25

2.7K 162 7
                                        

Kelas hari ini baru saja selesai. Junkyu yang terpikirkan suatu ide untuk menyelamatkan hidupnya --dan statusnya-- itu segera menghampiri Junghwan dan menarik tangan pemuda itu untuk ikut bersamanya.

"Junghwan! Lo ikut gue pulang!" ucapnya.

Pemuda yang baru saja ditarik tangannya itu bingung begitu Junkyu menyeretnya keluar kelas. "Hah? Ngapain?" tanyanya.

"Udah ikut aja," Junkyu membawa Junghwan menuju tempat parkir mobilnya dan segera mempersilahkan pemuda itu untuk segera masuk.

Junghwan tak tahu apa yang tengah terjadi dan mengapa Junkyu menariknya begitu saja. Ia beberapa kali melontarkan pertanyaan dan Junkyu hanya meresponnya untuk diam dan mengikuti perkataannya.

"Ji? Mau ngapain, sih?" tanya Junghwan sekali lagi, begitu keduanya telah duduk di dalam mobil dengan Junkyu yang segera membawa mobilnya pulang.

Setelah memastikan pemuda Kim itu tak dapat menolak perkataannya karena mereka sudah ada di dalam mobil, Junkyu pun mulai menjelaskan niat apa yang tengah diperbuatnya. "Ada hubungannya sama Haruto," jawabnya.

Ah, Junghwan jadi ingat bahwa Junkyu dan Haruto tinggal di bawah atap yang sama.

"Emang Haruto kenapa?" tanya Junghwan penasaran.

"Haruto rut," memilih untuk tak merahasiakannya karena toh Junghwan tak mungkin lompat dari mobil, Junkyu langsung saja menuju intinya.

"Hah?" Junghwan bingung, jika memang Haruto rut, lalu mengapa ia harus ikut pulang bersama Junkyu?

Jarak dari rumah Junkyu menuju sekolah tak begitu jauh, sehingga tinggal beberapa meter lagi mereka akan segera sampai. Junkyu mulai melambatkan mobilnya dan merespon kebingungan Junghwan, "pil gue ga ngaruh buat dia, jadi gue rasa lebih baik lo bantuin dia."

Memasang ekspresi terkejut, Junghwan mencoba untuk memastikan, "maksud lo.. gue sama Haruto..?"

Menangkap apa yang Junghwan maksud, pemuda Han itu segera mengiyakan. "Iya. Gue ga kuat nahan feromonnya Haruto terus-terusan." Jujur saja Junkyu juga lelah harus menahan diri setiap ia menghirup aroma Haruto. Memang menyenangkan sih, tetapi lama kelamaan ia merasa mabuk karenanya.

Begitu Junghwan menyadari ada yang aneh dari kalimat Junkyu, ia bertanya, "loh? Lo bisa cium feromon Haruto? Bukannya kalian berdua sama-sama alpha?"

Astaga, rupanya ada lagi satu orang yang belum mengetahui identitas Haruto yang sebenarnya. "Um.. itu.. gue jelasin nanti aja. Yang penting lo bantuin dia dulu," ucapnya.

Tak ada waktu lagi untuk menjelaskan, karena mereka kini telah sampai di pekarangan rumah Junkyu.

Seperti biasa Junkyu memarkirkan mobilnya di garasi rumah, dan sore ini kedua orang tuanya masih belum pulang. Ia rasa mereka masih memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan masa penyiksaan ini, karena sungguh, Junkyu terkadang merasa tak cukup kuat untuk menahannya.

"Ji, gue rasa ini gaakan berhasil, deh," ucap Junghwan begitu keduanya telah sampai di depan pintu rumah Junkyu, melepaskan sepatu mereka dan menyimpannya di atas rak.

"Udah lo ikutin gue aja, pasti bisa kok," meskipun dalam hati ia merasa ragu, namun Junkyu mencoba untuk berpikir positif.

Begitu membuka pintu, pemuda dengan ikon sapi itu cukup terkejut begitu indra penciumannya menangkap aroma menyengat yang menguar dari dalam. "Jadi.. ini feromon Haruto.." gumamnya.

Junkyu segera saja memasuki rumah diikuti Junghwan di belakangnya. Keduanya pun menaiki tangga dan segera berjalan menuju kamar Haruto.

Pemuda koala itu mencoba untuk langsung membuka pintu, namun rupanya pintu tersebut telah dikunci. Tumben sekali, tak biasanya Haruto mengunci pintu.

ENIGMA [Harukyu ver.] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang