"takuutttt" jantung Kathrina berdebar, ini pertama kalinya ia menaiki kuda. Meskipun dituntun oleh ahlinya, tetap saja ia masih kagok berada di atas punggung kuda itu
"gapapa, pegang talinya" ucap Gita menenangkan. Ia menaiki kuda hitam yang tadi ia inginkan
Setelah beberapa saat Kathrina menyesuaikan, akhirnya ia menemukan keberaniannya. Ia mulai menikmati semilir angin pantai yang menerpa wajah cantiknya. Rambut panjangnya terkibas, menambah kesan menawan yang terpancar pada parasnya
Sepasang kuda yang mereka naiki berjalan dengan beriringan. Gita terus menampakkan senyum indahnya sedari tadi. Ia tampak sangat menikmati liburannya bersama orang yang belum genap setahun ia temui itu
"Kath" ia sedikit berteriak supaya suaranya tak hilang terbawa oleh angin
"apa?" tanya Kathrina dengan mengimbangi suara Gita
"makasih ya, ini salahsatu impian aku yang belum sempet terlaksana" Ucap Gita dengan nada penuh ketulusan
"anything for you, ka Gita" Kathrina memberikan senyum terbaiknya. Ia ikut senang melihat kebahagiaan ka Gitanya
Hingga dua puluh menit berlalu, waktu sewa mereka sudah habis. Mereka turun dengan menerima uluran tangan dari si pemilik kuda. Senyum cerah tak bisa lepas dari wajah Gita. Ia menghampiri Kathrina yang tengah membayar uang sewa. Setelah makan tadi, ia sempat berdebat kecil dengan Kathrina tentang pembayaran ini. Kathrina mengancam jika Gita tetap kekeh untuk membayar sendiri, maka ia tak jadi untuk ikut berkuda. Gita yang tak enak jika meninggalkan Kathrina sendiri, jadi mau tak mau ia menuruti kemauannya. Di sisi lain, Kathrina berpikir bahwa ialah yang mengajak Gita untuk liburan ini, jadi ia yang harus bertanggung jawab atas segalanya
"ada yang cerah tapi bukan matahari" celetuk Kathrina sambil berjalan beriringan
"apatuh?" tanya Gita menanggapi
"senyumanmu" Kathrina bersemu akibat gombalannya sendiri. Gita hanya tertawa geli mendengarnya
•••
Dua gadis yang sedari pagi berada di tempat itu, saat ini tengah terduduk berdampingan di atas pasir pantai dengan pandangan yang menatap lurus ke depan. Melihat mentari yang sepanjang hari ini memberikan panas dan cahayanya, kini mulai tenggelam. Membiarkan sang rembulan untuk mengambil alih tugasnya, sebagai tanda bahwa malam telah tiba
Semilir angin dan deru ombak menjadi saksi betapa kagumnya Kathrina pada sang senior. Jantung yang berdegup dengan tak semestinya menandakan bahwa ada rasa lain yang masih ia kubur dalam lubuk hatinya
"pulang yuk!" Kathrina menoleh pada wanita cantik di sampingnya
"ayo! Aku yang nyetir ya kali ini" Gita menawarkan
"gapapa aku aja" Kathrina menolak tak enak
"aku tau kamu capek. Udah, sini kuncinya"
Kathrina menghela napas. Jujur apa yang dikatakan Gita ada benarnya. Ia memang sedikit kelelahan seharian ini. Tapi bukankah Gita juga memiliki kegiatan yang sama dengan dirinya? Apa ia tidak lelah? Batin Kathrina bermonolog. Namun sepertinya Gita tak menerima penolakan apapun darinya. Jadi ia merogoh tasnya, dan memberikan kunci pada Gita. Mereka berjalan beriringan ke parkiran yang jaraknya lumayan dari tempat mereka sekarang
BMW i7 Mineral White Metallic yang dikendarai Gita melaju di bawah gelapnya langit malam, membawa sang pemilik kendaraan di sampingnya
"malem ini nginep ya?" tanya Kathrina menoleh ke arah Gita
KAMU SEDANG MEMBACA
Denial
Hayran KurguTentang Gita, yang merasakan perasaan aneh setiap berada di dekat Kathrina. Akankah mereka menyadari perasaan berbeda itu?
