36.5 - Our Moment

3K 189 1
                                        

Happy valentine day buat para jomblo wkwkwk 🔥
Actually aku nulis udah sampe tamat buttt semoga bisa jadwalin update secepatnya yaaa

Mana yang masih bertahan? 😭😭

---

Bibir Raya merengut, “Emang kamu mimpi jadi tunangannya siapa selain aku, Mas?!”

Tama berubah memandangnya serius, “Bahkan di mimpi aja, Raya, harapanku cuman kamu, loh. Enak aja ngomong gitu. Aku cium kamu, ya, kalau ngomong aneh-aneh lagi.”

---

CHAPTER 36.5 - Our Moment

Rumah Utama Astara | 15.50

Belakangan ini Raya selalu menyempatkan waktu untuk mampir ke rumah. Ia sadar, masa lajang di bawah tanggung jawab papa tinggal satu bulan lagi.

“Loh, papa enggak kerja?” tanya Raya heran begitu melihat papa dalam kondisi super santai. Kaos oblong hitam dengan celana selutut, ditambah tab yang sedang menampilkan game candy crush.

Sangat tidak Hanif Astara sehari-hari.

“Mama ngabarin kamu mau dateng. Dari kemarin papa kerja terus,” sahutnya. Yang bermakna: “Papa sengaja gak kerja biar ketemu kamu.”

Raya tersenyum. Ia duduk menempel pada papa dan mencuri ciuman sekilas di pipi. “Sejak kapan papanya Raya jadi sweet gini?” kekehnya.

“Kayaknya anak papa nggak ada yang suka nempel gini, deh,” balas papa sambil tersenyum. “Masa manjanya kamu udah selesai, Raya. Udah mau punya suami. Lebih muda, lagi. Kalau nggak ada yang dewasa gimana nanti?”

“Ya tinggal aduin mas Tama ke papa aja, beres kan?” sahut Raya. Ia tersenyum penuh arti.

Tangan papa terjulur merangkul pundak anak gadisnya. Putri yang ia didik dengan keras demi bisa melakukan semuanya sendiri, kini sudah beranjak dewasa. Rasa-rasanya, lelaki tua satu ini sedikit menyesal.

Kenapa ia tidak mendidik Raya dengan keras, disamping terus memberinya kasih sayang? Kenapa jalan yang dulu ia ambil justru membuat putrinya terkekang?

“Cowok tuh gitu, ya? Mikir mulu,” dengus Raya ketika beberapa saat memandangi wajah papanya yang tampak memikirkan sesuatu.

Papa terkekeh pelan, “Pasti. Laki-laki tanggung jawabnya banyak, Raya. Apalagi ayah. Apapun bakal mereka lakuin demi keluarganya hidup enak.”

“Alah, papa kan emang hidup enak dari lahir,” gerutu Raya yang langsung mendapat cubitan ringan di hidung. “Aku bener, loh?”

Papa menggeleng. “Bener, tapi enggak juga. Awal masa papa sama mama nikah nggak semenyenangkan itu. Kami nikah diburu-buru dan terburu-buru. Jadi banyak hal yang belum selesai.”

Gadis itu sedikit banyak tau bagaimana kisah kedua orangtuanya. Tapi bukan yang baru saja disampaikan papa. Ia hanya tahu mereka memang saling suka dan baru bertemu dua bulan kemudian menikah. Seperti kisah yang indah.

Ditambah papa adalah pewaris utama Astara yang dikenal bertangan besi. Keras dan sukses. Kehidupan mereka sudah pasti akan terjamin bahkan sampai mati.

Jadi Raya agak sangsi begitu papa mengatakan kehidupan mereka tidak cukup menyenangkan. Bukankah harusnya cukup? Hidup dengan orang yang kita cintai, memiliki pekerjaan yang menghasilkan, bahkan memiliki keturunan di tahun pertama menikah?

Lagipula, Hima juga pantas dijadikan penerus papanya.

“Nggak cuman cowok ya, Raya, yang suka mikir. Kamu juga,” decak papa begitu melihat putrinya melamun. “Kamu nggak percaya, kalau dulu pas Hima umur 5 bulan mama sama papa mau cerai?”

Stable - Unstable [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang