---
Tawa menggema di seluruh penjuru ruangan membuat Tama tersudut seketika. Memang dasarnya semua bapak-bapak kurang hiburan—termasuk Tama soon to be bagian dari mereka. Melepas penat sebelum acara yang benar-benar melelahkan sekaligus membahagiakan dua hari lagi.
---
CHAPTER 39 – Awal Kita
---
Hall Retrova Property of Astara Company | 08.35
“SAH!”
Suara riuh menggema begitu akad selesai diucapkan Tama dengan sepenuh hati. Perasaan pasangan kekasih itu begitu ringan setelahnya. Senyum sama sekali tak luntur dan turut menyertai kebahagiaan mereka hari ini.
Kebahagiaan baru setelah banyak sekali kesulitan yang selalu mereka perjuangkan.
Meski acara selanjutnya cukup melelahkan, Raya dan Tama dengan sukacita menyambut ramah 600 tamu undangan yang datang. Berbagai ucapan terima kasih setulus hati keduanya ucapkan menyambut tamu-tamu yang sudah menyempatkan hadir pagi ini.
Meskipun tentu saja mereka tahu. Tidak semua hadir karena keinginan, melainkan keharusan. Hubungan profesional tentunya harus terjalin dengan menghadiri acara-acara penting seperti ini. Apalagi, menurut orang luar sana, koneksi gabungan antara Astara dan Sastrawa sama sekali tidak boleh dilewatkan.
“Itu pengantinnya bahagia banget, ya? Saya kok jadi seneng udah bisa hadir. Padahal tadinya dipaksa sama suami. Enak, ya, hubungan yang gitu.”
“Tadi saya liat Tama Sastrawa sampai terharu. Duh, cinta banget, kah?”
“Maunya saya jodohin anak saya sama Raya, loh. Ternyata udah diembat dulu sama Sastrawa.”
“Alah, palingan cuman berkedok bisnis!”
“Nggak ada pengaruhnya kali, mereka nikah. Yang nerusin perusahaan juga bukan mereka berdua! Mana makanannya banyak ngambil merk UMKM, lagi! Nggak berkelas!”
Memang di setiap sudut gedung dikelilingi berbagai brand makanan ringan UMKM demi membantu mereka dikenal banyak orang. Ini usulan dari keluarga Tama. Meski tetap saja, hidangan utama mereka hasil dari test rasa berulang kali bekerja sama dengan salah satu restoran terkenal.
Kalau menuruti apa kata orang terus, sih, nggak akan ada habisnya. Toh, buktinya Raya dan Tama berdiri megah di sana dan tetap jadi pusat acara.
“Mas, pulang ke mana kita nanti?” tanya Raya. Wajahnya pias malu-malu menanyakan hal barusan. Pasalnya Tama berulang kali menyembunyikan di mana mereka akan tinggal setelah ini. Katanya, biar ada sedikit kejutan.
Tama mengulum senyum, “Ada, sayang. Di Seberang perumahan Glories ada Luxary yang beberapa properti punyanya Astara, tau? Kemarin aku bangun di sana. Nggak jauh-jauh amat dari kantor Tam’s yang baru sama rumah mama-ayah. Setuju, kan?"
Raya mengangguk sebelum kembali bertanya, “Tam’s mau pindah?”
“Iya. Rencananya mau ambil studio yang di deket DailyNews. Bukan karena kamu kerja di sana dulunya, sih—eh, tapi sebenernya gitu juga. Cuman cocok aja di pusat kota dan bangunannya sesuai sama yang Tam’s mau.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Stable - Unstable [END]
RomanceSatu atau dua kebetulan mungkin masuk akal. Tapi kebetulan kali ini membuat Rayadia Putri terlibat PDKT sat-set setelah mewawancarai designer muda terkenal--Tama Sastrawa. Bukan sosok lelaki dingin, namun tepat batasan. Bukan pula sosok yang cuek, n...
![Stable - Unstable [END]](https://img.wattpad.com/cover/372827125-64-k671627.jpg)