41 - Berlabuh [END]

7.7K 267 6
                                        

---

“Stop! Jangan ngomong apa-apa atau aku cium!” ancam Tama langsung.

Tambahlah cemberut Raya mendengarnya.

---

CHAPTER 41 – Berlabuh [END]

---

Ruang Makan | 20.55

“Sayang! Ngambek terus!” keluh Tama kehabisan akal. Ia bahkan berulang kali mendekati Raya hanya untuk sekedar memeluk tapi ditepis dengan bengis oleh sang puan.
Lirikan mata Raya kembali menyatakan kalau mereka benar-benar sedang bertengkar.

“Astaga,” desah frustasi itu benar-benar jelas dari setiap tarikan napas Tama. “Kamu mau bilang apa, deh? Aku dengerin kok. Maaf ya, tadi udah potong kamu ngomong.”

Raya menggeleng. Ia lanjut sibuk unpack barang-barang pindahan mereka.

“Sayang,” panggil Tama mengayun.

Sejenak tangan sibuk Raya berhenti. Ia menoleh pada Tama sebelum kemudian berucap, “Kamu harusnya terima aja, Mas. Nggak ada yang marah, kok. Aku nggak mau, ya, jadi penghambat karir kamu.”

“Penghambat dari mana?” tanya Tama kesal.

“Ya, penghambat?” balas Raya. Kini ia menatap Tama berani, “Kalau kamu gak ambil job, yang ada Tam’s sepi. Kalau suamiku nggak ada kerjaan masa aku yang harus kerja? Ogah!”

Tama menggeleng tak habis pikir begitu melihat Raya yang menahan senyum gelinya. “Oh, gitu?”

“Apa, sih. Banyak drama,” cetus Raya. Ia bangkit berdiri dan menubruk badan Tama kemudian memeluknya, “Aku sayang mas Tama banget. Ambil kerjaan Faranita nggak masalah, kok. Gak diambil juga lebih bagus. Aku tadinya mau ngomong baik-baik. Kamunya malah ancem mau cium aja.”

Lengan Tama langsung melingkari tubuh Raya, membawa gadis itu semakin dekat dalam dekapan, “Habisnya aku takut. Kita itu baru dua hari. Bertengkar aja mulu kerjaannya.”

“Iya, iya, maaf, ya? Itung-itung bales dendam! Kamu paksa kita langsung pindah hari ini, dan tadi kamu gak dengerin pas aku panggil,” balas Raya. Kini ia mengangkat wajahnya berhadapan tepat dengan Tama. “Brondongku ganteng banget, deh.”

Wajah tersipu lelaki itu membuat Raya terkekeh. Tama Sastrawa benar-benar masih diumur remaja puber!

Tak terima dengan perlakuan Raya, lelaki itu langsung menempelkan bibirnya di bibir Raya hingga membuat gadis itu diam seketika. “Kamu juga cantik. Cantik banget. Boleh, ya? Ambil janji kita dulu pas kita jadian—aku cium kamu setelah kita nikah.”

Dan selanjutnya, bibir Tama mulai bergerak melumat lembut bibir Raya.

---

Kamar Tama dan Raya | 18.20

“Udah belum?”

Suara Tama yang terdengar sangat sabar membuat Raya terkekeh. Ia memperhatikan istri cantiknya itu mematut diri di depan cermin. Apa saja step yang harus Raya lalui sampai membutuhkan waktu lebih lama dari proses menjahit pola dasar gaun Tam’s!

Beruntungnya gadis itu—atau mungkin sudah bukan gadis? Malam ini Tama dengan sukarela menungguinya sambil tersenyum alih-alih marah. Ajakan manisnya semalam semata untuk menebus kesalahan menyabotase staycation mereka kemarin.

Dinner berdua. Di rooftop salah satu hotel bintang lima yang menjadi property terbaru Astara Group.

“Aku jadi agak ngeri,” kekeh Raya sambil melirik sekilas Tama yang menatapnya penuh minat.

Stable - Unstable [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang