40 - Rumah Baru!

3.2K 170 1
                                        


---

“NO!” tolak Raya panik dan langsung melepaskan diri dari kungkungan Tama demi menyelamatkan diri.
Siulan geli Tama terdengar, “Dasar. Gak bakal aku lepasin juga kamu setelah ini.”

---

CHAPTER 40 – Rumah Baru!

---

Rumah Baru | 12.35

Rencana mereka yang akan menginap di Hall Retrova selama tiga hari lenyap sudah. Entah mengapa Tama memaksa Raya untuk menyudahi staycation ala-ala mereka hari ini dan memulai pindahan. Raya bahkan tidak bisa memaksanya lagi.

Sampai gadis itu mengeluarkan jurus ngambeknya, Tama tidak peduli.

Pekerjaan mereka memindahkan barang dimulai dari pagi. Raya menemani Tama mengepaki barangnya di rumah utama Sastrawa selama setengah saja. Barang lelaki itu tentu tidak banyak. Hanya baju santai lama, juga beberapa dokumen penting yang memang sengaja disimpan di sana.

Kemudian mereka bertolak menuju rumah lama Tama. Mungkin… sekitar satu jam setengah mereka selesai membereskan semuanya. Semuanya—dalam arti kamar Tama benar-benar kosong. Sampai ranjang kingsize yang ada di sana juga ikut dipindah ke rumah mereka sekarang.

Kata Tama, rumah ini akan sedikit direnovasi untuk dijadikan gudang bahan Tam’s, atau hal-hal yang berkaitan dengan anak kesayangan Tama satu itu.

“Terus kenapa yang di kamar Tamu nggak diangkut sekalian?” tanya Raya heran.

“Kalau darurat ada yang harus nginep bisa dipakai, sayang,” balas Tama lembut. Katanya, sebagai ganti sudah menolak keras permintaan Raya untuk menginap di tempat resepsi mereka kemarin.

Tujuan selanjutnya cukup berat bagi mereka berdua—Tama terutama. Apartemen Raya. Menyimpan berates-ratus barang yang katanya berharga, padahal aslinya yah… hanya bisa diperhitungkan sebagian.

Seperti baju-baju lama yang masih Raya perjuangkan untuk dibawa meski Tama sudah bilang fashion itu sudah berlalu lima-enam tahun lalu. Dari itu saja bahkan mereka mendapatkan satu koper besar.

Belum lagi baju pesta gadis itu. Baju formal. Baju santai. Peralatan make up, skincare, wadah-wadah, koleksi bando, buku-buku, dan entah apalagi itu.

“Disortir dulu bisa, kan? Aku temenin kok sampai selesai.”

“Perintahnya halus banget, ya,” sindir Raya di samping tangannya tetap bergerak memilah barang-barang dengan cekatan. “Kamu nggak suka sama cewek barangnya banyak, ya?”

Tama yang sedari tadi berdiri ikut mengambil duduk membantu Raya, “Jelek banget pikirannya. Barang cewek emang selalu banyak, kan? Coba sebut, siapa yang barangnya nggak banyak.”

Decakan kesal itu mengundang kekehan Tama.

“Seenggaknya banyak yang gak bikin sakit mata masih masuk di aku, kok,” tambah Tama. “Barang kamu gak banyak yang di apartemen. Tapi kalau udah digabung sama yang dari rumah orangtua kamu, ya jadinya banyak, sayang.”

Sampai beberapa saat kemudian Tama masih melangsungkan khotbah dadakannya terkait Raya, perempuan, dan barang-barang mereka. Yang sedari awal Raya sudah paham pada intinya lelaki itu meminta Raya meninggalkan koper baju lamanya!

Stable - Unstable [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang