Gita terbangun kala dering alarm ponsel menggema di luasnya kamar yang ia huni saat ini. Posisinya masih sama seperti yang terakhir ia ingat semalam, dimana tangannya masih setia melingkari tubuh wanita yang tengah meringkuk dipelukannya
Ia beranjak dengan perlahan, takut mengusik tidur nyenyak sang tuan putri. Kemudian ia berjalan ke dalam walk-in closet untuk meminjam baju Kathrina. Bukannya tidak sopan, namun kemarin Kathrina yang menyuruhnya demikian
Beberapa waktu berlalu, ia telah selesai dengan rutinitas paginya. Kemudian ia mendekat ke arah ranjang untuk membangunkan Kathrina
"Kath, bangun" Gita mengguncang bahu Kathrina pelan
'hmm' Kathrina bergumam
"ayo. Udah siang" Gita masih berusaha
"lima menit lagi ma" Kathrina yang masih tak sadar mengira bahwa yang membangunkannya adalah sang mama, membuat Gita terkekeh. Bahkan dalam keadaan tak sadarpun, Kathrina mampu mencairkan hati Gita
"hey, it's me" Gita berbisik. Tangannya mengelus pipi Kathrina dari belakang
Bukannya bangun, Kathrina malah menarik tangan Gita dari pipinya ke dekapannya
"aku tinggal ya"
"jangan" Perlahan Kathrina membuka kedua mata indahnya. Ia berbalik dan menghadap langsung ke arah Gita
Matanya mengerjap pelan. Gita yang sudah wangi dan rapi terlihat dengan sangat jelas sekarang. Dengan suara sedikit serak khas bangun tidur, Kathrina tersenyum kecil dan menyapa. "Pagi ka Gita, udah cantik aja ni"
"pagi. Jangan ngegombal, sana mandi" Gita menarik tangannya yang masih berada di dekapan Kathrina. Kemudian ia bangun dari sisi Kathrina, berniat untuk turun menemui Maudy. Sebelum menggapai knop pintu, ia menoleh sebentar dan mendapati Kathrina yang menatapnya dengan masih terbaring di atas kasur
"sepuluh menit ga turun, aku berangkat duluan ya" ancam Gita. Kathrina langsung terbangun dan meloncat, buru-buru masuk ke kamar mandi
Gita menggeleng, "yaampun ada aja tingkahnya". Ia keluar dari kamar lalu menghampiri nyonya rumah yang sepertinya tengah berada di dapur
"pagi tante" sapa Gita dengan ramah
"eh, pagi nak Gita. Waahhh morning person ya" balas Maudy dengan tersenyum
"udah kebiasa bangun pagi di kost tante. Biasalah, buat nyari sarapan"
"keren banget. Kathrin mana bisa begitu" ucapnya membandingkan dengan si bungsu
Gita terkekeh, "maklum tante, dia masih anak kecil"
Maudy ikut terkekeh. "ngomong-ngomong, dia udah bangun kan?"
"udah tante, lagi mandi" jawabnya sambil mendekat ke arah Maudy yang tengah memotong sayuran. "Biar aku aja tan yang potong"
"jangan, masa tamu tante repotin"
"gapapa tante, malah aku yang ngerepotin tante nginep di sini"
"enggalah. Tante seneng kamu akhirnya ke sini"
"aku juga seneng bisa ketemu tante. Sini tan, pisaunya" Gita tetap kekeh ingin membantu
"hah yasudah kalau kamu maksa. Nih, hati-hati ya" pasrahnya dengan memberikan pisau dari tangannya
"iya tante" senyumnya merekah. Ia mulai memotong apa yang belum selesai Maudy lakukan. Kemudian membawanya ke wastafel untuk mencucinya
"ini udah selesai tante, apalagi yang bisa aku bantu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Denial
Fiksi PenggemarTentang Gita, yang merasakan perasaan aneh setiap berada di dekat Kathrina. Akankah mereka menyadari perasaan berbeda itu?
