°~° °~° °~°
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku.. adalah alpha yang mengklaim kaa-san.." Satu kalimat lolo begitu saja di bibir Kiyoomi.
Atsumu menegang, bibir nya berubah pucat, kepalanya terasa pusing, kenyataan yang baru saja menghantam Atsumu bagaikan bongkahan batu yang sengaja di lempar ke dadanya.
Merasakan tidak ada kata yang keluar dari bibir Atsumu, Kiyoomi menghela nafas, mengeratkan pelukannya, jika tadi Atsumu yang tidak ingin Kiyoomi kabur, sekarang Kiyoomi yang tidak akan membiarkan Atsumu kabur.
"Tsumu?..." Panggilan pelan dari Kiyoomi membuat Atsumu semakin menegang, satu kata pun tidak bisa keluar.
Atsumu selalu merutuki takdirnya, dan Alpha dominan yang mengubahnya dengan sesuka hati menjadi seorang Omega, Menahan rasa sakit setiap kali heat tiba, dan gejala sakit pada tengkuknya karena acara klaim tidak sepenuhnya terselesaikan sempurna.
Jiwa omega Atsumu seperti di sangkar di kegelapan, heat datang menyerang, Omega itu meronta ronta di jeruji besi yang bagaikan adalah jantung Atsumu.
'Lepaskan aku.. berikan aku alpha itu..'
Sakit, Jantung terasa di cabik habis-habisan, tengkuk terasa panas seperti terbakar, Atsumu sangat membenci bajingan yang membuatnya tersiksa selama 16 tahun ini, sebulan sekali Atsumu merasa seperti di bakar api, menahan semua rasa sakitnya.
Atsumu tidak menyangka, orang yang dia sumpah serapahi setiap kali heat menyerang adalah malaikat kecilnya yang selalu dia sayangi, takdir begitu lucu mempermainkan emosi Atsumu seperti ini.
Dan terakhir kali Atsumu merasakan sakit itu saat kemarin, dimana kejadian yang hanya di ketahui olsh Kiyoomi terjadi.
Secara mendadak Atsumu memukul bahu Kiyoomi meronta dalam pelukannya, Atsumu berteriak keras.
"LEPASKAN AKU! LEPASKAN!" Atsumu meronta, Air mata tak terbendung mengalir di pipinya, Dadanya terasa sesak, dia belum mampu menerima kenyataan itu.
Kiyoomi menutup matanya, mengeratkan pelukannya menahan sakit pukulan Atsumu.
"Tenanglah.. aku tidak akan pergi jika Kaa-san tidak tenang." Ucap Kiyoomi kekeh.
Atsumu berteriak, melampiaskan semua beban yang dirinya tanggung selama bertahun - tahun, bibirnya tidak berhenti mengeluarkan sumpah serapah nya, Kiyoomi tetap diam, mengelus punggung Atsumu menerima semua amukan Atsumu.
Di kamar sunaosa.
Mendengar informasi bahwa Kiyoomi yang menjadi tersangka utamanya, Osamu meronta ingin memukul pria itu yang membuat kakaknya tersiksa, merasakan menjadi Atsumu membuat hatinya pedih.
"OSAMU! TENANGLAH!" Bentakan dari Rintarou berhasil membuat Osamu terdiam.
Rintarou mengelus rambut Osamu, menangkup wajahnya untuk menatap tepat pada iris abu abu milik Osamu.
"Dengar.. ini bukan salahnya."
"LALU SALAH SIAPA?! DIA-"
"Hey hey hey, samu samu, Kiyoomi itu anak kecil.. Dia sendiri juga tidak mengetahui hal itu, Itu terjadi saat dia bahkan belum bisa merangkak, ingat? Dia sekarang masih 16 tahun.. dia baru memasuki masa remajanya, tidak seharusnya dia mendapatkan masalah sebesar ini, dia hanya si germaphobia kecil yang selalu mengeluh tentang kebersihan, kiyoomi tetap kiyoomi, dia tidak melakukan hal itu dengan keinginan nya." Penjelasan panjang lebar dari Rintarou membuat Osamu terdiam.
Osamu memeluk tubuh Rintarou, menangis pelan di bahu Rintarou.
"Sekarang kamu bicara sama tsumu, bicarakan baik baik, dia membutuhkanmu saat ini." Osamu mengangkat wajahnya menatap Rintarou yang tersenyum.
Rintarou terkekeh melihat ekspresi lugu Osamu, menunduk mengecup pipi gembulnya berakhir mencium bibir manis Osamu pelan.
°~° °~° °~°
Kiyoomi mengacak surainya, duduk di ruang tamu, setelah Atsumu tenang, Atsumu memohon untuk Kiyoomi meninggalkannya sendiri, Kiyoomi menyetujuinya untuk memberikan ruang bagi Atsumu menenangkan dirinya.
Rintarou yang berkeliling mencari Kiyoomi, melihat pemuda itu sedang duduk di ruang tamu, Rintarou berjalan mendekat lalu duduk di samping Kiyoomi, Kiyoomi tidak menoleh karena tahu siapa yang akan menemuinya di tengah tengah depresi seperti ini selain Atsumu, Rintarou menjadi sosok penting yang berperan bagai ayah bagi Kiyoomi.
"Semuanya jadi kacau ya?" Ucap Rintarou terkekeh, Kiyoomi tetap diam lalu menoleh menatap Rintarou.
"Bagaimana sekarang paman?" Tanya Kiyoomi menatap Rintarou dengan wajah tertekan.
"Kau memang benar benar masih Kiyoomi kecil." Gumam Rintarou tersenyum, sebesar apapun Kiyoomi, dia masih lah anak kecil pada umumnya, remaja Sma yang masih perlu di bimbing.
"Itu tidak apa apa, semuanya akan baik baik saja, kau hebat tidak goyah di depan Atsumu." Jawab Rintarou.
"Dia ibuku-"
"Ibu angkatmu. Kalian tidak terikat darah, dan memang di buku takdir, kamu di takdir kan untuknya." Jelas Rintarou memotong ucapan Kiyoomi.
"Ini salahku-"
"Tidak ada orang yang ingin masalah ini terjadi padanya, kamu bukan anak ajaib yang langsung mengerti apa yang telah kamu perbuat saat kamu bahkan baru beberapa bulan melihat dunia."
"Apa kaa-san akan membenciku?"
"Itu tergantung bagaimana kamu bertindak, lakukanlah dengan bijak kiyoomi, datang padaku jika kamu bimbang, aku akan membimbingmu." Kiyoomi tersenyum kecil dan mengangguk.
"Terima kasih."
"Apa yang akan kamu lakukan terlebih dahulu?" Tanya Rintarou menatap Kiyoomi.
"Meminta restu kepada kakek dan nenek, dan meminta maaf atas semuanya." Jawab Kiyoomi berdiri untuk pergi menemui sang kakek dan neneknya.
"Itu keponakan kebanggaanku."
Di kamar Atsumu
Atsumu sedang bersandar di pelukan Osamu, tangan Osamu terus mengelus rambut Atsumu yang masih terisak kecil.
"Apa yang harus aku lakukan samu?" Tanya Atsumu parau.
"Bodoh, kau bukan anak kecil lagi, sadarilah umurmu." Gumam Osamu pelan.
"Kau menindasku."
"Ya aku menindasmu. Jadi? Apa kau membenci nya?" Pertanyaan Osamu membuat Atsumu terdiam.
"Aku membenci Alpha itu, tapi aku tidak membenci Omi..." Osamu bersenandung pelan.
"Dengar, kau dan kiyoomi hanya sebatas ibu anak angkat, kalian tidak memiliki ikatan darah, kau dan dia memang di takdirkan seperti ini." Jelas Osamu.
Atsumu diam, Osamu benar, Omi kecilnya itu tidak salah, salahkan takdir yang menjodohkan mereka dengan cara yang bejat.
"Aku baru tahu kau bisa berfikir samu." Ucap Atsumu pelan.
"Aku masih memiliki otak, memangnya kamu." Atsumu mendengus.
Tangannya refleks mengeratkan pelukannya pada Osamu.
"Tetap seperti ini beberapa saat."
"Hm, aku disini tsumu."
......
aakkhhh suna grinplek bangeetttttt aaaaa maw juga punya suami kayak sunaaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Bocah (SakuAtsu)
RomansaPenasaran? baca🗿 Author gak terlalu bisa deskripsi in nya:)
