Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

39 - KECELAKAAN TUNGGAL

942 124 276
                                        

HAPPY READING!💗

oOo

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di parkiran apartemen. Sepasang suami istri turun dan langsung berjalan memasuki lobi. Setelah bertanya kepada resepsionis, keduanya masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 7. Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka dan mereka berjalan menghampiri kamar nomor 715.

Tok tok tok...

Damar mulai mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu tersebut terbuka dan menampilkan seorang wanita dengan wajah sedikit pucat. Wanita itu menyuruh agar keduanya masuk ke dalam dan duduk di sebuah sofa.

"Kamu lagi sakit, Rin?" tanya Damar setelah duduk.

"Iya, tapi nggak papa kok. Oh iya, sebentar. Zidny, bikinin minuman!" perintah Erina kepada putrinya yang sedang bermain ponsel.

Zidny segera meletakkan ponselnya dan berjalan menuju dapur untuk membuat teh manis hangat.

"Maaf jadi ngerepotin," ujar Livia.

"Nggak ngerepotin kok. Kamu Livia, ya?" tanya Erina.

"Iya."

"Maafin aku ya, Mbak. Ini semua bukan kemauan aku. Waktu itu aku dipaksa agar mendekati Mas Damar," jelas Erina.

Livia mengerutkan keningnya. "Siapa yang maksa kamu?"

"Orang tua aku. Jadi, aku itu bukan dari keluarga berada. Makanya, orang tua aku nyuruh deketin Mas Damar supaya dapat uangnya. Tapi, aku nggak nyangka kalo bisa sampai ada Zidny," terang Erina.

Livia langsung menatap suaminya, lalu kembali menatap Erina. Ketiganya terdiam canggung, hingga akhirnya Erina kembali membuka suara.

"Aku benar-benar minta maaf. Kalo mau nampar atau pukul aku, silakan," ujar Erina.

"Enggak, Erina. Lagi pula, semua ini udah terjadi. Aku udah maafin kalian," jelas Livia.

Erina menarik senyumnya, lalu berkata, "Terima kasih."

Livia hanya mengangguk seraya tersenyum tipis. Kini, tatapannya tertuju pada gadis yang membawa sebuah nampan.

"Papa, Tante, ini tehnya diminum dulu," ucap Zidny setelah meletakkan 3 gelas teh hangat.

Livia memandang Zidny dalam. "Nama kamu siapa, Nak?"

"Zidny, Tante."

"Kamu umur berapa?"

"Lima belas tahun," jawab Zidny.

"Mas Damar, besok kita mau pulang," ujar Erina tiba-tiba.

"Pulang ke mana?" tanya Livia.

"Ke kota asal kita di Semarang. Orang tuaku sudah rindu dengan Zidny," terang Erina.

"Baiklah. Mungkin kalian mau kemas-kemas, kalau begitu kita pamit," ujar Damar.

Zidny segera memeluk Damar. "Papa, sesekali kunjungi Zidny di Semarang, ya?"

"Pasti, Sayang. Papa akan sempetin waktu buat ketemu kamu," balas Damar.

Sepasang suami istri itu meminum teh yang telah Zidny buat, lalu berjalan keluar setelah berpamitan kepada pemilik kamar.

"Kamu cemburu?" tanya Damar setelah memasuki lift.

Livia memutar bola matanya malas. "Pikir sendiri!"

"Maafin aku, Bunda," ucap Damar seraya memeluk istrinya.

Livia membalas pelukan Damar, tetapi masih dengan wajah cemberutnya. Kalau Livia tidak menyayangi suaminya, mungkin dia tidak akan cemburu. Tetapi, Livia sangat menyayangi suami dan kedua putranya. Makanya, dia mempertahankan pernikahannya yang hampir berusia 19 tahun itu.

CANDYTUFT [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang