37.5 - Belajar Bareng

2.7K 179 1
                                        


***

“Kalau butuh bantuan langsung bilang ke mama atau Kev, ya? Dia yang paling ngerti Tama soalnya,” pesan mama. “Mama selalu berharap kalian baik-baik aja. Sekarang, ataupun nanti. Bisa diusahakan, kan?”

CHAPTER 37.5 - Belajar Bareng

Rumah Utama Sastrawa | 16.20

Terdengar tawa meremehkan dari Ardan begitu melihat kakak sulungnya kembali ke ruang tengah dengan wajah lesu. Ia tahu sekali. Mamanya yang berkali-kali mencari calon menantunya itu pasti tidak mengijinkan Tama masuk dalam obrolan mereka. Kapan lagi, katanya.

“Undangan udah dibikin?” tanya Tama akhirnya. Ia duduk dempet dengan Ardan demi melihat game yang sedang adik bungsunya itu mainkan.

Samar Ardan mengangguk. Alisnya menukik tajam penuh fokus sebelum kemudian berteriak, “YES! Gue menang, Mas!”

Meski geleng-geleng kepala, Tama ikut tersenyum melihatnya. “Itu menang biasa, kan? Seneng banget kayaknya.”

“Soalnya kalau kalah nanti rank-nya turun,” balas Ardan. Kini ia menyimpan ponselnya dan memusatkan perhatian penuh pada Tama. “Tadi bilang apa? Soal undangan? Udah selesai, tau, dari kapan. Lo nggak pernah nagih.”

“Kamu nggak pernah kasih tau saya,” elak Tama.

“Kayaknya di handpone satunya deh, Mas. Entar aja gue kirim. Gue lagi seneng liat lo diusir begini,” kekehnya. “Mama lagi bahas apa sama mbak Raya?” tanya Ardan penasaran.

Tama mengedikkan bahu, “Mana saya tau.”

“Lo keliatan pengen gabung banget, tau. Kepo juga, ya?” ledek Ardan. Terdengar samar tawa mama dan Raya dari halaman belakang. “Ayah kayaknya bentar lagi balik. Tadi mama minta beliin bubur yang di Warung Pojok. Udah tua begitu masih bucin ya, Mas. Kalau gue sih ogah.”

“Kamu belum ngerasain kali, masih kecil. Liat aja Sarah gimana bucinnya walaupun tarik ulur gitu,” terang Tama. “Apalagi mama sama ayah. Kamu paling tau mereka nggak pernah pisah lebih dari dua hari.”

Kekehan geli Ardan terdengar, “Emang! Kadang gemes liat mereka. Udah bukan umurnya gitu, loh!”

“Maksud kamu bukan umurnya itu apa, Ardan? Kamu berani, ya, ngeledek mama sama ayah begitu,” suara berat ayah terdengar. Satu tangannya menjewer ringan telinga Ardan sementara tangan yang lain terlihat membawa bubur pesanan mama. “Katanya Raya dateng, ya, Mas? Mana dia? Ayah udah nggak pernah lihat.”

Tama tersenyum tak enak, “Dikekepin sama mama.”

“Astaga ayah, ini telingaku lepasin dulu bisa, kali!” rengek Ardan ketika merasakan jeweran di telinganya justru semakin menguat.

“Ayah beliin bubur banyak buat Raya juga. Tapi karena adek kamu ngomong aneh-aneh nggak usah kasih dia jatah, ya?” kekeh ayah. “Ayo, siapin ruang makannya. Makan sore berarti, istilahnya.”

Dengan senyuman geli Tama melihat interaksi ayah dan Ardan yang sudah jarang ia lihat. Sekali lagi, ia perhatikan bagaimana ayah bersikap sebagai kepala keluarga. Menyiapkan ruang makan, katanya. Bukan mama, bukan bibi. Melainkan ayahnya sendiri yang bergerak agar semua sesuai kehendaknya.

Beberapa waktu lalu ayah pernah bilang. Rumah ini punya kita. Kita itu berarti memang ayah dan mama. Atau–Tama dan Raya segera. Dan memang tugasnya untuk bikin tempat kita pulang terasa nyaman.

Nyaman menurut ayah waktu itu, bisa terwujud kalau ayah dan mama sendiri yang gerak. Bukan bibi atau orang asing lain.

Jujur saja, Tama tersentak menyadari dirinya bahkan tidak pernah membantu Raya di dapur. Ia begitu fokus mengerjakan Tam’s dan pekerjaan. Seakan menimpakan semua kenyamanan ketika ia pulang nanti adalah tanggung jawab Raya.

Stable - Unstable [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang