---
CHAPTER 38 - Drama Seserahan
---
Salon Airis | 13.45
Dengan bibir mengerucut, Tama berulang kali mengecek jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Rencananya gagal total. Yang bermula ingin membeli seserahan Raya malah berakhir menunggui gadis itu di salon.
Bukan menunggui, sih. Katanya tinggal menjemput. Tapi menjemput apa yang ujungnya harus menunggu satu jam?!
Namanya juga Tama. Pada akhirnya, ia tetap memaksakan senyum begitu melihat Raya yang berwajah cerah keluar dari salon. Sial. Kenapa gadis itu semakin terlihat menawan menuju hari pernikahan mereka?
“Sudah?” tanya Tama sekaligus menyindirnya.
Raya terkekeh kecil, meninju pundak calonnya itu, “Udah! Maaf, ya, kukira tinggal sepuluh menit pas aku minta mas Tama jemput. Eh, satu jam.”
“Nggak papa. Ngapain aja tadi?” tanya Tama. Ia menggamit tangan Raya dan menuntunnya menuju mobil.
“Ada, deh. Calon suami nggak boleh tau!” kekeh Raya. “Ini kita makan siang terus langsung pulang, kan? Aku capek, tau.”
Sudah dua pekan ini Raya mengundurkan diri dari DailyNews. Acara pernikahan mereka tinggal hitung jari. Emm… lima, mungkin? Karena Raya sendiri tidak pernah diijinkan ikutcampur dalam persiapan—kecuali menentukan konsep dan ide. Semua diurus keluarganya juga Tama sedikit-sedikit.
“Aku ada kerjaan,” sahut Tama sedikit tak enak.
Raya memicing, “Kerjaan?”
“I-iya. Ada, mau keluar sama Ardan bahas sesuatu,” lanjut Tama. “Makan di mana, nih? Aku nggak bisa lama-lama, sayang. Serius. Kuantar balik langsung aja, gimana? Makanannya gojek aja. Mau?”
“Terserah, deh,” balas Raya akhirnya.
Ia tidak mau mendebat Tama. Lelaki itu sendiri tak mencoba membujuk, atau dia akan berakhir di apartemen Raya sampai malam. Agendanya dengan Ardan dan Sarah benar-benar tidak bisa diganggu.
Ya kali ia tidak memberi Raya seserahan untuk nanti?
Selama perjalanan mereka hanya diam. Tidak nyaman sebenarnya. Mulut Tama gatal ingin membuka topik-topik menyenangkan untuk menghibur Raya. But, yeah… lebih baik dia minta maaf saja nanti.
“Mau ngapain sama Ardan?” celetuk Raya tiba-tiba. Mobil Tama sudah berbelok menuju kawasan apartemen Raya.
“Mau beli sesuatu. Sama Sarah juga,” jawab Tama jujur.
“Sesuatu apa?” desaknya.
“Kamu nggak harus tau, sayang. Nggak usah dipikir,” balas Tama bingung. Ekor matanya melirik takut-takut ke arah Raya yang sudah kehilangan mood-nya. “Jangan cemberut, dong. Nikahnya bentar lagi, loh.”
Mobil Tama berhenti tepat di depan gedung apartemen Raya.
“Salim!” pinta Raya. Galak tapi malu-malu. “Belajar jadi istri, nih. Buru, Mas!”
Tama mengulum senyum. Ia menyalimi Raya dengan perasaan berdebar. Ada-ada saja!
“Dadah, sayang. I’ll call you.”
“Nyenyenyenye!”
Tawa kecil Tama mengiringi kepergian gadis itu menuju unitnya. Sementara Tama kemudian banting stir memutar arah menuju tempat perjanjiannya—butik Rawana milik salah satu kerabat mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stable - Unstable [END]
RomanceSatu atau dua kebetulan mungkin masuk akal. Tapi kebetulan kali ini membuat Rayadia Putri terlibat PDKT sat-set setelah mewawancarai designer muda terkenal--Tama Sastrawa. Bukan sosok lelaki dingin, namun tepat batasan. Bukan pula sosok yang cuek, n...
![Stable - Unstable [END]](https://img.wattpad.com/cover/372827125-64-k671627.jpg)