air.
"Gue bisa sendiri," bohong, sih. Junkyu sama sekali tidak berani melakukannya jika kolamnya sedalam ini.
Haruto meraih kedua tangan Junkyu, menuntunnya untuk mulai berenang. "Lo nunduk dikit aja hilang dari permukaan, Kyu," ucapnya.
"Diem," astaga, mengapa pula ia menjadi gugup seperti ini begitu kedua tangannya bergandengan dengan tangan Haruto? Ayolah, Haruto hanya membantunya berenang. Tolong katakan pada jantung Junkyu agar tak berdetak terlalu cepat saat ini, bisa-bisa Haruto menyadari kegugupannya.
"Ayo," begitu Haruto mencoba menarik tangan sang koala sembari berjalan mundur, pada akhirnya Junkyu memilih untuk menurut. Yah, ia sudah terlanjur basah. Masa hanya ingin berjalan-jalan saja di dalam kolam?
Pemuda koala itu mulai mengangkat kakinya, membiarkan dirinya mengambang di permukaan dengan Haruto yang memegang kedua tangannya serta menuntunnya. Sebenarnya ia sedikit tidak fokus, jantungnya berdetak tak karuan serta wajahnya tepat menghadap dada sang enigma.
Karena basah oleh air, kaus Haruto jadi melekat dengan tubuhnya, memperjelas bentuk dadanya yang bidang, masih sama persis seperti terakhir kali Junkyu melihatnya. Bedanya saat itu ia melihat Haruto tanpa setelan apapun, sih.
Sial, mengapa pula ia harus mengingatnya di saat seperti ini? Junkyu jadi malu sendiri.
Gemas sekali melihat kedua insan yang seringkali berkelahi ini, orang tua mereka bahkan sampai terkekeh memandangnya.
Beberapa menit terus seperti itu, Junkyu tiba-tiba bertanya untuk mengalihkan rasa malunya, "Haruto, lo beneran gabisa berenang?" Sebenarnya ia sedikit tak percaya. Bagaimana bisa seseorang sedominan Haruto tak mampu melakukan hal semacam ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
ENIGMA [Harukyu ver.] ✔
Teen Fiction[Completed] Kim Junkyu merupakan seorang alpha dominan, setidaknya sebelum ia bertemu dengan sosok Watanabe Haruto yang merupakan seorang enigma, alpha dari segala alpha. "Gue ini alpha sejati, asal lo tau!" "Lo akan tetap jadi omega di bawah enigma...
![ENIGMA [Harukyu ver.] ✔](https://img.wattpad.com/cover/367909305-64-k220577.jpg)