411.

1.3K 79 4
                                        

Detik berganti dengan menit, menit berganti dengan jam, jam berganti dengan hari, hari berganti dengan bulan.

Waktu begitu cepat berputar, begitupun dengan pernikahan Sabila dan juga Rava.
Setelah melakukan pernikahan yang sah dimata agama dan negara 2 bulan lalu, kini keduanya masih disibukkan dengan kegiatan masing-masing.

Belum ada agenda honeymoon seperti layaknya pengantin baru. Bahkan Rava di H+5 pernikahannyapun sudah memulai tour albumnya yang ia beri nama DoubleLlovestory.
Tak banyak yang berubah, mungkin status mereka yang sudah diketahui publik hanya membuat Sabila menjadi lebih leluasa untuk menemani Rava dari panggung kepanggung dan dari kota kekota.

Sabila akan menemani Rava jika ia sendiri memiliki waktu senggang, karena Nias Cafe yang ia dirikan itu kini sudah kembali mengepakkan sayapnya setelah sempat down beberapa waktu lalu, bahkan kini Nias Cafe sudah memiliki 50 cabang disetiap kotanya.

Keberhasilan Rava dan Sabila ini tak luput dari bantuan Rian Pradaya, ayah Sabila.
Rian memberi kepercayaan penuh kepada putri an juga menantunya itu untuk memulai kehidupan yang lebih baik lagi karena Rian percaya jika Rava memang bisa diandalkan.

Dapat dibuktikan dengan perjuangannya berpuluh-puluh tahun saat selalu mengusahakan hubungannya dengan Sabila membuat Rian tak ragu untuk menyerahkan putri kesayangannya bahkan kini Rian akan menyerahkan Pradaya Corp kepada Rava.

Pradaya Corp adalah sebuah perusahaan entertaitent yang sudah menjadi rumah untuk puluhan artis, perusaan yang sudah Rian kelolah dari puluhan tahun itu kini siap ia serahkan kepada menantunya.

Awalnya Rava enolak keras, ia merasa sungkan dan pantas mendapati itu semua. Rasa syukur yang teramat besar karena sudah diizinkan oleh Rian untuk memiliki Sabila secara seutuhnya saja itu sudah sangat cukup untuk Rava.

Tapi saat Rian bilang jika ia ingin menghabiskan masa tuanya bersama sang istri, dan melihat keberhasilan  putra putrinya sambil menggendong cucu membuat Rava rasanya tak bisa menolak permintaan ayah mertuanya itu.

Dan disinilah Rava sekarang sedang duduk dihadapan Rian didalam ruangan Rian diPradaya Corp.

"Gimana rav? Ada yang gak kamu ngerti?" Tanya Rian sambil menyenderkan tubuhnya pada kursi kebanggannya.

Rava menegakkan kepalanya, ia ikut merenggakan tubuhnya dan menyender pada kursi yang berada tepat dihadapannya ayahnya yang terhalang oleh meja kerja.

"Sejauh ini gak ada yah"

"Syukurlah, kan lagian dunia entertain memang udah makanan kamu sehari-hari jadi kayaknya memang gak akan ada kendala buat kamu kedepannya"

Rava menatap lekat mata ayah mertuanya itu, mencari-cari keraguan disana namun ia malah menemukan ketulusan dan kepercayaan yang kuat dari sang ayah.

"Yah, ayah beneran percaya nyerahin perusaahaan ini buat Rava?"

"Kenapa ayah harus gak percaya sama kamu?"

"Papa aja gak percaya sama Rava yah" Rava mengucapkannya dengan suara getir.

Ia menarik nafasnya dalam-dalam, ingatan tentang keluarganya seketika berputar dikepalanya.
Bagaimana dulu ia begitu diatur oleh sang papa, semua pergerakannya dipantau, ia tak bisa bebas melakukan apa pilihan hatinya, yang hanya bisa ia lakukan adalah hanya menurut perintah sang papa.

Bahkan masalah percintaannya pun harus diatur oleh Revan yang membuat dirinya harus merelakan Sabila masa itu.
Bahkan saat ia dan Sabila memutuskan nekat untuk mencoba mendapat restu Revan karena Sabila yang memintanya saat itu pun Revan malah mencaci maki dirinya dan juga Sabila, bahkan saat itu Kalendra yang tak punya dosapun jadi sasaran kemarahan Revan.

OsadhaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang