24

2K 155 4
                                        

"Haruto sialan. Dia pikir gue bisa tahan apa?" Junkyu sibuk menggumamkan kekesalannya begitu ia sampai di rumah setelah membeli beberapa isi ulang pengharum ruangan. Sudah dua hari sejak Haruto memasuki masa rutnya dan sudah dua hari pula Junkyu merasa terpancing.

Kali ini ia melakukan apa yang biasa Haruto lakukan sebelumnya ketika ia membawa sembarang omega hasil taruhan, yaitu stand by duduk di hadapan sebuah pengharum ruangan elektrik, mencegah aroma feromon memasuki indra penciumannya.

"Junkyu, anterin makanan ini ke kamar Haruto, ya," ucap Nyonya Kim, yang sampai saat ini belum mengetahui bahwa Haruto tengah dalam masa rut. Yang ia tahu hanyalah Haruto sedang sakit.

Mendengar perintah ibunya, Junkyu segera saja menolak, "ngga mau, Ma! Jangan sama Junkyu."

Bagaimana jika Haruto kelepasan begitu bertemu dengannya?

"Mama lagi masak ini, kamu ngga bisa gantiin, kan? Jadi kamu antar sana sebentar," ia khawatir karena pemuda Watanabe itu tak ingin keluar dari kamarnya sejak kemarin. Haruto bilang bahwa ia hanya keluar dan makan ketika tak ada orang di rumah, namun bagaimana Nyonya Kim bisa percaya akan hal itu?

"Tapi, Ma--" Junkyu ingin protes, namun ibunya segera memotongnya.

"Sebentar aja, Kyu. Kamu ini disuruh sebentar susah banget," sang ibu mulai kesal ketika anaknya tak ingin menurutinya, padahal hanya perlu mengantar makanan sebentar.

Yah, maklum saja. Masa rut Haruto dirahasiakan oleh Junkyu. Jika tidak mungkin saja kedua orang tuanya akan memberikan ide aneh untuk meredakannya, dengan melibatkan dirinya.

"Ugh.. iya iya," mari berdoa agar Junkyu dapat selamat kali ini.

Pemuda koala itu mengambil makanan Haruto sebelum kemudian menaikki tangga dengan lemas. Ia was-was, jujur saja. Padahal ia sudah berencana untuk mendekam di dalam kamar sembari menghirup pengharum ruangan barunya, rupanya ia harus menghirup aroma feromon Haruto kali ini.

"Haruto! Gue bawain makan!" panggil Junkyu begitu ia sampai di depan pintu kamar Haruto.

Junkyu bingung apakah Haruto ini tuli atau semacamnya jika ia panggil dari luar? Pemuda itu benar-benar tak pernah menjawab panggilannya sejak kemarin.

"Haruto? Gue tinggal disini, ya," daripada harus mengambil resiko dengan masuk ke dalam sana, lebih baik Junkyu tinggalkan saja makanannya di depan pintu. Ia khawatir Haruto tiba-tiba akan menyerangnya.

Sayang sekali, teriakan ibunya dari lantai bawah menggagalkan usahanya untuk menjaga jarak.

"Bawa masuk dong, Junkyu. Masa kamu suruh Haruto ambil sendiri?" rupanya Nyonya Kim mendengar ucapan Junkyu, sehingga menyuruhnya untuk masuk saja.

Junkyu benar-benar tak ingin masuk, tetapi ia lebih tak ingin ibunya mengetahui bahwa Haruto tengah dalam masa rut. "Huft. Haruto, gue buka, ya," terpaksa Junkyu pun memasuki kamar sang enigma.

"Brengsek, nyengat banget," umpatnya begitu membuka pintu kamar Haruto.

"Kyu.. lo gaboleh masuk sini," suara Haruto terdengar lirih, ia kelihatannya lemas sekali. Tatapan matanya sayu, tubuhnya berpeluh, dan menenggelamkan dirinya di balik selimut --yang segera ia gunakan begitu menyadari Junkyu masuk--.

Sembari menahan nafas, Junkyu segera melangkahkan kakinya menuju meja belajar pemuda Watanabe itu dan menyimpan makanan tersebut di atasnya. "Gue simpen makanan doang. Nih, makan dulu. Gue males diomelin," ucapnya.

Junkyu menoleh ke arah Haruto yang rupanya tengah menutup matanya kuat-kuat, seolah tengah menahan sesuatu.

"H-Haru..?" panggil Junkyu pelan, mencoba memastikan apakah pemuda berparas tampan itu baik-baik saja.

ENIGMA [Harukyu ver.] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang