37 - Effort Extra

3.1K 214 4
                                        

Mau double up aja deh!
Jadi yang belum baca part 36.5 bisa ke sana dulu yaa

---

“Ya masa Tama mau ngalahin papa, sayang? Udah ditolak duluan jadi menantu, nanti,” balas papa kesal. “Udah bahas pelukan aja kamu. Kalian sejauh mana emangnya? Pelukan doang atau apa?”

Raya merengek kesal mendengarnya. “Pa! Mas Tama nggak aneh-aneh!”

CHAPTER 37 - Effort Extra

Kantor Tama | 14.25

“Gimana, Ray? Udah pas? Masih mau dikecilin?” tanya Tama yang berusaha terlihat sabar ketika fitting gaun Raya pertama kali. Atau katanya, sekaligus yang terakhir.

“Kelihatan gendut gak sih, Mas?” balas Raya khawatir. Ia merasa pinggulnya sedikit tampak lebar dengan gaun ukuran sekarang.

Gelengan Tama yang ke sekian untuk hari ini membuat Raya cemberut.

“Kalau kamu jawabnya gitu doang bikin aku tambah kesel, tau,” decak Raya.

“Kamu maunya aku jawab apa, sih? Udah bener dijawab enggak gendut, kok. Entar aku jawab beneran gendut kamu marah. Dijawab nggak gendut salah lagi. Salah mulu aku perasaan,” gerutu Tama kesal.

Lelaki itu menghempaskan diri di sofa dan langsung meraih satu gelas es teh super dingin di sana. Milik Raya.

Sementara gadis yang baru saja dimarahi langsung melipat bibir takut-takut. Tama marah, hei. Calon suaminya itu tampak kusut sekali. Bukannya menghabiskan waktu di salon sebelum pernikahan, Tama malah repot mengurusi ini-itu.

Sedikit banyak membuat Raya meringis merasa bersalah.

“Maass,” panggil Raya setengah merengek.

Tama memandangnya tajam, “Apa?”

“Masa calon suami marah gitu, sih? Aku lagi happy, loh. Kenapa, Mas? Kok nggak ada cerita kalau ada masalah? Sini, sini, aku peluk, ya,” dengan langkah kecil karena tubuhnya dibalut gaun pernikahan Raya menghampiri Tama.

“Ya masalahnya itu kamu,” semprot Tama kesal, tapi tetap menerima pelukan Raya. “Hati-hati. Nanti keserimpet, jatuh, rusak gaunnya. Bayar kompensasinya, mau?”

Bibir Raya maju kesal. Ia melepas pelukan dan memandang Tama lekat, “Beneran marah, ya? Maaf, dong. Pliiisss.”

Tama menghela napas lelah dan menggeleng kecil, “Liat dulu hari ini kamu rese apa enggak. Kalau enggak, bisa dimaafin. Kalau super baik nanti aku kasih hadiah. Aku beli beberapa ehem pas kemarin keluar bareng Kev.”

Meski bingung dengan kata ehem yang diucapkan Tama, fokus Raya justru langsung teralih pada Kev. Ia belum melihat lelaki jangkung satu itu hari ini. Biasanya setiap detik Kev akan menemani Tama.

“Cari siapa?” tanya Tama lembut sambil mengelus alis Raya yang tampak mengerut.

“Kev di mana, Mas?”

“Oh, dia lagi libur. Aku nggak tau dia serius apa enggak waktu bilang mau pulang ke rumah ortunya. Soalnya gebetan dia juga ikut libur dari kerjaan. Mana tau tiba-tiba ngedate,” jawab Tama santai. Ia terkekeh melihat wajah bingung Raya, “Kev itu ngabdi sama Sastrawa udah lama banget, sayang. Termasuk yang paling setia. Sesekali dia minta libur juga aku kasih cuma-cuma.”

Raya hanya manggut-manggut meski setengah penasaran siapa di balik gebetan Kev. Pasalnya lelaki itu super sibuk menjadi asisten Tama. Ditambah kepribadiannya yang agak tertutup.

Tapi jika dipikir-pikir lagi, Kev sangat suamiable, ya? Daripada Tama, gitu. Emmm… maksudnya. dari sifatnya yang lebih dewasa. Kelihatannya gitu gak, sih?

Stable - Unstable [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang