(cute) step brother ; MashiHoon

318 12 1
                                        

Aku bikin yang oneshoot aja, ya. Kalau berpart takutnya ga ke kejar.

Jihoon semakin meringkuk dalam selimutnya. Pertengkaran orang tuanya sudah sering kali terjadi. Tapi hal itu tidak membuat Jihoon terbiasa. Rasanya masih menakutkan.

Teriakan Papanya dan Mamanya saling bersautan di sore yang nampak indah. Namun, tentu saja tak seindah suasana rumah sederhana milik mereka.

"Kamu kerja dong, Mas! Ini juga bukan uang aku. Ini buat SPP Jihoon!"

"Lo berani sama gue? Gue itu masih suami lo. Jangan mentang-mentang lo yang cari duit, lo jadi ngelawan!"

Suara nyaring dari kaca yang jatuh mengenai lantai membuat Jihoon tersentak. Ia bergumam lirih memanggil Mamanya. Ia merutuki dirinya yang tidak bisa apapun selain bersembunyi.

"Kalau lo nggak kasih gue duit, gue bisa jadiin anak lo ladang duit gue."

"Mas! Kamu nggak bisa! Kamu tega sama anak kamu sendiri? Dia anak kamu!"

"Anak gue?" Sakit sekali rasanya mendengar tawa menggelegar milik papanya. "Dia itu cuma anak lo! Kalau aja lo nggak hamil dan minta pertanggung jawaban gue, gue nggak akan ada di posisi ini. Gue bakal sukses! Gue yang bakal jadi pemimpin perusahaan. Bukan cuma tukang bersih-bersih!"

"Kalau gitu cerain aku! Aku juga muak sama kamu!"

"Jihoon!" Lamunan Jihoon buyar. Ia menatap keluarga barunya yang tengah menatapnya dengan canggung. "Kenapa kamu melamun, Jihoon? Masakan Ayah tidak seenak mamamu?"

Jihoon menggeleng dengan senyuman manisnya. "Nggak, Yah. Ini enak kok. Ayah hebat bisa masak nasi goreng."

Ayahnya itu tertawa sesekali mengacak rambut milik Jihoon dengan gemas. "Kalau begitu, siang nanti Ayah akan masak lagi untuk kalian."

Mashiho. Adik tiri dari Jihoon memutar bola matanya malas. "Ayah bukan masak, tapi lagi perang."

Jihoon dan Ayahnya tertawa mendengar celetukan dari Mashiho. "Emangnya sakit Mama parah, Yah?"

Ayahnya menggeleng. "Cuma demam biasa. Mungkin lelah karena baru pulang dari rumah nenek. Kamu tau sendiri, sesibuk apa Mama kamu di sana."

Jihoon mengiyakan. Lalu tatapannya beralih pada Mashiho yang ternyata menatapnya juga. Jihoon langsung kembali fokus pada sarapannya. Mengabaikan Mashiho yang masih menatapnya dengan pandangan yang intens.

🐹🐶

Sesaat setelah makan malam selesai, Jihoon kembali ke kamarnya. Ujian kelulusan sudah mendekat dan ia harus bisa menyelesaikannya dengan sebaik mungkin. Banyak mimpi yang ingin ia raih. Mulai dengan berkuliah dengan jurusan musik, lalu cita-citanya yang ingin menjadi pemusik.

Jihoon terkejut saat pintu terbuka dengan tiba-tiba. Raut wajah kesedihan Mamanya langsung menyapa. Membuat Jihoon bertanya-tanya. "Kenapa, Ma?"

"Ayah kamu, dia kecelakaan. Kamu sama adik kamu di rumah, ya?"

Jihoon mengangguk. "Hati-hati, Ma." Dalam hati ia berdoa tentang keselamatan ayahnya. Setelah merasakan kehangatan baru, ia tidak ingin kehilangan lagi.

Lelaki umur delapan belas itu terduduk di lantai. Ia ketakutan. Khawatir jika ayahnya kenapa-napa. Mereka baru bisa bahagia setelah lepas dari papanya.

Pintu kembali terbuka. Mashiho di dana, menatap Jihoon yang kini berderai air mata. Ia berjalan menghampiri kakak tirinya. Memeluk tubuh bergetar itu dengan penuh rasa keamanan. "It's okay. Ayah pasti bakal selamat."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 20, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

loverCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang