36 - Hubungan yang Bebas

3.8K 223 2
                                        

Kalau kaliam shock sama updaten sblmnya yang gada isinya aku lebih shock 😭😭
Masalah jaringan as always wkwk emang agak agak

Enjoyyy!

===

“Besok juga bakal dibantuin, kok, sayang. Ada Ardan juga, kan.”
“Bikin script yuk, Mas?”
“Lah? Nggak bisa!”

---

CHAPTER 36 – Hubungan yang Bebas

Kantor Tama | 11.35

Senyum Tama mengembang permanen. Apapun masalah yang ada, ia hadapi dengan senyuman. Sekalipun Kev sedang berwajah lelah mengurusi prahara Orman Muldan yang tak kunjung memiliki titik temu, sekali lagi—Tama tetap tersenyum.

Sudah lewat seminggu sejak pertemuan resmi dua keluarga. Digelar juga acara lamaran yang hanya dihadiri kerabat dekat, lengkap dengan pemasangan cincin dan status tetap sebagai tunangan.

Efeknya bertahan lama, rupanya.

“Mas!” tegur Kev yang tak lagi sungkan memperlihatkan raut kesalnya. “Liat, sini! Mereka akhirnya gelar konferensi pers dan ngaku beberapa hal. Tapi bahkan masalah Tam’s nggak disebut! Saya jadi kesel sendiri, deh. Malah yang kena klarifikasi brand lain.”

Tama berdecak sebal karena sedari tadi Kev mengganggunya, “Iya, saya tau, Kev. Kamu itu cerewet juga, ya. Elif semalem ngabarin saya soal ini. Dia juga diskusiin langkah-langkah paling cepet yang bikin masalah ini cepet kelar. Dia udah gerah ngurusin Orman Muldan yang kebanyakan bicara.”

Kev diam menyimak.

“Pertama. Ada satu brand yang emang dendam sama dia. Kamu tau Elynia punya… ehm, nyokap mantan Sarah yang dulu, kan? Nasib brand itu udah nggak ketolong walaupun mereka punya backup bisnis lain. Hancur gara-gara Orman Muldan juga dan saya baru tau belakangan ini.”

Sekali lagi, wajah Kev semakin tertekuk.

“Kita bahas soal bisnis,” tegas Tama. “Elynia bukan keluarga lemah, I swear you know. Mereka keras dan berusaha balas dengan dasar dendam. Elif pikir coba kita masuk ke sana dan kerja sama.”

“Cara nekan pihak Orman Muldannya gimana, Mas?” tanya Kev.

“Bukti. Mereka punya rekaman hilang yang akhirnya bisa dibackup setelah dua tahun diusahain—sejak merk itu bangkrut. Cuman ya karena itu masalah lama, jadi mereka gak ambil pusing. Karena Tam’s kemarin ngungkit mereka jadi sekalian pengen balas dendam.”

“Kenapa Elif tahu mereka ada masa lalu kayak gitu?” tanya Kev heran.

Tama terkekeh, “Elif memang gitu tugasnya, Kev. Di satu kasus, dia harus nyari tau semuanya. Apapun, di masa lalu. Biar bisa menang. Mirip sama pengacara.”

Setelah beberapa diskusi lanjutan tentang orderan wedding dress yang sempat pending kemarin dan hal-hal mendesak, Tama menyelesaikan pertemuan mereka dengan dalih akan menghubungi Raya. Sudah waktunya makan siang. Mereka harus makan bersama.

“Raya, masih sibuk?” tanya Tama penuh harap.

“Masih, Mas. Kerjaan belum selesai. Kamu mau makan siang? Duluan aja, ya. Aku belum bisa diganggu sampai pulang! Dadah, Sayang!” suara di sana tampak ramai sekali.

Dengan cepat Tama menahan, “Heh! Bentar! Dengerin dulu!”

“Kenapa lagi? Ganggu, ih. Buruan!”

“Kamu longgarnya jam berapa? Ayo makan bareng, Raya,” ajak Tama.

Stable - Unstable [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang